Baterai Sebagai Simbol Paradoks Zaman Modern, Antara Energi Bersih dan Limbah Berbahaya
Baterai membawa twist yang membingungkan. Apa yang harus dilakukan setelah baterai rusak atau mati?

By Yani Andriyansyah 28 Jan 2026, 21:07:51 WIB Lingkungan
Baterai Sebagai Simbol Paradoks Zaman Modern, Antara Energi Bersih dan Limbah Berbahaya

Keterangan Gambar : Ilustrasi dilema penggunaan baterai antara energi terbarukan dan limbah berbahaya yang dapat ditimbulkan (gambar dibuat menggunakan AI)


Saat ini dunia perlahan-lahan beralih ke energi yang lebih bersih. Pemanfaatan baterai sebagai pengganti bahan bakar fosil terus dikembangkan untuk digunakan pada kendaraan listrik. Tak hanya itu, penggunaan baterai juga semakin masif pada perangkat elektronik dan gawai. 


Tetapi di sisi lain, baterai juga membawa twist yang membingungkan. Apa yang harus dilakukan setelah baterai rusak, mati, atau berakhir masa pakainya? Tidak jarang kita harus mengganti baterai pada smartphone atau alat elektronik dalam kurun waktu tertentu. Lantas dikemanakan baterai yang sudah tidak terpakai tersebut? 

Baca Lainnya :


Baik yang sekali pakai, dapat diisi ulang, atau dari kendaraan, tidak semua baterai dapat didaur ulang. Juga tidak sesederhana membuangnya ke tempat sampah pinggir jalan. Di beberapa negara di dunia, termasuk Indonesia, baterai yang dibuang dianggap sebagai limbah berbahaya. Karena itu ilegal untuk dibuang ke tempat sampah. 


Sebab, sebagian besar baterai mengandung kobalt, nikel, mangan, dan logam berat lainnya yang berpotensi beracun. Karena itu ketika dibuang sembarangan di tempat sampah, bukan tidak mungkin logam-logam berat itu keluar (bocor) dan mencemari air minum atau lingkungan alam sekitarnyaTentu saja hal itu cukup mengkhawatirkan, mengingat hanya 10% dari baterai yang digunakan dapat didaur ulang. 


Ada juga baterai yang dibuat menggunakan campuran unsur kimia dan logam yang berbeda seperti merkuri, timbal, kadmium, nikel, dan perak. Semua bahan ini dapat menimbulkan ancaman bagi kesehatan manusia atau lingkungan ketika dikelola dengan tidak benar.


Untuk mendaur ulang baterai melibatkan proses yang disebut reklamasi logam suhu tinggi,di mana baterai disortir, dipotong, dilelehkan, dan logam diekstraksi. Baterai alkali atau seng-karbon, bahan-bahannya dihancurkan untuk memisahkan kertas, plastik, dan logam. Bahan-bahan tersebut kemudian digunakan untuk membuat baterai atau produk baru. Tapi tentu saja proses ini tidak semudah membalik telapak tangan. Dibutuhkan teknologi dan infrastruktur pengolahan limbah yang sangat mumpuni.   


Baterai Sekali Pakai dan isi Ulang


Sebelum tahun 1996, baterai sekali pakai mengandung merkuri. Karena itu diperlakukan sebagai limbah berbahayaSaat ini, rata-rata, baterai alkaline seperti baterai jenis AAA, AA, C, dan D yang biasa digunakan untuk remote atau main anak, umumnya terbuat dari baja dan kombinasi seng, mangan, kalium, grafit, kertas, dan plastik—semuanya, secara teori, dapat didaur ulang. Tetapi kembali kepada persoalan bagaimana proses daur ulang dilakukan. 


Sejatinya, baterai litium sekali pakai sudah ada sekitar 40 tahun lalu. Menjadi semakin populer karena bobotnya yang lebih ringan dan output energi yang lebih tinggi dan lebih lama. Hal yang sama juga berlaku untuk baterai seng berbentuk cakram mengkilap yang biasanya digunakan pada jam tangan.


Tidak seperti baterai sekali pakai, baterai isi ulang (yang dapat ditemukan di ponsel, laptop, peralatan, kamera digital, dan alat-alat listrik) tidak boleh dibuang di tempat sampah rumah tangga. Sebab,baterai jenis ini lebih mungkin mengandung logam berat yang sangat berbahaya bagi lingkungan.


Baterai Kendaraan


Seperti baterai untuk keperluan rumah tangga, baterai kendaraan biasanya dapat didaur ulang melalui produsen mobil ketika mencapai akhir masa pakainya. Tetapi, karena teknologi berubah sepanjang waktu, baterai kendaraan menjadi semakin efisien.


Pada Maret 2021, sebuah proyek yang didanai Toyota Research Institute menggabungkan pembelajaran mesin dengan pengetahuan yang diperoleh dari fisika eksperimental untuk membantu memahami masa pakai baterai lithium-ion pengisian cepat yang dipersingkat. Tujuannya adalah untuk mengembangkan baterai kendaraan listrik yang tahan lama dan dapat diisi hanya dalam 10 menit. 


Lalu pada Mei di tahun yang sama, para peneliti Harvard merancang baterai lithium-metal yang stabil yang dapat diisi dan dikosongkan setidaknya 10.000 kali, sebuah teknologi yang dapat meningkatkan masa pakai kendaraan listrik tanpa perlu mengganti baterai.


Menurut sebuah studi tahun 2014 di Sustainable Energy Technologies and Assessments, menggunakan kembali baterai kendaraan listrik (EV) ketika telah mencapai akhir masa pakainya dapat mengurangi emisi CO2 sebesar 56% dibanding menggunakan bahan bakar gas alam untuk pembangkit tenaga listrik.


Nah ketika kita memilih menyimpan baterai yang sudah tidak bisa digunakan, luangkan waktu untuk menyiapkannya dengan meletakkan sepotong selotip bening non-konduktif pada terminal negatif dan positif baterai dan simpan di dalam kantong plastik atau wadah kardus yang tidak menghantarkan listrik. Cara ini perlu dilakukan agar tidak terjadi percikan api. 


Pada akhirnya, baterai adalah simbol paradoks zaman modern: di satu sisi menjadi kunci transisi menuju energi bersih, di sisi lain menyimpan potensi ancaman serius bagi lingkungan jika limbahnya diabaikan. Tantangannya bukan pada penggunaan baterai itu sendiri, melainkan pada bagaimana manusia mengelolanya secara bertanggung jawab—mulai dari produksi, pemakaian, hingga daur ulang. Tanpa kesadaran dan kebijakan yang tepat, solusi energi bersih hari ini bisa berubah menjadi masalah lingkungan di masa depan.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment