Merajut Kembali Ingatan Kolektif Taman Ismail Marzuki Sebagai Ruang Seni dan Kebudayaan Indonesia
FRONT Penggerak Seni Taman Ismail Marzuki (TIM) mengundang seluruh seniman, budayawan, sastrawan, pekerja budaya, akademisi, mahasiswa, komunitas, media massa, dan masyarakat luas untuk hadir serta berpartisipasi dalam rangkaian kegiatan pada 25–26 Juli 2026.
Aksi budaya dan konsolidasi seniman yang nantinya terkonsentrasi di kawasan TIM, Jakarta ini, sebuah bentuk kepedulian bersama dalam menjaga dan mengembalikan marwah TIM sebagai pusat kesenian dan kebudayaan Indonesia.
Selama dua hari pelaksanaan akan berlangsung berbagai agenda budaya, antara lain karnaval keranda sebagai simbol matinya ruang berkesenian, aksi budaya, orasi kebudayaan, mimbar bebas, pembacaan puisi, pertunjukan musik, teater, pembacaan pernyataan sikap, doa bersama, serta konsolidasi lintas komunitas seni.
Seluruh rangkaian kegiatan dirancang sebagai bentuk partisipasi publik sekaligus ekspresi artistik dalam memperjuangkan TIM sebagai ruang kebudayaan yang hidup, demokratis, dan berpihak kepada ekosistem seni.
Kegiatan ini juga menjadi ruang dialog, serta penyampaian aspirasi para seniman, budayawan, sastrawan, pekerja budaya, akademisi, mahasiswa, dan komunitas seni yang memiliki kepedulian terhadap masa depan TIM sebagai pusat kebudayaan Indonesia.
Front Penggerak Seni TIM menegaskan pentingnya mengembalikan ruh TIM sebagai ruang yang hidup, terbuka, inklusif, dan berpihak kepada ekosistem seni budaya.
Melalui aksi budaya ini, Front Penggerak Seni TIM berharap lahir kesadaran bersama bahwa menjaga TIM bukan hanya menjaga sebuah kawasan, melainkan menjaga memori, sejarah, identitas, dan masa depan kebudayaan Indonesia.
Diketahui, Front Penggerak Seni Taman Ismail Marzuki (FPS TIM) lahir sebagai hasil rembuk bersama para seniman, budayawan, sastrawan, pekerja seni dan budaya, dan lintas komunitas dalam forum “Ngopi Ngerumpi MPSI: Segelas Kopi untuk Menghidupkan Kembali Ruang Seni TIM”, di pelataran Taman Ismail Marzuki, pada 18 Juli 2026.
Forum ini terbentuk dari kegelisahan yang sama atas semakin menyempitnya ruang hidup seni dan budaya di TIM. Forum ini juga menjadi momentum kesepahaman bersama untuk membangun gerakan kolektif dalam mengawal masa depan TIM, agar tetap menjadi rumah yang berpihak kepada seniman, komunitas, serta kebebasan berkesenian.
Para pelaku seni memandang bahwa TIM bukan sekadar kawasan dengan bangunan fisik yang megah, melainkan sebuah ruang sejarah, ruang penciptaan, ruang pendidikan, ruang dialog, ruang eksperimen artistik, ruang regenerasi, dan rumah kebudayaan yang telah melahirkan banyak karya serta tokoh penting dalam perjalanan seni Indonesia.
Keberadaan TIM harus dimaknai sebagai ruang publik kebudayaan yang memberi kesempatan seluas-luasnya kepada seniman dan komunitas untuk berkarya, berekspresi, berdiskusi, serta membangun peradaban melalui seni dan kebudayaan.
Berangkat dari kesadaran itu, Front Penggerak Seni TIM menyatakan dengan tegas penolakan terhadap model pengelolaan TIM yang dikuasai oleh JAKPRO, yang dinilai semakin mengedepankan komersialisasi dan menggeser fungsi utama TIM sebagai pusat penciptaan, pengembangan, apresiasi, dan pendidikan seni budaya.
Menurut Front Penggerak Seni TIM, arah pengelolaan tersebut belum menunjukkan keberpihakan yang memadai terhadap kebutuhan seniman, pekerja budaya, dan komunitas seni yang sejak lama menjadikan TIM sebagai ruang berkarya, berdialog, bereksperimen, dan melakukan regenerasi kebudayaan.
Maka itu, Front Penggerak Seni TIM menolak keras komersialisasi Taman Ismail Marzuki yang dilakukan JAKPRO karna telah menggeser fungsi utama TIM sebagai pusat kesenian dan kebudayaan.
Bagi Front Penggerak Seni TIM, dalam kawasan TIM yang kini berdiri bangunan kokoh, tidak semestinya diposisikan terutama sebagai kawasan yang semata berorientasi pada aktivitas komersial.
TIM harus dikembalikan marwahnya sebagai rumah bersama bagi para seniman, budayawan, sastrawan, pekerja budaya, akademisi, mahasiswa, dan masyarakat untuk mencipta, berekspresi, berdialog, melakukan pendidikan seni, serta membangun kehidupan kebudayaan Indonesia.
Front Penggerak Seni TIM mendesak agar dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola TIM yang dikuasai JAKPRO. sehingga arah kebijakan ke depan benar-benar berpijak pada kepentingan pengembangan seni, pelestarian kebudayaan, keberlangsungan ekosistem kreatif, serta perlindungan terhadap ruang hidup para seniman dan komunitas budaya.
TIM harus tetap menjadi rumah yang terbuka bagi seluruh insan seni, tempat lahirnya gagasan-gagasan baru, ruang perjumpaan lintas generasi, serta pusat kreativitas yang bebas, kritis, dan bermartabat.
Jejak Panjang Taman Ismail Marzuki
Berakar dari keinginan luhur untuk memberikan ruang bagi seniman dan budayawan Indonesia,
Taman Ismail Marzuki (TIM) menjadi saksi bisu dari gemuruh kreativitas dan karya seni yang tak pernah padam.
Ibarat telaga, TIM senantiasa mengalirkan kesejukan mata air di tengah dahaga warga ibu kota Jakarta. Dan kini, dalam kawasan pusat kesenian dan kebudayaan ini berdiri bangunan megah, yang di baliknya tersimpan sejuta kenangan dan cerita panjang tentang perjalanan bangsa dalam merayakan seni dan kebudayaan.
Diketahui, pada tanggal 10 November 1968, TIM mulai menorehkan jejaknya. Gagasan untuk mendirikan pusat kesenian ini tercetus dari seorang pemimpin yang visioner, Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin, yang melihat perlunya sebuah tempat suci bagi seni dan budaya.
Ali Sadikin, dengan pandangan jauh ke depan, ingin menghadirkan sebuah tempat di mana seniman-seniman Indonesia dapat berkarya dan berkolaborasi tanpa batas. Nama “Ismail Marzuki” dipilih untuk menghormati seorang komponis dan musisi legendaris yang telah menaburkan benih-benih cinta tanah air melalui musiknya.
Ismail Marzuki, dengan karya dan iramanya yang menggugah jiwa, telah meninggalkan warisan abadi yang membangkitkan semangat nasionalisme di hati setiap pendengarnya. Selaras dengan semangat Ismail Marzuki itulah, kawasan TIM yang dulunya bekas kebun binatang, disulap menjadi ruang publik untuk menggugah jiwa-jiwa berkesenian anak-anak bangsa.
Sejak hari kelahirannya, TIM telah dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang dirancang untuk memeluk seni dan budaya dengan sepenuh hati. Kompleks ini menampung gedung teater yang megah, galeri seni nan memukau, ruang pameran yang menawan, serta perpustakaan yang penuh dengan khazanah pengetahuan.
Dalam beberapa tahun terakhir, TIM telah melalui berbagai tahap renovasi untuk menyelaraskan diri dengan kebutuhan zaman yang terus berubah. Renovasi ini tidak hanya meningkatkan fasilitas dan layanan, tetapi juga membuat tempat ini semakin nyaman dan ramah bagi pengunjung dan seniman.
Semua ini didedikasikan untuk mengembangkan dan merayakan ragam seni dan budaya yang ada. TIM menjadi arena bagi pementasan teater yang menggetarkan, konser musik yang memukau, pameran seni rupa yang memanjakan mata, diskusi budaya yang mendalam, serta festival film yang mencuri perhatian.
Seiring berjalannya waktu, peran TIM dalam lanskap seni dan budaya Indonesia semakin mengemuka. TIM menjadi rumah bagi berbagai komunitas seni untuk berkumpul, berbagi ide, dan menciptakan sesuatu yang luar biasa.
Sebagai pusat kesenian, TIM bukan hanya tempat bagi seniman untuk memamerkan karya mereka, tetapi juga menjadi sekolah kehidupan bagi generasi muda yang haus akan ilmu dan seni. Di sini, mereka belajar dan menyerap pengalaman dari para maestro yang telah lebih dulu melangkah.
Melalui program-program yang penuh inspirasi, TIM telah mengangkat seni dan budaya Indonesia ke panggung dunia, memperkenalkannya kepada khalayak internasional. TIM bukan hanya kebanggaan Jakarta, tetapi juga kebanggaan seluruh bangsa Indonesia yang terus berkibar di kancah dunia.
Dengan sejarahnya yang kaya dan kontribusi yang tak ternilai bagi seni dan budaya, Taman Ismail Marzuki terus hidup sebagai ikon penting di Jakarta. Tempat ini berkomitmen untuk menjaga relevansinya sebagai pusat kesenian terkemuka di Indonesia, terus menyalakan obor kreativitas yang menembus batas waktu.
