Pesan Harmoni Kampung Patani Basis Hutan Mangrove, Kronjo Tangerang Banten
DI atas lumpur pesisir dengan embusan hangat angin laut, semangat gotong royong menyelimuti warga pesisir Desa Pagedangan Ilir, Kec Kronjo, Kabupaten Tangerang Banten, yang sejak pagi hingga siang hari itu, menanam 1.500 bibit pohon mangrove (bakau) dalam program bertajuk "Adopsi Pohon Gratis di Kampung Patani, 1 Orang Tanam 1 Pohon."

Baca Juga
Mengusung tema "Kampung Patani: Mangrove Lestari,
Masyarakat Pesisir Sejahtera, Untuk Masa Depan Lebih Baik" kegiatan ini
digagas Pandutani Indonesia (Patani), Direktorat Rehabilitasi Mangrove
Kementerian Kehutanan, Yayasan Sarana Wana Jaya, dan BP DAS Citarum Ciliwung.
Menggandeng masyarakat setempat yang tergabung dalam komunitas Mapuca (Mangrove Pulau Cangkir) yang dinahkodai Makhdis Adhari dan Sanggar Seni Mangrove Pulau Cangkir milik H Heru, Pandutani Indonesia bersama mitra menginisiasi aksi nyata pelestarian lingkungan pesisir itu.

Hadir Ketua Umum Patani, Sarjan Tahir; Ketua Umum Yayasan
Sarana Wana Jaya, Dr Imam Santoso; Ketua Umum Puskashut, Dr Ir Harry Santoso
IPU; Ketua Koperasi Indokopat Nusantara Sinergi yang juga Sestama Patani, Andi
Yazi; Panglima Kampung Patani, Marsda TNI (Purn) Gutomo SIP; dan Kepala BPDAS
Citarum Ciliwung, Heru Permana.
Lalu, Komandan Satuan Radar 401 Tanjung Kait diwakili Kapten Lek Yus Haesul Razak; Direktur Rehabilitasi Mangrove diwakili oleh Giri Sunyanta; perwakilan Camat Kronjo; Kades Pagedangan Ilir; Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan Pulau Cangkir, Sheyila Fabiola; Danramil 08/Kronjo; Kapolsek Kronjo; Ketua Mapuca (Mangrove Pulau Cangkir), Makhdis Adhari; dan Kepala RPH Tangerang Hery Heriana (Perhutani).

Lebih dari sekadar agenda seremonial, inisiatif program
penanaman mangrove ini dihadirkan dengan sentuhan humanis, yakni membangun
benteng alami guna melindungi permukiman warga dari ancaman abrasi.
Dengan menanam dan merawat mangrove, turut menjaga sumber
mata pencaharian nelayan lokal, menghadirkan Kampung Patani berbasis hutan
mangrove, menghidupkan desa wisata, serta meningkatkan kualitas hidup komunitas
masyarakat pesisir Banten, terutama di Kabupaten Tangerang.
Program "Adopsi Pohon Gratis di Kampung Patani, 1 Orang Tanam 1 Pohon" merupakan wujud konsistensi keberlanjutan yang telah digulirkan Patani, di mana setiap menghadirkan Kampung Patani diimbangi dengan penanaman pohon di wilayah sekitar.

Melalui program yang bisa diakses di marketplace
pataniku.com, Patani bersama mitra memastikan bahwa setiap langkah perluasan
jaringan konektivitas yang dibangun diimbangi dengan tumbuhnya tunas-tunas
hijau di alam, menciptakan keharmonisan dan pelestarian bumi.
"Kami ingin memastikan hadirnya Kampung Patani berjalan
seiringan dengan kelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan
masyarakat di sekitar," ujar Ketua Umum Patani Sarjan Tahir dalam
sambutannya.
Sarjan menyampaikan, bahwa Kampung Patani tidak hanya ada di Kecamatan Kronjo, Kabupaten Tangerang, tapi juga sudah tersebar hingga pelosok negeri yang diinisiasi baik perorangan maupun kelompok, dengan Pusat Pengendali Nasional (PPN) atau Pentagon Kampung Patani berada di Desa Cimande, Bogor, Jawa Barat.

PPN Kampung Patani yang dikomandoi Panglima Kampung Patani
Marsekal Muda (purn) TNI Gutomo diresmikan pada 2020 oleh Tokoh Muda Kampung
Patani, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang kini Menteri Koordinator
Infrastruktur dan Kewilayahan.
Kampung Patani, Konsep Membangun Suatu Kawasan
Berbasis Pertanian
Secara spesifik Kampung Patani adalah konsep membangun suatu kawasan berbasis pertanian dalam arti luas (tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan dan kehutanan) secara terpadu, ramah lingkungan (berkelanjutan/sustainable) dan memberi nilai tambah, yang mampu menyejahterahkan petani, nelayan, dan pelaku UMKM di kawasan tersebut.

Suatu kawasan pedesaaan, pesisir, bahkan perkotaan dapat
diusulkan menjadi Kampung Patani, dan tentunya ada sejumlah kriteria, salah
satunya jika suatu kawasan itu memiliki kelompok petani/peternak/nelayan
dan/atau koperasi, dan UMKM yang melakukan usaha budidaya/usaha tani tanaman
pangan, perkebunan, hortikultura, peternakan, perikanan dan kelautan,
perhutanan sosial serta usaha pengolahan dan pemasarannya.
Pada aspek ekonomi, Kampung Patani ini nantinya menjadi sumber kesejahteraan dan mampu mengatasi kesenjangan ekonomi. Juga sebagai sumber pangan masyarakat sekaligus sumber pendapatan negara. "Adapun aspek sosialnya, tumbuhnya masyarakat yang mandiri dan berkarakter, berkembangnya budaya hidup yang peduli lingkungan (green economy). Aspek lainnya, penggalangan komunitas petani, nelayan, UMKM lebih mudah terjangkau oleh giat Kampung Patani," pungkas Sarjan.

Sementara itu, mewakili Direktorat Rehabilitasi Mangrove
Kementerian Kehutanan, Giri Sunyanta menjabarkan, detil data ekosistem Mangrove
di Provinsi Banten berdasarkan Peta Mangrove Nasional (PMN) tahun 2024. Luas
ekosistem mangrove kisaran 11.875 ha, terdiri dari berhutan eksisting mangrove
1.732 ha; dan tidak lagi berhutan sebagai potensial habitat mangrove 10.143 ha.
Adapun konsen di luar kawasan hutan negara (APL) untuk prioritas rehabilitasi/penghijauan/penanaman berikut pendampingan kepada kelompok tani atau kelompok nelayan. Untuk konsen di Kawasan Hutan Negara ditempuh perlindungan kawasan, menjaga eksisting mangrove, reboisasi dalam rangka pemulihan kawasan hutan oleh pemangku kawasan bekerja sama dengan pemerintah desa setempat maupun LMDH/KTH.

"Kemudian mendorong sinergi kolaborasi melalui wadah
Kelompok Kerja Mangrove Daerah (KKMD) tingkat provinsi guna pemetaan peran,
berbagi peran, sharing dana Patani, Yayasan Sarana Wana Jaya dan NGO
lainnya, yang berperan di mana pun, baik dalam maupun luar kawasan hutan,
melalui KKMD cq. Dinas Kehutanan cq. BPDAS Citarum Ciliwung, dalam rangka
rehabilitasi hutan lahan mangrove berikut pemanfaatannya non timber forest
product (hasil hutan bukan kayu)," papar Giri.
Setali tiga uang, petani mangrove sekaligus pemilik Sanggar
Seni Mangrove Pulau Cangkir, H Heru menyambut baik serta mengapresiasi komitmen
dan inisiatif nyata yang dihadirkan oleh Patani bagi masyarakat pesisir Pulau
Cangkir dan sekitarnya.
Ia mengenang, jaman dulu ayahnya seorang Mantri Mangrove, yakni orang yang menjaga dan merawat hutan mangrove di kawasan Pulau Cangkir dan sekitarnya. "Mangrove adalah penjaga kita. Ia menahan abrasi, ia meredam gelombang dan rob, ia menjadi rumah bagi ikan, kepiting, dan biota laut yang menjadi sumber penghidupan nelayan," kata H Heru.

"Bahkan, satu hektar mangrove mampu menyerap karbon 4-5
kali lebih banyak dari hutan tropis biasa. Menanam mangrove berarti kita sedang
berinvestasi untuk masa depan wilayah pesisir yang tangguh terhadap perubahan
iklim," sambung H Heru.
Ia juga menaruh harapan agar gerakan seperti ini terus
digalakkan di Pulau Cangkir dan desa-desa lainnya. "Mari kita jadikan
mangrove sebagai identitas baru kebanggaan Pulau. Dari mangrove kita jaga
lingkungan, dari mangrove kita kuatkan ekonomi nelayan, dan dari mangrove kita
wariskan harapan untuk anak cucu kita," katanya.
Guna memastikan pelaksanaan dan perawatan mangrove berjalan
optimal di lapangan, Patani menggandeng masyarakat setempat sebagai mitra
pelaksana kegiatan. Kolaborasi pentahelix menjadi unsur keberhasilan program
ini, di mana pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan media saling
berpartisipasi. Pemerintah memberikan dukungan kebijakan, sementara Patani
bersama mitra menjadi inisiator serta pelaksana program.
"Mari kita perkaya kembali hutan mangrove di wilayah
pesisir Banten, terutama Kabupaten Tangerang. Malah saya punya harapan, bagaimana nantinya setiap PNS di Provinsi Banten menanam 1 mangrove," kata Kepala Kanwil Patani
Provinsi Banten yang juga anggota DPRD Banten, H Asep Hidayat. (hendri irawan)
