Logo Porosbumi
28 Agu 2026,
28 August 2026
LIVE TV

Buka Muktamar ke-35 NU, Presiden Gaungkan Jas Hijau: Jangan Sekali-Sekali Hilangkan Jasa Ulama

PorosBumi 28 Agu 2026, 20:03:18 WIB
Buka Muktamar ke-35 NU, Presiden Gaungkan Jas Hijau: Jangan Sekali-Sekali Hilangkan Jasa Ulama

PRESIDEN Prabowo Subianto menyampaikan penghormatan mendalam kepada para kiai dan ulama atas jasa serta peran besarnya dalam perjalanan bangsa Indonesia.

Penghormatan tersebut disampaikan Kepala Negara saat menghadiri sekaligus meresmikan pembukaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Lapangan Untung Surapati, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur, pada Kamis (27/08/2026).

Muktamar kali ini mengusung tema “Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmah untuk Kemaslahatan Bangsa.” Dalam sambutannya, Presiden Prabowo mengingatkan kembali peran penting para ulama, kiai, dan pesantren dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Menurut Presiden, meski kemerdekaan Indonesia diproklamasikan di Jakarta, perjuangan mempertahankan kemerdekaan mendapatkan salah satu ujian terbesarnya dalam pertempuran di Surabaya pada 1945.

“Saya ingin menyampaikan penghormatan saya kepada para Kiai dan Ulama. Karena kemerdekaan bangsa Indonesia memang diproklamasikan di Jakarta. Tapi kemerdekaan bangsa Indonesia diuji di Surabaya. Dan dalam pertempuran Surabaya, Oktober, November 1945, peran dari Ulama, peran dari Kiai-Kiai, peran daripada pesantren sangat besar,” ujar Presiden.

Dari sejarah perjuangan tersebut, Presiden Prabowo kemudian memperkenalkan istilah “Jas Hijau”. Ungkapan itu disampaikan dengan merujuk pada “Jas Merah” yang dikenal sebagai pesan Bung Karno untuk tidak pernah melupakan sejarah. Melalui “Jas Hijau”, Presiden Prabowo mengajak seluruh bangsa Indonesia untuk senantiasa mengingat jasa para ulama.

“Karena itu, saya ingin kalau pernah, kalau tidak salah Bung Karno ya, mengatakan jas merah. Jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Saya ingin menyampaikan jas hijau. Jangan sekali-sekali melupakan jasa ulama,” tegas Presiden.

Penghormatan Kepala Negara tidak hanya ditujukan kepada para ulama yang dikenal luas oleh masyarakat. Presiden Prabowo secara khusus menyampaikan apresiasi kepada para kiai di berbagai pelosok Tanah Air yang selama ini mengabdikan diri di tengah masyarakat, meski kiprah mereka tidak selalu terlihat ataupun mendapat sorotan.

“Terima kasih kepada semua ulama. Yang terkenal maupun Kiai-Kiai kampung, yang mungkin namanya tidak pernah masuk televisi. Tapi setiap hari menjaga akhlak anak-anak kita,” ucap Presiden.

Menurut Presiden Prabowo, pengabdian para ulama dan kiai memiliki arti penting dalam menjaga kehidupan masyarakat. Dari desa-desa, mereka terus merawat kerukunan, menjaga kedamaian, sekaligus mendoakan bangsa tanpa mengharapkan imbalan dari negara.

“Menjaga kerukunan umat dan kerukunan antarumat. Menjaga kedamaian di desa. Dan mendoakan bangsa tanpa meminta apapun kepada negara. Terima kasih. Hormat saya kepada para Ulama semuanya,” lanjut Kepala Negara.

Di hadapan para peserta Muktamar ke-35 NU, Presiden Prabowo juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh keluarga besar Nahdlatul Ulama, mulai dari para kiai, nyai, hingga santri dan santriwati. Kepala Negara menekankan bahwa kekuatan dan kerukunan NU memiliki arti penting bagi kekuatan dan persatuan Indonesia.

“Terima kasih Nahdlatul Ulama, terima kasih para kiai, terima kasih para ibu-ibu nyai, terima kasih para santri-santriwati. NU kuat artinya Indonesia kuat. Kalau NU rukun, Indonesia rukun. NU berhikmat, Indonesia bermartabat,” tutur Presiden.

Tak lupa, Kepala Negara menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama merupakan institusi bersejarah yang memiliki jasa besar dalam perjalanan dan perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. “Ini kehormatan besar bagi saya, Nahdlatul Ulama adalah institusi yang bersejarah yang sangat besar jasanya dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia,” ujar Presiden.

Sementara itu, Ketua Panitia Muktamar Syaifullah Yusuf dalam laporannya menyampaikan bahwa Muktamar ke-35 NU diikuti jajaran pengurus NU dari berbagai tingkatan, baik dari dalam maupun luar negeri. Para peserta berasal dari 38 pengurus wilayah, lebih dari 550 pengurus cabang, serta 33 pengurus cabang istimewa NU.

Selain para peserta resmi, Muktamar ke-35 NU diperkirakan turut diramaikan oleh puluhan ribu warga yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka menempuh beragam cara untuk dapat hadir dan menjadi bagian dari perhelatan besar organisasi Islam tersebut.

“Kami memperkirakan Muktamar ini juga akan dimeriahkan sekitar lebih dari 50 ribu 'romlah', rombongan lilahi ta'ala, yang datang dari berbagai penjuru tanah air. Ada yang datang berombongan, ada pula yang datang seorang diri. Ada yang naik pesawat, naik kereta, naik bus, menggunakan kendaraan pribadi,” ungkap Syaifullah.

 

Topik Terkait

Komentar Pembaca ( 0)

Tulis Komentar
Tinggalkan Komentar
```