- Pertanian Organik Memicu Peningkatan Penggunaan Pestisida di Lahan Konvensional, Ini Penjelasannya
- Pertamina Buka Mudik Gratis ke Lebih dari 15 Kota, Catat Tanggal Pendaftarannya
- MIND ID Dukung Penuh Swasembada Energi Sebagai Pilar Pembangunan
- Mineral Kritis Komponen Utama Energi Masa Depan, MIND ID Perkuat Ekosistem
- Gejolak Timur Tengah, Pertamina Prioritaskan Keselamatan Pekerja dan Perkuat Mitigasi Operasional
- Panggung Hijau di Tengah Euforia, XLSMART Sulap Konser Jadi Ajang Zero Waste Berkelanjutan
- Ramadan Tanpa Khawatir, Telkomsel Siaga 24 Jam Temani Pelanggan hingga Idulfitri 2026
- Bangun Pagi dan Gaya Hidup Aktif Dapat Mencegah Penyakit Saraf Mematikan
- Pastikan Gizi Terjaga, Menko Pangan Tinjau Langsung Pelaksanaan MBG di Lampung Tengah
- Dari Sawah ke Panggung Dunia, Obsesi Besar Mentan Amran untuk Kedaulatan Pangan Indonesia
Pertanian Organik Memicu Peningkatan Penggunaan Pestisida di Lahan Konvensional, Ini Penjelasannya
Sebuah paradoks yang tidak sesederhana hitam dan putih

Keterangan Gambar : Lansekap pertanian organik berdampingan dengan pertanian konvensional
Organik sering terdengar seperti jawaban atas banyak persoalan pangan modern. Lebih ramah lingkungan, lebih sehat, lebih berkelanjutan. Di rak supermarket, label “organik” seolah menjadi simbol kemenangan atas pertanian kimiawi.
Namun sebuah studi yang terbit di jurnal bergengsi Science mengungkap sisi lain yang jarang dibicarakan, pertanian organik ternyata bisa memicu peningkatan penggunaan pestisida di lahan konvensional di sekitarnya. Sebuah paradoks yang tidak sesederhana hitam dan putih.
Tim peneliti dari University of California, Santa Barbara yang dipimpin Ashley Larsen ingin memahami satu hal mendasar lewat penelitiannya, apa yang terjadi ketika lahan organik semakin meluas di tengah lanskap yang didominasi pertanian konvensional
Baca Lainnya :
- Panggung Hijau di Tengah Euforia, XLSMART Sulap Konser Jadi Ajang Zero Waste Berkelanjutan0
- Pastikan Gizi Terjaga, Menko Pangan Tinjau Langsung Pelaksanaan MBG di Lampung Tengah0
- Dari Sawah ke Panggung Dunia, Obsesi Besar Mentan Amran untuk Kedaulatan Pangan Indonesia 0
- Mentan Minta Kontrak Cetak Sawah Rakyat 101 Ribu Hektare Tuntas dalam Sebulan0
- Begini Jurus AHY Amankan Ketahanan Air sebagai Kunci Kemandirian Bangsa 0
Fokus mereka dilakukan di Kern County, wilayah pertanian raksasa di California yang menghasilkan anggur, semangka, jeruk, tomat, hingga kentang. Dengan menganalisis sekitar 14.000 lahan selama tujuh tahun, mereka menemukan pola yang tak terduga. Lahan konvensional yang berada dekat dengan pertanian organik justru cenderung meningkatkan penggunaan pestisida, terutama insektisida.
Fenomena ini disebut sebagai “efek limpahan” (spillover effect). Kehadiran lahan organik mengubah dinamika populasi hama di sekitarnya. Serangga tak mengenal pagar atau sertifikasi. Mereka bergerak bebas, melintasi batas imajiner antara “organik” dan “konvensional”. Akibatnya, petani non-organik yang merasa lahannya lebih berisiko terhadap serangan hama mungkin memilih untuk menyemprot lebih banyak insektisida sebagai langkah antisipasi.
Penelitian ini tidak mengatakan bahwa pertanian organik buruk. Justru sebaliknya, praktik organik terbukti meningkatkan kualitas tanah, kesehatan air, dan keanekaragaman hayati. Namun dalam konteks lanskap campuran, di mana lahan organik dan konvensional berdampingan, maka dampaknya menjadi lebih kompleks.
Erik Lichtenberg dari University of Maryland menyoroti pentingnya memahami motivasi petani dalam mengambil keputusan terkait pestisida. Nilai ekonomi tanaman, tingkat kerentanan terhadap hama, serta toleransi risiko masing-masing petani memainkan peran besar. Artinya, respons terhadap hama bukan hanya soal ekologi, tetapi juga soal ekonomi dan psikologi.
Kabar baiknya, studi ini juga menawarkan jalan keluar. Salah satu strategi yang dinilai efektif adalah mengelompokkan lahan organik dalam satu kawasan, alih-alih menyebarkannya secara acak di antara lahan konvensional. Dengan perencanaan spasial yang lebih strategis, efek limpahan negatif bisa ditekan.
Pendekatan ini membuka perspektif baru, keberlanjutan bukan hanya soal metode tanam, tetapi juga soal bagaimana kita mengatur lanskap pertanian secara keseluruhan. Permintaan produk organik terus meningkat. Konsumen semakin sadar akan kesehatan dan lingkungan. Namun penelitian ini mengingatkan bahwa transisi menuju sistem pangan berkelanjutan tidak bisa dilakukan secara parsial.
Organik bukan sekadar label, tetapi bagian dari ekosistem yang lebih luas, di mana setiap keputusan di satu ladang bisa berdampak pada ladang lainnya. Pada akhirnya, pertanian berkelanjutan bukan tentang memilih satu sistem dan menolak yang lain. Ini tentang merancang lanskap yang cerdas,memahami pergerakan hama, membaca risiko, dan menyelaraskan kepentingan lingkungan dengan realitas ekonomi. Karena di dunia pertanian, seperti juga di alam, semuanya saling terhubung.
.jpg)
1.jpg)

2.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)

