- Trah Sultan HB II Tolak Rencana Kerja Sama Pendidikan dan Teknologi Pemerintah RI dengan Inggris
- Dari Bencana ke Pemulihan: Jalan Menyelamatkan Sumatera
- Dilema Meremajakan Tanah dan Alam Melalui Pertanian Regeneratif
- Ekosistem Baterai Kendaraan Listrik Karawang Dorong Peningkatan Nilai Tambah
- Kades di Tapteng Ramai-Ramai Surati Presiden, Minta Pelurusan Penyebab Banjir Longsor DAS Aek Garoga
- 8 Desa Wisata di Indonesia Buat Kamu Merasakan Kehidupan Masyarakat Lokal
- Fenomena Antre di Tempat Makan Viral, Worth It atau Sekadar Ikut Tren?
- Apakah Venezuela Masih Jadi Kekuatan Besar di Pasar Minyak Global?
- RDMP Balikpapan: Sumur Mathilda yang Kini Garda Terdepan Energi Indonesia Timur
- Tak Ada Pilihan Lain, Indonesia Harus Menjadi Pengendali Harga Nikel Dunia
Trah Sultan HB II Tolak Rencana Kerja Sama Pendidikan dan Teknologi Pemerintah RI dengan Inggris
.jpg)
YOGYAKARTA – Rencana Pemerintah
Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto untuk menjalin kerja
sama strategis dengan Inggris mendapat penolakan keras dari keluarga besar
keturunan Sri Sultan Hamengku Buwono II. Penolakan ini didasari oleh sejarah
kelam peristiwa Geger Sepehi 1812, di mana pihak Inggris melakukan penyerangan
dan perampokan besar-besaran terhadap aset serta manuskrip berharga milik
Keraton Yogyakarta.
Perwakilan keluarga Trah Sultan HB II, Fajar Bagoes
Poetranto, menegaskan bahwa pemerintah Indonesia seharusnya tidak terburu-buru
melakukan kerja sama sebelum masalah sejarah ini tuntas. Ia mendesak Presiden
Prabowo Subianto meminta pertanggungjawaban langsung dari Kerajaan dan
Pemerintah Inggris.
"Kami menolak keras rencana kerja sama di bidang
pendidikan, teknologi, hingga maritim sebelum Inggris bertanggung jawab dan
meminta maaf secara resmi kepada keluarga besar keturunan Sultan Hamengkubuwono
II," ujar Fajar Bagoes Poetranto
Baca Lainnya :
- Dari Bencana ke Pemulihan: Jalan Menyelamatkan Sumatera 0
- Kades di Tapteng Ramai-Ramai Surati Presiden, Minta Pelurusan Penyebab Banjir Longsor DAS Aek Garoga0
- Apakah Venezuela Masih Jadi Kekuatan Besar di Pasar Minyak Global?0
- Presiden: Capaian Sektor Pertanian Bukti Nyata Kemandirian Indonesia0
- Ilmuwan Temukan Titik Rawan Gempa Megathrust Berikutnya di Asia Tenggara0
Fajar Bagoes Poetranto menekankan bahwa peristiwa Geger
Sepehi bukan hanya soal hilangnya harta benda atau manuskrip, melainkan
menyangkut harkat, martabat, dan sejarah kelam yang hingga kini belum
terselesaikan.
Beberapa poin keberatan utama yang disampaikan adalah
mengenai Pertanggungjawaban Moral. Inggris harus mengakui keterlibatan mereka
dalam perampasan nyawa dan harta keluarga Sultan HB II yang saat itu gigih
menentang kolonialisme. Kemudian kontradiksi pendidikan, Fajar Bagoes Poetranto
mempertanyakan rencana mendatangkan universitas top asal Inggris (UK) ke
Indonesia. Menurutnya, hal ini ironis mengingat banyak ilmu pengetahuan asli
Nusantara yang "dirampok" dan kini disimpan di Inggris.
Hal lainnya yakni pengembalian manuskrip asli, di British
Library tersimpan ribuan naskah kuno Jawa dan Nusantara yang diambil paksa.
Trah Sultan HB II mendesak agar naskah-naskah tersebut dikembalikan dalam
bentuk asli untuk dipelajari di Tanah Air, bukan sekadar salinan digital.
"Bagaimana Indonesia bisa bekerja sama di bidang
pendidikan dengan pihak yang pernah melakukan perampasan, perampokan, dan
penghilangan nyawa keluarga kami? Presiden harus meminta naskah-naskah itu
kembali dalam bentuk asli," tegas Fajar Bagoes Poetranto
Dalam hal inilah, Keluarga Trah HB II mengungkapkan bahwa
dalam manuskrip terdapat sumber ilmu pengetahuan di antaranya sistem
pemerintahan pertanian teknologi ekonomi arsitektur budaya kesehatan yang mana
samapai saat ini mansukrip yang terdapat di Britsh Libbray tidak bisa diterjemahkan mereka.
"Oleh karena itulah kita sudah menyiapkan ahli filolog
meneterjemahkan naskah naskah kuno tersebut.
renacana dikerjasamakan Pemerintah Prabowo Subianto," jelas Fajar
Bagoes Poetranto
Diketahui, peristiwa Geger Sepehi terjadi pada Juni 1812,
ketika Inggris di bawah pimpinan Thomas Stamford Raffles menyerbu Keraton
Yogyakarta. Selain jatuhnya korban jiwa, peristiwa ini mengakibatkan penjarahan
besar-besaran terhadap perpustakaan keraton, di mana ribuan naskah kuno, koin
emas, perak, serta manuskrip Kraton Yogyakarta lainnya, yang merupakan sumber
ilmu pengetahuan tak ternilai dibawa ke Inggris.
Sekitar 7.500 manuskrip yang merupakan harta dan kekayaan
intelektual Keraton Yogyakarta dijarah dan dibawa pergi. Saat ini mayoritas
tersimpan di British Library (London) dan sebagian di Universitas Leiden
(Belanda). Koleksi yang dijarah tersebut mencakup seluruh aspek kehidupan Jawa,
antara lain catatan peristiwa Geger Sepehi, silsilah raja-raja, dan sejarah
kerajaan Jawa (Babad).
Filosofi kekayaan intelektual ini memuat ajaran
kepemimpinan, etika, dan nilai luhur dari Sultan HB I & HB II. Juga ada sastra,
yakni cerita kepahlawanan, epik klasik, dan mitologi, termasuk naskah ajaran
Islam dan kisah para nabi, serta sains tradisional yang mencakup ilmu astronomi
(pawukon), primbon, pengobatan, hingga metalurgi.
"Penjarahan ini bukan sekadar kehilangan benda fisik, melainkan hilangnya pusat pengetahuan dan identitas peradaban Jawa yang hingga kini masih berada di luar negeri," jelas Fajar Bagoes Poetranto. Hingga saat ini, keluarga Trah Sultan HB II terus konsisten menyuarakan agar pemerintah Indonesia mengambil posisi tawar yang kuat demi memulihkan sejarah dan aset bangsa yang masih berada di tangan asing. (alex)
.jpg)
1.jpg)

.jpg)


.jpg)

.jpg)

.jpg)

