Narasi Film Pesta Babi Menutupi Fakta Besar Keberhasilan Ketahanan Pangan Nasional
MENTERI Pertanian (Mentan), Andi Amran
Sulaiman menjawab berbagai tudingan terkait program pengembangan lahan
pertanian di Merauke yang belakangan dikaitkan dengan isu “pesta babi”. Menurut
Amran, narasi tersebut telah menutupi fakta besar tentang upaya pemerintah
membangun ketahanan pangan nasional melalui optimalisasi lahan dan peningkatan
produksi pangan di berbagai daerah.
“Kenapa yang dibahas hanya pesta babi di Merauke? Kenapa
tidak melihat Sumatera Selatan yang kami buka dan kembangkan hingga ratusan
ribu hektare? Kenapa tidak melihat Kalimantan Selatan yang rawa-rawanya kami
sulap menjadi lahan produktif hingga bisa tanam tiga kali setahun? Kenapa tidak
melihat Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Aceh, dan Sulawesi Selatan?” kata
Amran saat mengisi Kuliah Umum kepada 500 Mahasiswa Universitas Negeri
Makassar, Rabu, 4 Juni 2026.
Menurutnya, program pengembangan lahan di Merauke merupakan
bagian dari strategi besar pemerintah untuk memperkuat ketahanan pangan
nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. Lahan yang
dibangun bukan untuk kepentingan kelompok tertentu, melainkan untuk petani dan
masyarakat sekitar.
Baca Juga
“Yang kami lakukan di Merauke untuk rakyat. Kami membangun
optimalisasi lahan, menyediakan irigasi, menyerahkan alat dan mesin pertanian,
serta meningkatkan produktivitas pertanian masyarakat. Traktor kami berikan
gratis untuk petani, alsintan kami siapkan, irigasi kami bangun. Semua untuk
meningkatkan kesejahteraan rakyat,” katanya.
Amran menegaskan bahwa program tersebut telah memberikan
dampak nyata bagi masyarakat Papua. Salah satunya adalah perbaikan ketersediaan
pangan yang berdampak pada stabilitas harga beras. “Dulu harga beras di Papua
bisa mencapai Rp30 ribu per kilogram. Sekarang sekitar Rp13 ribu. Ini hasil
kerja nyata yang dirasakan masyarakat,” katanya.
Sebelumnya di hadapan 300 Mahasiswa Universitas Hasanuddin
(Unhas), Mentan Amran menduga munculnya berbagai tudingan terhadap program
pangan nasional tidak lepas dari adanya pihak-pihak tertentu yang tidak
menginginkan Indonesia mencapai swasembada pangan.
“Ketika Indonesia masih impor pangan, semua diam. Tidak ada
yang membuat narasi seperti ini. Tetapi ketika kita bergerak menuju swasembada,
justru muncul berbagai tudingan dan fitnah. Padahal yang kami bangun bukan
hutan, melainkan lahan rawa yang dioptimalkan untuk produksi pangan,” katanya.
Amran mengingatkan bahwa swasembada pangan merupakan
kebutuhan strategis bangsa. Tanpa kemampuan memproduksi pangan sendiri,
Indonesia akan terus bergantung pada impor dan rentan menghadapi krisis pangan
global.
“Kalau kita tidak swasembada dan terus impor, lalu suatu
saat negara lain tidak bisa memasok pangan kepada kita, bagaimana nasib rakyat?
Karena itu yang kita pilih adalah pesta panen, bukan ketergantungan impor,”
katanya.
Menurut Amran, pengembangan lahan pertanian telah dilakukan
di sedikitnya 14 provinsi, mulai dari Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan,
Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Aceh hingga Sulawesi Selatan. Namun
keberhasilan tersebut kerap tenggelam oleh isu-isu yang tidak mencerminkan
keseluruhan program yang sedang dijalankan pemerintah.
“Yang kami bangun adalah masa depan pangan Indonesia.
Lahan-lahan tidur kami hidupkan kembali, rawa kami optimalkan menjadi sawah
produktif, dan hasilnya kami serahkan kepada petani. Tujuannya satu, memastikan
Indonesia mampu memberi makan rakyatnya sendiri,” tutupnya.
Rektor UNM: Tak Ada Alasan Meragukan Indonesia
Sudah Swasembada Pangan
Sementara di tempat terpisah, Rektor Universitas Negeri
Makassar, Prof Farida Patittingi menegaskan bahwa tidak ada alasan untuk
meragukan capaian Indonesia yang kini sudah swasembada pangan. Menurutnya,
capaian yang diraih merupakan hasil kerja keras pemerintah di bawah
kepemimpinan Prabowo Subianto serta berbagai langkah strategis yang dijalankan
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.
“Kami tidak meragukan swasembada pangan yang saat ini
dicapai. Justru kami optimistis swasembada pangan dapat berkelanjutan. Tekad
dan komitmen Menteri Pertanian selama ini sangat kuat. Berbagai program yang
mengarah pada terwujudnya swasembada terus dijalankan secara konsisten,” ujar
Farida, Kamis, 4 Juni 2026.
Ia menilai Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi
negara yang mandiri dalam pemenuhan kebutuhan pangan. Sebagai negara agraris
dengan sumber daya lahan yang luas, berbagai potensi yang dimiliki harus terus
dioptimalkan untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.
“Ke depan, program-program yang berjalan akan semakin baik.
Indonesia adalah negara agraris yang memiliki potensi besar. Lahan-lahan yang
ada harus terus dioptimalkan sehingga mampu memperkuat ketahanan pangan dan
menjaga keberlanjutan swasembada,” katanya.
Rektor Farida juga memberikan apresiasi kepada Kementerian
Pertanian yang dinilainya telah bekerja maksimal sebagai sektor utama dalam
pembangunan pertanian nasional. Berbagai terobosan yang dilakukan dinilai
berhasil mendorong peningkatan produksi dan memperkuat fondasi swasembada
pangan Indonesia.
“Kami sangat mendukung program swasembada pangan dan
ketahanan pangan nasional. Kementerian Pertanian sebagai leading sector patut
diapresiasi karena telah menunjukkan kinerja yang luar biasa dalam
merealisasikan swasembada pangan,” katanya.
Sebagai institusi pendidikan tinggi, UNM menegaskan
komitmennya untuk terus mendukung berbagai program strategis pemerintah di
sektor pertanian. Dukungan tersebut diwujudkan melalui keterlibatan dalam
penelitian, pengembangan inovasi pertanian, pendampingan teknologi, hingga
kolaborasi dalam program-program peningkatan produksi pangan.
“Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mendukung
pembangunan pertanian. Karena itu, UNM siap terus berkolaborasi melalui riset,
inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat guna memperkuat ketahanan pangan dan
mendukung terwujudnya swasembada pangan yang berkelanjutan,” tandasnya.
