Tentang Kematian dan Hikmahnya yang Perlu Anda Tahu

Hidup sangatlah berharga  bagi siapa saja tanpa kecuali, tak peduli kaya atau miskin, Bangsawan maupun Jelata, Tuan maupun Budak. Semuanya cinta akan hidup dan kehidupan. Sang Pujangga berkata ‘’ Ingin hidup seribu tahun lagi’’. Khususnya hidup dialam dunia ini. Alam mayapada yang menyediakan berbagai keindahan fatamorgana nan sedap dipandang mata, juga hal yang sebaliknya. Seperti senandung sebuah lagu, ‘’Dunia ini panggung sandiwara’’ . Disana ada peran kebaikan, ada juga peran kejahatan, ada sehat-ada sakit. Ada kehidupan, maka ada kematian.

Kematian bagi kebanyakan orang adalah sesuatu yang sangat seram dan menakutkan. Karena kematian itu identik dengan ; kebekuan, kekakuan, kejumudan (pasif) , dingin, kemudian sirna. Secara fitri manusia diberi rasa cinta akan hidup dan kehidupan, dan takut mati. Si sakit yang parah akan sangat bahagia apabila penyakitnya sembuh, karena sembuh memberi harapan hidup bagi si sakit. Begitu juga alangkah bahagianya Tentara yang pulang dari medan perang dengan selamat, meski ia menderita luka atau cacat. Ia akan berucap, saya sangat bahagia  bisa selamat, sementara kawan disisi saya  gugur. Begitu pula keluarganya tentu lebih bahagia lagi, terutama orang-orang terdekatnya dengan bercucur air mata kebahagiaan, karena keluarganya dapat pulang dengan selamat.

Ramuan Keabadian Yang Menjadi Pencabut Nyawa

Andai bisa tentu setiap insan tak ingin mati, ia ingin hidup terus – menerus dalam keabadian buat selamanya. Seperti kisah Raja Tiongkok kuno yang meminta dibuatkan ramuan keabadian agar hidup terus-menerus, maka oleh para Cendikia ahli kala itu dibuatkanlah ramuan dengan berbagai macam cara dan percobaan. Secara tak sengaja ramuan itupun ditemukan, yaitu berupa bubuk hitam ajaib yang jika dibakar dapat bereaksi dengan cepat dan mengularkan api yang sangat panas serta berwarna-warni. Bubuk itu dikemudian hari dikenal dengan nama Mesiu.

Tetapi sayang ramuan itu gagal menjadi ramuan keabadian, justru dibelakang hari ribuan tahun berikutnya oleh Bangsa Barat, bubuk mesiu disulap menjadi alat pencabut nyawa yang sangat ampuh dan efektif, yakni sebagai bahan pelontar peluru senapan dan meriam, bahkan sampai detik ini bahan itu masih digunakan sebagai bahan isian senjata api militer yang formulanya sudah dimodifikasi.

Tetapi adakah Insan yang hidup abadi  di dunia ini? Jawabnya tak kan mungkin. Karena Tuhan telah berfirman ‘’ Setiap yang berjiwa akan merasakan mati ‘’. Tak terkecuali hamba – hamba TerkasihNya Para Nabi dan Rasul-RasulNya, juga para MalaikatNya pun tak luput dari kematian. Wajah kematian memang begitu perkasa, ia akan datang kapanpun dan dimanapun, walau didalam banteng terkuat sekalipun, wajah kematian akan datang menjemput. Atau  dijaga ratusan Tabib, dan dokter  terbaik,  secuilpun ia tak peduli. ‘’Jika ajal tiba maka takkan mundur sedetik, atau maju sedetik’’.(Hadits).

Banyak Jalan Menuju Kubur

Banyak Jalan Menuju Kubur
albashiroh.com

Semua yang hidup berhutang Maut tanpa terkecuali. Hanya soal waktu yang bicara. Bukan lantaran tua, atau sakit atau peperangan. Sayidina Ali Karomallahu wajhah, berkata ; ‘’Berapa banyak orang tua renta dan sakit hidup terus-menerus, sementara yang kuat dan segar-bugar, tiba-tiba esoknya meninggal’’.

Sang Pedang Allah, Khalid bin Walid RodhiAllahu‘anhu, menangis terisak-isak menjelang ajalnya dengan berkata ; ‘’Saya telah mengalami ratusan kali peperangan besar, dan berharap mendapat anugerah kesyahidan di medan laga. Tetapi kini aku akan mati laksana seorang pengecut, dengan mati diatas tempat tidur’’.

Maut adalah perkara panggilan ajal. Seorang Alim pernah berkata ; ‘’Semua Manusia berlomba-lomba mencari nafkah untuk hidup dengan seribu jalan, tetapi pada hakekatnya seribu jalan itu menuju pintu kubur’’. Semua penantian, beserta segala kesibukan sehari-hari yang kita kerjakan ini – itu, pada hakekatnya adalah penantian menuju liang lahat. Maka tidakkah ini cukup menjadi pelajaran dari sebuah fakta, bahwa semua yang hidup pasti akan mati, sekarang atau esok. Jika sudah waktunya utusan Kematian akan datang dengan cepat, tepat, dan tak mungkin salah alamat, serta takkan kembali lagi kedunia ini walau hanya sedetik.

Kematian adalah nasihat bagi yang hidup, seolah-olah berkata; ‘’Tunggu aku ya…aku pasti datang menjemput kalian, maka persiapkanlah !’’. Tetapi berapa banyak orang yang lalai, padahal setiap kali mereka mengantar dan menguburkan Temannya, atau Tetangganya, atau Saudaranya. Yang mana  sebelumnya si mati juga pernah hidup dan berbuat sama. Dan kini gilirannya. Lalu esok atau lusa entah siapa lagi.

’Orang yang cerdas adalah orang yang selalu ingat mati, lalu mempersiapkannya dengan amal sholeh, dan orang yang dungu adalah orang yang lalai dari mengingat kematian dengan menumpuk harta dan bakhil’’. (intisari hadits).

Altruisme

Altruisme
macrofag.blogspot.com

Altruismeadalah  paham (sifat) lebih memperhatikan dan mengutamakan kepentingan orang lain (kebalikan dari egoisme). Antr . sikap yang ada pada manusia, yang mungkin bersifat naluri berupa dorongan untuk berbuat jasa kepada manusia lain.

Ini adalah sebuah  paradokdari fitrah manusia yang digambarkan diatas. Pada masa PD II Tentara Jepang adalah satu-satunya kekuatan militer Asia yang dapat menandingi kekuatan militer barat. Hal ini karena setiap tentara di bekali tak hanya dengan senjata kasar, tetapi mereka juga dilengkapi dengan senjata halus, berupa semangat Bushido , yaitu ajaran rela berkorban jiwa-raga demi tanah-air. Tak segan-segan mereka akan melakukan seppukuatau hara-kiri, yaitu seremonial bunuh diri dengan menyayat perut menggunakan  pedang pendek, terutama jika menanggung malu atau gagal dalam tugas. Ditanah air tercinta Nusantara di masa penjajahan juga tidak terbilang jumlahnya. Ribuan, bahkan jutaan Syuhada / Pahlawan yang rela gugur demi membela Nusa, Bangsa, dan Agama. Semboyan mereka yang sangat terkenal adalah ‘’Isy kariman au mut syahidan’’ (Hidup mulia atau mati sahid). Bagi yang Nasionalis ‘’Merdeka atau mati’’.Sehingga berkat pengorbanan mereka Bangsa Indonesia meraih kemerdekaan, dan Penjajahpun hengkang dari bumi Ibu Pertiwi.

Tetapi bukan hanya Manusia, dalam dunia hewan juga mengenal adanya altruism. Koloni semut rang-rang (jw.Semut pohon) memberi kita contoh bagaimana mereka rela mengorbankan diri mereka demi melindungi sarangnya. Mereka akan menyerbu pengganggu tak peduli sekuat dan sebesar apapun lawannya, termasuk manusia sering dibuat menyerah tak berdaya ketika sedang memanjat pohon karena kegigihan pasukan semut ini yang rela mati demi melindungi bangsanya. Induk ayam yang sedang mengiring anak-anaknya, tiba-tiba ayam tersebut menjadi garang dari biasanya. Berani menerjang siapa saja demi melindungi keturunannya, ia bahkan rela mati. Begitu juga sekawanan gajah, kerbau, zebra, singa, beruang, Buaya, lebah dll tidak jauh berbeda terutama yang masih dialam liar. Mereka akan mengorbankan diri mereka demi menjaga kelangsungan bangsanya, atau paling tidak demi anak-anaknya.

Kalau kita renungkan dengan seksama ternyata semua suku, bangsa, dan ajaran agama, atau bahkan isme-isme apapun  mengenal dan menjunjung tinggi altruism sebagai sifat yang mulia. Islam dengan ajaran Jihadnya, Jepang (agama Shinto) dengan ajaran Bushido-nya, Bali dengan Ajaran Puputan-nya, Tentara / Perwira dengan ajaran Kesatria-nya, Nasionalisme dengan ajaran Patriotisme-nya, dan banyak lagi yang lainnya, yang ujung-ujungnya harus rela meletakkan kepentingan pribadi dibawah kepentingan Bangsa, sekalipun dengan berkorban harta, benda, bahkan jiwa.

Disamping mencintai hidup atas dasar ego, ternyata ada kesadaran hakiki yang menyebabkan Manusia rela mengorbankan diri atas dasar faham – faham yang mereka anut seperti yang tersebut diatas. Dengan begitu Manusia berjiwa besar tersebut akan hidup 1000 tahun, atau bahkan sampai akhir masa dunia. Yakni hidup di hati semua orang karena jasa-jasanya. Dan bagi ajaran agama akan mendapat ganjaran Syurga.

Hikmah Kematian:

Kematian
gaulfresh.com

Menurut Para Ulama

Para Ulama yang wara’ (bijak) berkata, bahwa hikmah kematian bagi Seorang anak Adam adalah sebagai berikut ;

  1. Bagi Orang yang Shalih, sebagai sarana penyempurna amal ibadahnya.

Ketika seseorang sedang melakukan kebaikan, seperti ; menolong orang yang ditimpa bencana alam, Orang tua yang sedang mencari nafkah demi keluarga, Murid yang sedang giat menuntut ilmu, Ulama / Guru yang sedang mengajarkan nilai-nilai, Dai yang sedang berdakwah, Wanita yang sedang melahirkan, Tentara / Polisi yang sedang bertugas, Dermawan yang sedang bersedekah, dan Ahli ibadah yang sedang shalat  atau Haji, atau segala apapun yang bernilai kebajikan atas landasan ikhlas. Lalu di saat seperti itu ia meninggal maka itu merupakan akhir hayat yang baik (khusnul Khothimah)dan menjadi penyempurna dari amalannya. Semua Muslim pasti berharap demikian melalui doa hariannya,….’’wa as’aluka fii akhiri hayati bi khusnil khothimah’’…..(dan aku meminta kepadaMu, akhir hayat yang baik). Amien 3x  yaa Robbal alamien.

  1. Bagi Ahli Maksiat, sebagai sarana pemberhenti dari perbuatan maksiatnya.

Betapapun hebatnya anak manusia melakukan dosa dan kekejian dari dosa tingkat rendah sampai tingkat teratas. Dan semasa hidupnya terus menerus dilakukan dengan menzolimi dirinya dan orang sekitarnya tanpa ada rasa bersalah, dan tanpa ada keinginan dihatinya untuk bertobat atas kemungkarannya. Maka kematian yang datang kepada orang semacam ini menjadi sarana pemberhenti dari maksiatnya. Sebagai contoh Firaun Laknatulloh, seluruh hidupnya hanya untuk kesombongan yang kian menjadi-jadi, sampai mengaku dirinya adalah  tuhan, dan memaksa seluruh rakyat Mesir agar menyembahnya, bagi yang berani membangkang hukumannya dipancung. Tatkala ajal datang dengan ditenggelamkan dilaut merah maka habislah ia beserta pasukannya. Dan selesailah segala kemaksiatan yang ia dan Punggawa – Punggawanya perbuat sampai disitu. Tetapi kematian seperti ini adalah akhir hayat yang buruk (Su’ul Khothimah). Naudzubillahi mindzalik (Kami berlindung dari hal yang demikian). Amien 3x yaa Robbal ‘alamien.

Menurut Pandangan Umum

Secara pandangan umum / dunia, hikmah kematian sebagai berikut ;

  1. Memberi peluang atau ruang bagi Generasi berikut untuk dapat hidup.

Bumi sebagai tempat Manusia, Hewan dan Tumbuh-tumbuhan untuk hidup memiliki luas daratan yang terbatas. Apa jadinya andai kehidupan dibumi ini tidak ada kematian ?. Kita akan menyaksikan ultra kepadatan penduduk yang lebih dari sarang lebah atau rumah rayap, atau kepadatan yang sangat ekstrim. Belum lagi ruang untuk hewan dengan aneka jenis dan tumbuhan yang beragam pula. Sementara untuk hidup memerlukan ruang termasuk lahan untuk bertani. Maka kematian yang menimpa semua makhluk hidup adalah solusi alamiah untuk mengatasi keterbatasan ruang tadi, guna memberi ruang bagi keturunan dimasa yang akan datang. Sungguhpun begitu jenis ras Manusia beranak pinak dengan sangat cepat hingga penduduk bumi semakin padat. ‘’Saat ini penduduk bumi diperkirakan berjumlah > 7 milyar jiwa. Dengan angka kelahiran global ± 200.000 jiwa / Jam’’. (Dr. Amin Rais dalam ceramah kebangsaan di Aula Bupati Melawi, 5-maret 2016).

  1. Sebagai kehormatan bagi mereka yang Tua renta, penyakit tua (degenerative), dan pikun (alzeimer).

Jika Manusia dikaruniai umur panjang, maka akan merasai fase tua boiogis dan kejiwaan. Fase biologis ditandai dengan semakin menurunnya fungsi organ tubuh seperti; kulit makin mengendor, mata semakin rabun, pendengaran semakin pekak / tuli, gigi mulai berguguran, alat pengecap rasa semakin kebas, rambut semakin jarang dan memutih, badan semakin membungkuk dan tenaga semakin loyo, serta metabolisme tubuh semakin kacau. Fase kejiwaan ditandai dengan melemahnya daya ingat, bahkan kembali ke fase kanak-kanak. Seperti mudah merajuk, dan mudah marah. Dalam Quran surah Yasin dijelaskan ; ‘’Barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya, niscaya kami kembalikan kepada penciptaan semula’’.

 Semakin tua maka peluang pikun semakin besar. orang tua renta yang mengalami kepikunan sangat memilukan. Tak lagi ingat siapa dirinya, dimana, dan sedang apa. Pendek kata eksistensi diri atau jatidiri sudah tidak ada lagi. Tak jarang jika lalai dari pengawasan anak-anaknya, mereka lepas dan berkeliaran entah kemana. Atau sering telanjang bulat tak peduli dimanapun. Bagi orang yang sudah tua dan pikun semacam ini, maka kematian  adalah bentuk kehormatan baginya. Seandainya tidak pikun, tetapi dengan sakit-sakitan karena penyakit tua dan tidak mampu melakukan apapun maka sama saja.

  1. Sebagai kebaikan bagi mereka yang menderita penyakit akut dan sangat tersiksa karena penyakitnya. Atau sebagai kemulyaan bagi yang mengalami kecelakaan parah dan mengerikan.

Andai tidak ada kematian didunia ini, alangkah menderitanya mereka yang hidupnya mengidap penyakit akut yang sangat menyiksa tiada henti siang dan malam, serta tiada harapan sembuh baginya namun hidup abadi, alangkah lelahnya jika harus merintih dan menjerit setiap saat akibat siksaan rasa sakit yang mendera. Atau bagi mereka yang mengalami kecelakan berat misalnya, mengalami kecelakan pesawat sehingga tubuhnya tercerai-berai, namun tetap hidup. Kepalanya hidup sendiri, badannya hidup sendiri, tangannya hidup sendiri, masing masing hidup sendiri-sendiri. Atau bagi seseorang yang mengalami kecelakaan hingga kepalanya remuk redam tetapi tetap hidup lantaran didunia tidak ada kematian.

Aduhai sungguh tak terbayangkan andai tidak ada kematian diatas dunia. Maka bagi orang yang mengalami nasib diatas kematian merupakan kebaikan. Karena dunia tidak dirancang untuk tempat keabadian tetapi dunia dan seisinya dirancang dengan sifat Fana (Binasa).

Kenikmatan dunia hanyalah kenikmatan yang semu dari hasil  fantasi otak Manusia, begitu juga segala penderitaan yang dialami pun tak lebih sama. Tidak ada yang senang terlalu senang, tak ada yang nikmat terlalu nikmat, tak ada yang sejuk terlalu sejuk, begitu juga tak ada sedih yang terlalu sedih, atau sakit yang terlalu sakit, tak ada yang abadi, semua berganti dan diganti, gilir – menggilir, dan semua dalam porsi yang sedikit. Itulah hukum dunia.

Adam as, sebagai Nenek Moyang ras Manusia berasal dari Syurga, lalu menumpang sementara di Bumi untuk menjalani ujian, kemudian kembali lagi ke syurga melalui pintu kematian. Dengan kata lain Manusia bukanlah asli Penduduk bumi, tetapi Penduduk syurga yang diberi mandate oleh Sang Khaliq untuk menjadi KhalifahNya dibumi buat sementara waktu. Namun sebagaimana ujian sekolah, tak selalu siswa dapat lulus dengan kriteria baik. Yang baik selalu lebih sedikit, dan yang terbaik lebih langka  lagi. Pun begitu perjalanan manusia, hanya sedikit yang dapat kembali ketempat asal yakni syurga. Dan kebanyakan Manusia tersesat oleh hawa nafsunya dan harus tercebur di Neraka.

Semoga dapat menginspirasi buat kita semua, terutama buat diri sendiri. Nasihat Ulama salaf : ‘’ Ketika kita lahir, kita menangis, sementara orang disekeliling kita tertsenyum gembira. Maka buatlah ketika kita mati, kita tersenyum dan orang-orang disekitar kita menangis (karena ingat jasa baiknya). Dan janganlah kita mati dengan menangis, sementara orang-orang disekitar kita tersenyum gembira’’( karena terbebas dari kejahatannya)’’.

Pencarian Terbaru:

  • gambar foto tentang kematian
  • gambar kematian