- Pikir Dulu Sebelum Mengirim Pertanyaan ke AI, Data Pribadi Anda Bisa Terungkap
- In Situ/In Vitro, Percakapan Ekologis Dua Seniman dalam Bayang-bayang Antroposen
- Konsep Indonesia Naik Kelas, Kunci Tekan Kemiskinan di Bawah 5%
- Beyond Energy: Langkah Baru Pertamina Pimpin Transisi Energi Hijau
- Presiden Prabowo: Ketahanan Pangan Jadi Urusan Keamanan Negara
- Polri Akan Membangun 10 Gudang Ketahanan Pangan Baru di 2026
- Berhenti Makan 3 Jam Sebelum Tidur Agar Jantung Lebih Sehat
- Diversifikasi Jadi Kunci Masa Depan Pertanian
- Cara Anak Muda Mengelola Keuangan di 2026, Gaya Hidup Jalan Uang Tetap Aman
- Whoosh Resmi Go Global, Kini Bisa Dipesan Dunia Lewat Trip.com
Jaga Harga, Bulog Harus Berperan di Sisi Distribusi

Jakarta: Efektivitas Perum Bulog dalam menjalankan fungsinya sebagai stabilisator harga komoditas pangan kembali dipertanyakan. Sejumlah langkah pun perlu dilakukan untuk mengkoreksi gagalnya fungsi Bulog mencegah fluktuasi harga komoditas pangan. Di antaranya penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) dan pemangkasan jalur distribusi pangan.
Direktur Centre for Budget Analysis (CBA) Uchok Sky Khadafi mengaku menerima informasi terkait adanya penimbunan sejumlah komoditi pangan sebelum masuk ke pasar. Hal ini menurutnya bisa saja mengindikasikan adanya permainan yang mempengaruhi harga di pasar.
“Harga yang tiba di pedagang dengan yang ditentukan berbeda, ini tanggung jawab Bulog," kata Uchok dalam keterangan tertulisnnya, Selasa 7 Februari 2017.
Baca Lainnya :
Ia menekankan, sesuai tugasnya, Bulog berperan dalam sisi distribusi. Namun fungsi tersebut belum berjalan baik. “Jangan justru menjadi penghambat atas kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Harusnya Bulog menjaga stok di pasar,” ujarnya.
Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) Abdullah Mansuri berpendapat kelemahan Bulog sejauh ini adalah tak memiliki kemampuan mendistribusikan barang sampai ke pasar. Karena itu, menurutnya, Bulog tak ubahnya sama dengan pedagang.
“Saran kami, kalau mau efektif, Bulog harus masuk ke pasar. Atau siapa pun yang ditunjuk pemerintah mendapatkan kuota, baik itu impor ataupun lokal, mereka harus bisa masuk ke titik struktur pasar,” kata dia.
Ekonom Senior Institute for Development of Economic and Finance (INDEF) Fadhil Hasan mengatakan Perum Bulog harusnya berperan sebagai stabilisator. “Namun, kerap tak berhasil," kata dia.
sumber: ekonomi.metrotvnews.com
.jpg)
1.jpg)

2.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)

