- Indonesia Ekspor 10 Kontainer Udang Bebas Cesium 137 ke AS
- Mentan Amran Kirim Logistik Bantuan Bencana Satu Kapal Penuh ke Sumatera
- Tiga Pakar Ungkap Bahaya Megathrust dan Strategi Mitigasinya di Indonesia
- Banjir Longsor di Batangtoru, Sumut: Sudah Lama Diingatkan, Sangat Nyata, Semua Bergeming
- Hanya 1 Jam, Kementan & Stakeholder Himpun Donasi Rp75 M untuk Korban Bencana Banjir Sumatera
- Mentan: 40.000 Sawah Terdampak akan Dapatkan Bantuan Kementan, Termasuk Alsintan di Sumut
- OJK Resmi Wajibkan Marjin Kripto Miliki Jaminan
- OJK Gagal ‘Tekan’ Purbaya Lewat DPR Soal Permintaan Insentif Pajak
- WRI dan Indef Sepakat Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen Jangan Korbankan Ekosistem
- Dari Hulu yang Robek ke Kampung yang Tenggelam: Banjir Sumatera dan Ledakan Izin Ekstraktif
Ilmuwan Jelajahi Laut Merah yang Dibelah Nabi Musa, Kondisi di Dasar Laut Bikin Terkejut

Keterangan Gambar : Sebuah tim peneliti dipimpin Sam Purkis, seorang profesor dan Ketua Departemen Geosains Kelautan di Universitas Miami, menjelajahi area palung laut dalam yang terletak di antara Afrika dan Jazirah Arab. Foto/Foxnews
MIAMI – Sebuah tim peneliti dipimpin Sam Purkis, seorang profesor dan Ketua Departemen Geosains Kelautan di Universitas Miami, menjelajahi area palung laut dalam yang terletak di antara Afrika dan Jazirah Arab.
Penjelajahan dilakukan dengan menggunakan kapal selam yang dioperasikan dari jarak jauh dan wahana laut. Lokasi penelitian diperkirakan merupakan area yang disebutkan dalam Alkitab sebagai lokasi Nabi Musa membelah Laut Merah.
Dari penjelajahan ini para ilmuwan mengatakan lingkungan di sana sangat ekstrem sehingga bertentangan dengan kehidupan di Bumi. Mereka menemukan perangkap kematian alami berupa kolam air garam di wilayah yang sekarang diyakini sebagai lokasi Nabi Musa membelah laut.
Baca Lainnya :
- Penemuan Arkeologi Terbesar, Ilmuwan Temukan Makam Raja Mesir Kuno Thutmose II0
- Superkomputer Prediksi Kapan Bumi Kehabisan Oksigen, Panas Ekstrem akan Musnahkan Manusia0
- Mahasiswa Universitas Indonesia Raih Penghargaan Prototype Hydrogen Fuel Cell di Qatar0
- NASA Akan Menampilkan Teleskop Pemetaan Langit Sebelum Peluncuran0
- BRIN dan IRD Prancis Teliti Dampak Perikanan Rumpon Tuna Sirip Kuning0
Dalam penelitian yang diterbitkan di Nature Communications, kolam air garam itu ditemukan 4.000 kaki sekitar 1.219 meter di bawah permukaan Teluk Aqaba. Kondisi airnya diperkirakan 10 kali lebih asin daripada air laut normal.
Baca juga: Gletser Dunia Kehilangan 6,5 Triliun Ton Es dalam 23 Tahun, Ternyata Ini Penyebabnya
Oksigen di sekitar kolam sangat sedikit sehingga dapat membunuh atau membuat pingsan semua makhluk hidup yang memasukinya. Penelitian itu juga mengklaim predator yang lebih besar mengintai di dekat tepi kolam untuk menangkap mangsa yang tak berdaya akibat kekurangan oksigen.
Tim tersebut berspekulasi bahwa lingkungan ini disebabkan oleh kondisi yang keras seperti Bumi purba. Kondisi ini berlaku untuk lokasi di laut dalam tempat kehidupan mungkin pertama kali muncul.

“Pemahaman kami saat ini adalah bahwa kehidupan berasal di Bumi di laut dalam, hampir pasti dalam kondisi anoksik—tanpa oksigen," kata Purkis dikutip dari laman Foxnews, Jumat (21/2/2025).
Penelitian tersebut bahkan menunjukkan bahwa "kolam kematian" ini mungkin dapat memberikan petunjuk yang membantu pencarian organisme luar angkasa. Ekosistem unik ini adalah salah satu lingkungan paling ekstrem di planet ini.
Baca juga: Superkomputer Prediksi Kapan Bumi Kehabisan Oksigen, Panas Ekstrem akan Musnahkan Manusia
Karena sangat sedikit organisme yang bertahan hidup di kolam air garam, lapisan sedimen tetap tidak terganggu dan telah melestarikan perubahan iklim dan peristiwa geologis masa lalu.
“Biasanya, hewan-hewan ini melakukan bioturbasi atau mengaduk dasar laut, mengganggu sedimen yang terkumpul di sana. Tidak demikian halnya dengan kolam air garam. Di sini, setiap lapisan sedimen yang mengendap di dasar kolam air garam tetap utuh dengan sangat indah,” tutur Purkis.
Dia tim peneliti berharap kondisi murni ini memungkinkan untuk mempelajari kondisi laut purba dengan lebih baik. Keadaan ini diharapkan membantu merekonstruksi pola iklim dan melacak evolusi ekosistem Bumi selama jutaan tahun. (Wasis Wibowo)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
1.jpg)

.png)

.jpg)

.jpg)

