- Polda Kepri Dukung Kampanye 24 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di Batam
- Wanita ini Ubah Sampah Jadi Alat Tukar Bernilai Ekonomi, Contoh Nyata Warga Bantu Warga
- Sari Kreasi Boga Incar Cuan Bisnis Agrifood
- Dongkrak Kunjungan Wisatawan, Gold Coast Ferry Terminal Buka Rute Baru Batam-Singapura
- Pray Sumut dan Sumbar, SARMMI Galang Donasi Bencana Banjir
- Telkomsel Kembali Gelar Jaga Bumi, Tanam 12.731 Pohon Baru dan Serap 824 Ton Emisi Karbon
- Pengamat: Indonesia Swasembada Beras, Stok Dunia Tertinggi Sepanjang Sejarah, Harga Global Anjlok!
- Presiden Prabowo dan Ratu Maxima Bahas Transformasi Inklusi dan Kesehatan Keuangan
- Desa Wisata Sumberoto Kini Makin Menyala Dengan Tenaga Surya
- Abies Bakery, Toko Roti Dengan Standar Higienitas Produksi Buka di Bundaran Ocarina Batam Centre
Ingatan: Indonesia dan Tokoh

Bandung Mawardi
Tukang Kliping, Bapak Rumah Tangga
PERSOALAN besar melanda Indonesia: ingatan. Pada setiap kejutan terjadi di Indonesia, jutaan orang dalam pertaruhan ingatan. Kita sadar album ingatan Indonesia sering bolong dan tercecer. Keinginan memiliki sejarah dan meraih masa depan kadang direpotkan oleh ingatan-ingatan tak lengkap atau rapuh.
Kita dipaksa membuka album ingatan gara-gara 10 November 2025. Pemerintahan memiliki gawe besar dengan menetapkan Soeharto sebagai pahlawan. Penetapan menggunakan referensi dan seleksi ingatan agar Soeharto menjadi sosok luhur, berjasa, dan panutan.
Di kubu berseberangan, pembukaan album ingatan justru menempatkan Soeharto sebagai pihak bersalah atas nasib Indonesia selama Orde Baru. Pertarungan ingatan terjadi. Saling mengunggulkan ingatan-ingatan sudah diseleksi pun membutuhkan argumentasi.
Di media sosial dan koran-koran, usaha menghidupkan pelbagai ingatan diadakan dalam keberpihakan. Ingatan-ingatan untuk menghormati Soeharto melawan segala ingatan buruk penguasa Orde Baru.
Kita membaca ingatan-ingatan dengan cermat agar tak mudah “tertipu” atau “tersesat”. Kita pun mengerti bakal terjadi “ralat” sejarah secara besar akibat penetapan Soeharto sebagai pahlawan. Pada suatu hari, “ralat” berupa buku sejarah resmi itu bisa diladeni dengan kliping-kliping. Semua kerepotan itu demi sejarah Indonesia.
Ikhtiar merawat ingatan tak mudah bila berhadapan kekuasaan. Kita sudah terbiasa dengan pelbagai kepentingan kekuasaan dalam mengubah, membenarkan, atau membelokkan sejarah. Masalah terbesar kita Soeharto tapi urusan mesti mendapat perhatian serius berlipat ganda itu sejarah.
Kita beruntung bila masih mau membaca buku berjudul Sejarah Indonesia Modern 1200-2004 (2005) susunan MC Ricklefs. Buku tetap dianggap “babon” bagi publik ingin mengetahui sejarah Indonesia dan menata ingatan demi menjadi Indonesia.
Ricklefs menerangkan babak penting Soeharto: “Selama 12 tahun rezim Orde Baru, Soeharto mengecap keberhasilan luar biasa. Rencana pembangunan ekonominya disokong oleh melonjaknya harga minyak pada tahun 1970-an. Di tengah-tengah kota metropolitan Jakarta, segala gedung pencakar langit mentereng, muncul satu kelas menengah baru. Kelas menengah ini tidak keberatan dengan menggejalanya korupsi dan pelbagai penindasan rezim. Sebab, Orde Baru dianggap mendatangkan keuntungan besar bagi mereka berserta anak-cucunya.”
Kita mengandaikan masa 1970-an. Indonesia bermimpi makmur. Mimpi besar pun dirusak sejak awal dengan korupsi. Kita diingatkan rezim Orde Baru bergulir dengan bobrok tapi pengisahan sering indah. Rezim itu ingin selalu dianggap menang, mulia, dan demokratis.
Soeharto berada dalam alur buruk meski mudah mengisahkan Indonesia tetap makmur dan sejahtera. Soeharto tetap tampil berwibawa dalam memberi seribu perintah berjudul pembangunan nasional sekaligus membiarkan aib-aib kekuasaan berkembang biak. Pada masa lalu, “kesejahteraan” condong milik elite dan pihak-pihak diuntungkan oleh nalar koruptif Orde Baru.
“Kemenangan” Orde Baru tak langgeng. Segala rusak mulai menggerogoti rezim Orde Baru. Soeharto menjadi sosok paling berkuasa dan menanggung masalah besar. Rezim itu kelelahan. Orde Baru makin sering mendapat serangan. Babak akhir pun dialami oleh Soeharto.
Kita diajak menuju babak tragis Orde Baru melalui penjelasan Ricklefs: “Pada tanggal 18 Mei 1998, Harmoko, Ketua MPR, terang-terangan meminta Soeharto mengundurkan diri demi kepentingan nasional. Pada 19 Mei 1998, Soeharto bertemu dengan sembilan pemimpin Islam terkemuka, termasuk Abdurrahman Wahid dan Nurcholis Madjid, tapi tidak mengikutkan Amien Rais. Seoharto meminta pendapat mereka tentang keharusan turun jabatan.”
Soeharto belum mau kalah. Ia masih mengusulkan pengelolaan reformasi dan mengadakan pemilu. Ia pun berusaha memiliki kabinet bercap reformasi tapi gagal. Para menteri justru menunjukkan sikap “melawan” atau “menolak” kemauan Soeharto.
Kita tambahi keterangan diberikan Faisal H Basri (1999) untuk mengerti Soeharto dalam babak akhir: “Kejadian mencolok beberapa hari sebelumnya cuma berupa pendudukan Gedung DPR/MPR oleh ribuan mahasiswa. Sekalipun gerakan mahasiswa sangat memberikan tekanan terhadap penguasa agaknya sulit untuk mengklaimnya sebagai pemicu suksesi."
"Ada yang berpendapat bahwa pengunduran diri sejumlah menteri di jajaran ekonomi, keuangan, dan industri membuat kabinet praktis lumpuh. Pada akhirnya, memaksa Soeharto mundur. Boleh jadi memang demikian. Namun, ‘pengkhianatan’ mereka tak lepas dari akselerasi pemburukan kondisi ekonomi yang kian tak terkendali. Terlepas adanya motif politik terselubung dari permohonan pengunduran diri para menteri agaknya faktor ekonomilah yang mematangkan tindakan mereka.”
Dua penjelasan itu menggamblangkan Soeharto sebagai penguasa bersalah. Ia gagal mewujudkan impian Indonesia makmur dan sejahtera. Pelbagai kesalahan besar terkuak saat Soeharto ingin terus berkuasa.
Pemahaman publik mengenai Orde Baru berubah drastis. Mereka mulai meragu atas gelar diberikan kepada Soeharto sebagai “Bapak Pembangunan Nasional”. Mereka sadar telah diselenggarakan ribuan sandiwara di Indonesia untuk membohongi dan mengelabui publik selama Orde Baru.
Kini, kita mengingat lagi 1998. Pemicu terbesar itu keputusan pemerintah menjadikan Soeharto sebagai pahlawan. Kita bakal kesusahan “menghapus” ingatan-ingatan buruk agar tergantikan keterangan-keterangan pemerintah menganggap Soeharto berjasa besar untuk Indonesia. Pahlawan itu mulia. Pahlawan bukan sosok dimusuhi dan dihujat. Pada 10 November 2025, jutaan orang “dipaksa” mengakui Soeharto itu pahlawan.
Kita masih bisa membuka masa lalu melalui fiksi. Ingatan dalam fiksi tak sekokoh dalam penulisan (buku) sejarah. Kita sekadar mengingat melalui novel berjudul 1998 gubahan Ratna Indraswari Ibrahim (2012). Novel kadang memberi kita kemungkinan-kemungkinan memahami ketimbang tergesa membuat konklusi.
Ratna Indraswari Ibrahim mengisahkan: “Putri suka kehidupan yang penuh pergulatan seperti permainan arung jeram, kadang-kadang bertemu dengan arus yang besar dan pekikan-pekikan adalah kegembiraan terhadap arus yang besar. Sekarang, Putri ketakutan ketika siaran radio luar negeri mengatakan kalau Soeharto tidak mengubah strategi politiknya, kejatuhannya tinggal menghitung hari.”
Sejarah teringat dalam novel. Kita membaca itu berlatar 1998 saat para mahasiswa dan kaum demonstran mulai mendesak Soeharto agar turun. Pengetahuan tentang babak akhir Soeharto bermunculan di pelbagai media (cetak dan elektronik). Pemberitaan di luar negeri turut menguatkan gerakan perlawanan atas rezim Orde Baru dan penurunan Soeharto.
Kita mengingat demonstrasi dalam misi membentuk masa depan Indonesia tanpa Soeharto lagi. Cerita disajikan: “Penduduk di Malang sudah terbiasa dengan demonstrasi-demonstrasi yang bicara tentang demokrasi. Mereka sudah mulai cuek dengan bisik-bisik yang beredar bahwa presiden seharusnya mundur. Para penduduk tidak merasa perlu menutup toko atau rumahnya ketika para demonstran lewat. Namun, banyak orang mulai sepakat agar demonstrasi yang didengungkan harus ada dalam kehidupan berbangsa agar tidak jadi robot-robot dari beberapa orang sebangsa dan orang asing.”
Sekian hari berlalu setelah penetapan Soeharto sebagai pahlawan. Kita dalam pertempuran ingatan. Sejarah telah ditulis masih bisa dibaca. Para pelaku dan saksi lakon 1998 masih berhak memberi pengisahan dan penjelasan. Album kliping bisa ditumpuk untuk dipelajari. Kita tetap saja bingung Soeharto itu pahlawan tanpa ada tanda-tanda pembatalan. Ingatan-ingatan kita bisa dipatahkan dan disirnakan demi Soeharto. Begitu.
.jpg)

.jpg)



.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)

