Renjana: Luapan Hasrat, Ungkapan Terdalam Hati Seniman

By PorosBumi 27 Nov 2025, 20:31:15 WIB Tilikan
Renjana: Luapan Hasrat, Ungkapan Terdalam Hati Seniman

Bambang Asrini Widjanarko
Penulis dan Kerani Seni Rupa
 

"I am seeking, I am striving, I am in it with all my heart." - Vincent van Gogh

Pameran dengan tajuk ‘Renjana’ dari tujuh pelukis cat air mengulik kembali kosa kata Sanskrit kuno sebagai yang disebut ‘Ranjana’. Yakni, sebuah kekuatan ‘maha dahsyat’ milik seniman sebagai manusia yang merasa dirinya utuh, sebuah driving force, untuk mencapai totalitas mengada antara dirinya dan ‘kanvas hidupnya’ kala mencipta karya.

Bahasa Sanskirt bisa jadi mengartikan Ranjana sebagai ruang kegembiraan, rasa yang sangat kuat tentang sesuatu--passion; demikian juga tatkala salah satu Maestro dunia, Van Gogh yang mengaku dengan translasi bebasnya diartikan: “diperbuat dengan hati, perjuangan juga pencarian tak henti dari melukiskan dengan hasrat terdalam”.

Dari sana, acapkali seniman menjadi demikian luas memiliki imajinasi, perasaan-perasaan dan topik-topik yang digali secara personal untuk subject matter karya-karyanya yang Frida Kahlo, seniwati dunia itu menyatakan bahwa "I paint myself because I am alone. I paint myself because I am the subject I know best."

Dikarenakan kesendirian yang membeku dan mengigilkan, ia melihat dirinya, sebagai subyek, yang seterusnya ia gambarkan, kenali lebih dari segalanya yang ada di dunia.

"If you hear a voice within you say 'you cannot paint,' then by all means paint, and that voice will be silenced.”, kata Van Gogh sebagai konsep ‘Ranjana’ versi dia, adalah suara-suara dari dalam hati yang terus-menerus terngiang-ngiang dan kemudian berhenti, tatkala sapuan kuas dengan gairah penuh mendarat di kanvas!

Sekarang kita tengok, tujuh pelukis cat air yang menggelar karya-karyanya ini di Balai Budaya.Pelukis Michellina Triwardhany atau Dhani sebagai yang diakuinya bahwa karyanya adalah momen-momen hening yang penuh kehadiran, dengan menimbang ‘gerak alam’ ia mengamati kemudian memunculkan sesuatu yang memikat hatinya.  
 
Dhani membawa obyek-obyek lukisan berjarak, yakni karya-karyanya yang lain juga senada dengan judul The Guide, 50 x 40 cm, 2025 dan The Exsplorer, 50 x 40 cm, 2025. Dari dua karya di atas ia menafsirkan abstraksi gelombang laut dengan mempesona, ada keteguhan sekaligus gambaran ketenangan, kapal yang didera gelombang laut saat sama sebuah mercusuar diterjang badai angin dan air.

Sebagai penulis, saya pada akhirnya memilih karyanya yang lebih elok: The Listener, 50 x 40 cm, 2025 dari yang terbaik miliknya, sebab Dhani memanifestasikan makna terdalam ‘Sang Pendengar’ bentuk-bentuk seperti tirai air yang tembus-pandang dengan warna kelabu; menghablur-hilang yang mungkin samar-samar untuk memahami dengan ‘getar-hati’ miliknya. 

Kita sekarang berpindah pada pelukis Dian Fitrasari yang memilih hasratnya untuk ‘memoret’ momentum manusia-manusia dalam keseharian. Ia menangkap suasana kehidupan orang-orang sederhana di pedesaan, yang beraktifitas menanak nasi, menangkap ikan, gambaran seseorang sedang mengayam, lelakon yang dekat dengan alam rupanya terhunjam dalam benaknya.

Dalam komposisi lukisan yang ideal dan memilih bahasa realis yang sesekali menyelipkan judul-judul falsafi. Dian hendak pula membangun suasana, senja yang temaram menerobos di ruangan dan cahaya matahari pagi yang berpendar dan tentunya, sebagai penulis saya terpikat pada ini: Catch Fish, not Feelings, 76 x 56 cm, 2025.

Dian pada karya itu membebaskan dirinya dalam aroma dan panorama ruang dan waktu serta perspektif fotografis. Ia dengan sengaja membebaskan obyek-obyek ikan-ikan yang elok itu tertangkap dengan kombinasi latar laburan cat air yang meleleh dan menawarkan sebuah perasaan-perasaan melankoli yang lebih beragam.

Kita mengunjungi pelukis lain, yakni Niken Vijayanti alias Nieke. Seperti pengakuan Niken, ia melukis sebagai tempat bagi ruang kejujuran dan perjalanan jiwa, yang masih katanya adalah lahir dari rasa tenang dan kekaguman pada kehidupan sederhana.

Ruang kejujuran dan perjalanan jiwa menampak jelas dalam karya-karya yang ia terpikat pada bahasa realis, seperti layaknya perempuan, terekat intim emosi-spiritual dengan Bapaknya dalam karya Kangen Bapak, 76 x 56 cm, 2025.

Rupanya ia memberi metafora dan perlambangan-perlambangan yang puitik dengan benda mesin ketik era 70-80an dan latar seperti api kecil yang menjalar, ada rasa intim nan hangat tak berjarak dan cara melukiskannya dengan menghindari karakter air yang tembus-pandang.
 
Mungkin karya Kangen Bapak ini yang menurut penulis karya terbaiknya semacam ilustrasi ‘buku-hati-spiritual’ yang elok, serta Hanging Hope, 76 x 56 cm, 2025, bagaikan karya filmis; sebuah cerita—story teller-- yang menyentuh.

Kita sekarang menghampiri pelukis Aviliani yang memeluk pendar warna-warni kehidupannya. Pendekatan-pendekatan cat airnya lebih pada ikhtiar fundamen dasar-dasar membagi bidang, membuat pola-pola bentuk yang bersentuhan satu dan lainnya, ketelatenan memberi sentuhan warna membeda dan saling berdialog satu dan lainnya.

Aviliani sebagai katanya, hidup itu perlu keseimbangan, mungkin dengan penataan dan komposisi lukisn-lukisan ideal yang saling memberi pencerahan, ia menemukan dirinya di sana. Pilihan terbaik bagi penulis, adalah King of the Spirits (Bali Mithology), 56 x 38 cm, 2025.
Di karya yang terakhir itu, Aviliani lebih kaya memadukan keindahan warna, garis dan bidang bertemu; yang saya rasa ada semangat pencarian gradasi-gradasi warna khusus dan membeda,  secara karakter sabetan kuas keringnya bercampur basah telaten membalur di kanvas/kertas satu persatu.

Kita sekarang menemui pelukis cat air laki-laki satu-satunya di pameran ini, yakni Baskoro Sardadi. Baskoro piawai memang menggunakan medium ini, sabetan kuas cat air, dengan meleleh, menciprat sesekali menajam keras dan lain kali menghablur-menghilang bersenyawa dengan latar putih kertas/kanvas. Nampaknya, ia menghindari konsep-konsep falsafi kehidupan yang bermakna selain skill yang mengagumkan ia torehkan.

Kuasnya, sebagai penulis, saya membayangkan yang paling tepat: menari-nari dengan indah. Ia momen tertentu mencipta kesan menampakkan wujud obyek, memberi sekilas bayang-bayang dan mencampurnya dengan ekspresi spontan pun melenggak-lenggok lembut, jenaka lagi kocak.

Kita menemui sekarang pelukis cat air perempuan lagi: Enda Ginting. Rupanya, pelukis ini mematut dirinya sebagai perempuan menampak dalam bayang-bayang dengan berbagai posisi dan simbol-simbol disekitarnya dari buku, binatang, jam sampai jemuran yang mungkin ini paparan dari kehidupan privat di urban living.

Unik dan berbakat pejelajah, termasuk kesukaannya untuk menggoreskan karakter air yang lembut, transparan sesekali secara ekspresif spontan dan juga ditepuk dengan efek dan alat tertentu menanggalkan jejak artistik unik di sejumlah karyanya.

Enda peka menggores lukisan cat air, dengan bidang kanvas/kertas yang berjarak-pemberian sebuah suasana-panorama seolah mistis antar obyek dan latar.Strategi visual yang dilakukan Enda, menurut penulis menapaki pucak keelokannya saat di karya Tree of Possiblities, 56 x 76 cm, 2025 yang seturut pelukis menjadi favorit di karya pamerannya kali ini.
 
Enda, selain secara skill memadai; ia juga menggabungkan makna tentang konsep falsafi Pohon dan kemungkinan-kemungkinan yang tersandang didalamnya. Yang hal itu menerbangkan benak bahwa hidup itu adalah rangkuman dari refleksi ini: ranting, daun, pohon, akar, batang buah dan sisi-sisi buram, bayangan-bayangan kelabu sampai buah yang manis merona, serta membaurkannya semua menjadi satu-kesatuan; adalah alam kemungkinan hidup kita atas yang lalu dan esok?

Pelukis cat air terakhir dari ke tujuh seniman yang berpameran, kita bersua dengan Dumasi Marisina Magdalena Samosir. Dari semua lukisan miliknya yang di pamerkan oleh Dumasi, ia menunjukkan kepekaan pada teknik yang mumpuni; baik karya-karya yang ralatif mungil sampai ukuran menengah. Sebagai sebuah ‘Renjana’ hidupnya pada seni, rupanya Dumasi sangat terpikat pada alam bawah laut.

Ia ciamik menggubah sepertinya seorang komposer antara yang sedikit berbau realis-representasional sampai yang abstraktif tak menampak wujud bahkan keduanya mampu disandingkan dalam aransemen bidang gambar. Perpaduan skill/ teknik, eksplorasi tematik sampai komposisi abstraknya lumayan mengagumkan.

Karya-karyanya seperti laiknya simfoni yang terjaga antara kedalaman transparansi karakter air selain juga judul-judul yang menggoda untuk seakan kita dibawa nenuju panorama abstraktif bawah laut.

Karyanya Dumasi, saya rasa sebagai penulis memuncak di When Colors Breathe,  76 x 112 cm, yang kita dituntun bersama-sama arti ‘Renjana’ ala Dumasi merambah pada ‘teka-teki keelokan laut’ atau bisa jadi warna-warni berceloteh dan menyapa, yang disana kita temui ‘arsitektural’  warna, bentuk-bentuk sosok mungil penyelam sampai ikan, sulur-sulur indah terumbu karang dan misteri laut yang benar-benar memukau.

Maka, Renjana adalah pergumulan tak henti tentang totalitas tujuh pelukis yang tergabung di ABAS Studio dengan mentornya Agus Budiyanto, selain bertemunya pengalaman-pengalaman nalar-rasa kehidupan antara pelukis dan karyanya; serta apresian yang juga diharapkan sepenuh hati dan keintiman yang sama mengapresiasinya.
 
Selamat menikmati karya-karya tujuh pelukis ini dan Salam Budaya




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment