- Hobiholidays Hadirkan Era Baru Tour Leader Profesional di Indonesia, Cocok Nih Buat Gen Z
- 11 Bandara Perintis Papua Kembali Kondusif
- SMRA Terus Lengkapi Kawasan Terpadu Bernilai Investasi
- Sebuah Kisah Diplomasi Pangan Indonesia, Dari Ladang Nusantara ke Meja Arab Saudi
- Baterai Ponsel Cepat Habis Padahal Nggak Dipakai? Ini 5 Biang Keroknya yang Bikin Kamu Kaget
- Jangan Kaget! Villa Hantu di Lombok Ini Justru Bikin Kamu Ketagihan, Ini Lho Alasannya
- 5 Aspirasi Gen Z Singkawang Ini Ngena Banget yang Bikin Menko AHY Kagum, Apa Saja Sih?
- Dari Penjual Es Lilin hingga General Manager, 5 Rahasia Sukses Kepemimpinan Anak Papua
- Selat Hormuz Mencekam, RI Terancam, Kok Bisa? Alarm Keras untuk Transisi Energi Nasional
- Update Perang AS-Israel Vs Iran, 2 Maret 2026: Strategic Intelligence & Battle Damage Assessment
Mengejar Swasembada, Melupakan Tanah: Bahaya di Balik Euforia Pupuk Murah

SURABAYA - Dalam beberapa bulan terakhir, penurunan harga pupuk kimia dan peningkatan kuota subsidi pemerintah disambut gembira oleh banyak petani di berbagai daerah. Langkah ini dinilai sebagai upaya memperkuat ketahanan dan kemandirian pangan nasional. Namun di balik euforia tersebut, muncul kekhawatiran serius, tanah pertanian kita perlahan kehilangan daya hidupnya akibat penggunaan pupuk kimia yang berlebihan jika tanpa diimbangi dengan bahan organik.
Para ahli pertanian menilai, penggunaan pupuk kimia dalam jangka panjang memang mampu meningkatkan hasil panen secara cepat, tetapi sekaligus mempercepat degradasi kesuburan tanah. Unsur hara mikro yang semula alami di dalam tanah kian menurun, mikroorganisme tanah mati, dan struktur tanah menjadi keras serta sulit menyimpan air. Akibatnya, produktivitas pertanian akan menurun secara bertahap, bahkan memicu risiko gagal panen atau puso jika terus dibiarkan.
Fenomena ini sejatinya bukan hal baru. Sejak era Revolusi Hijau beberapa dekade lalu, ketergantungan terhadap pupuk kimia dan pestisida sintetis telah menimbulkan kerusakan ekologis yang mendalam. Kini, sejarah itu berpotensi terulang jika orientasi pembangunan pertanian hanya menitikberatkan pada peningkatan produksi, bukan pada keberlanjutan lahan.
"Mengejar swasembada pangan tidak bisa mengabaikan fondasi utama pertanian, yakni tanah yang sehat dan subur. Penggunaan pupuk kimia memang tak bisa dihapus sepenuhnya, tetapi perlu diseimbangkan dengan penambahan pupuk organik seperti kompos, pupuk kandang, atau pupuk hayati," ujar Eko Cahaya Priyanto, Ketua Pandu Tani (PATANI) Kanwil Jawa Timur.
Eko mengulas, bahan-bahan dalam pupuk organik berfungsi memperbaiki struktur tanah, meningkatkan populasi mikroba baik, dan mengembalikan keseimbangan ekosistem mikro yang dibutuhkan tanaman untuk tumbuh optimal.
"Menjaga kesuburan tanah bukan hanya urusan teknis pertanian, tetapi investasi jangka panjang bagi ketahanan pangan bangsa. Pupuk murah memang menggembirakan, namun tanpa perawatan tanah yang berkelanjutan, keberhasilan swasembada bisa menjadi semu," tukasnya.
"Sudah saatnya petani, pemerintah, dan pelaku industri bergerak bersama menuju pertanian berimbang, di mana produktivitas dan kelestarian tanah berjalan seiring, bukan saling meniadakan," tandas Eko. (arif wibowo)
.jpg)
1.jpg)

2.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)

