- Hilirisasi Grup MIND ID, Transformasi Pertambangan Berbasis Nilai Tambah
- Cerita Eks Wartawan Jualan Cabai yang Diborong Mentan Amran dari Daerah Bencana Aceh
- Kepungan Bencana Ekologis dan Keharusan Reformasi Fiskal Sektor Ekstraktif
- Pertumbuhan Ekonomi 2026 Ditaksir 5 Persen, WP Badan Harus Siap Diperiksa
- Ikhtiar Nyata SDG Academy Indonesia: Konektivitas Data, Kebijakan, dan Kepemimpinan
- Kembangkan Potensi Anak, LPAM Mirabel dan Ilmu Politik UNY Gelar Peringatan Hari Ibu
- Sambut Nataru dan HAB Kemenag ke-80, PD IPARI Karanganyar Bersih-Bersih Rumah Ibadah Lintas Agama
- Penguatan Sektor Riil Kunci Capai Target Pertumbuhan Ekonomi 5,4 Persen di 2026
- Musim Mas Dukung Pemkab Deli Serdang Hadirkan Ruang Publik Bersama melalui Pembangunan Alun-Alun
- Sidang Pengeroyokan di Tanjungpinang, Korban Soroti Terdakwa Tak Ditahan
Kisah Hanako, Koi di Jepang yang Berumur Lebih dari 2 Abad

HANAKO, seekor koi Jepang, menjadi legenda hidup karena usianya yang luar biasa, diklaim mencapai 226 tahun. Lahir sekitar 1751, ia hidup melewati lebih dari dua abad, hingga meninggal pada 7 Juli 1977.
Selama hidupnya, Hanako berenang di kolam pegunungan yang jernih di Jepang, dirawat oleh beberapa generasi pemilik yang menanggapinya sebagai bagian dari keluarga. Beratnya tercatat sekitar 7,5 kg dengan panjang 70 cm, ukuran yang menunjukkan pertumbuhan stabil meski usianya sudah lanjut.
Pada 1966, tim peneliti dari Nagoya Women’s College mengambil dua sisiknya untuk menghitung cincin pertumbuhan, metode yang mirip dengan menghitung usia pohon dari cincin batangnya.
Hasil penghitungan menunjukkan Hanako telah melewati lebih dari dua abad hidup. Analisis ini menjadi dasar klaimnya sebagai salah satu koi tertua yang pernah tercatat.
Kehidupan Hanako bukan sekadar panjang umur. Ia menyaksikan perubahan besar dalam sejarah Jepang, dari era Samurai dan Shogun, revolusi industri, hingga modernisasi abad ke-20.
Bayangkan seekor ikan yang lahir ketika dunia masih didominasi pedang dan kastil, tetap hidup ketika manusia pertama mendarat di bulan.
Nama Hanako, yang berarti “flower girl,” tepat menggambarkan keindahan dan ketenangan hidupnya yang panjang, seperti bunga yang mekar pelan namun abadi di kolam.
Meskipun cerita ini menakjubkan, ada keraguan ilmiah mengenai keakuratan usia 226 tahun. Penghitungan cincin pada sisik memiliki keterbatasan, dan metode ini bisa memberikan hasil berlebih atau kurang. Belum ada publikasi peer-review yang memastikan klaim ini secara ilmiah.
Namun, Hanako tetap menjadi simbol keajaiban alam dan kesabaran manusia dalam merawat kehidupan, inspirasi bagi pecinta koi dan peneliti hewan, bukti nyata bahwa alam menyimpan misteri yang melampaui waktu.
.jpg)
1.jpg)

.jpg)

6.jpg)
.jpg)
1.jpg)
.jpg)

.jpg)

