- Baterai Kalsium Siap Menantang Litium, Jadi Alternatif Energi Terbarukan Masa Depan
- Majelis Dikdasmen PC Muhammadiyah Tawangsari Adakan Penguatan Ideologi
- Bikin Takjub, Ilmuwan Ciptakan Cairan yang Bisa Menyimpan Tenaga Matahari
- Pikir Dulu Sebelum Mengirim Pertanyaan ke AI, Data Pribadi Anda Bisa Terungkap
- In Situ/In Vitro, Percakapan Ekologis Dua Seniman dalam Bayang-bayang Antroposen
- Konsep Indonesia Naik Kelas, Kunci Tekan Kemiskinan di Bawah 5%
- Beyond Energy: Langkah Baru Pertamina Pimpin Transisi Energi Hijau
- Presiden Prabowo: Ketahanan Pangan Jadi Urusan Keamanan Negara
- Polri Akan Membangun 10 Gudang Ketahanan Pangan Baru di 2026
- Berhenti Makan 3 Jam Sebelum Tidur Agar Jantung Lebih Sehat
Baterai Kalsium Siap Menantang Litium, Jadi Alternatif Energi Terbarukan Masa Depan
Perangkat elektronik suatu hari mungkin akan ditenagai baterai yang dibuat dari unsur tulang

Keterangan Gambar : Baterai kalsium-ion diyakini bisa menggantikan lithium-ion yang selama ini bnyak digunakan pada perangkat elektronik
Bayangkan jika suatu hari ponsel, mobil listrik, bahkan sistem penyimpanan energi di rumah kita ditenagai bahan yang juga membentuk tulang dan gigi manusia. Bukan litium, melainkan kalsium—unsur yang jauh lebih melimpah di bumi.
Di tengah lonjakan penggunaan energi terbarukan dan kendaraan listrik, dunia sedang berburu baterai generasi berikutnya. Selama ini, baterai lithium-ion menjadi tulang punggung hampir semua perangkat modern. Mulai dari ponsel pintar hingga mobil listrik, semuanya bergantung pada litium.
Baca Lainnya :
- Bikin Takjub, Ilmuwan Ciptakan Cairan yang Bisa Menyimpan Tenaga Matahari0
- Pikir Dulu Sebelum Mengirim Pertanyaan ke AI, Data Pribadi Anda Bisa Terungkap0
- Beyond Energy: Langkah Baru Pertamina Pimpin Transisi Energi Hijau0
- Berhenti Makan 3 Jam Sebelum Tidur Agar Jantung Lebih Sehat0
- 6 Cara Menjaga Kesehatan Jantung, Organ yang Menentukan Hidup Kita0
Namun ada dua masalah besar, pasokannya terbatas dan harganya mahal. Ditambah lagi, teknologi ini kian mendekati batas maksimal kinerjanya. Di sinilah kalsium mulai dilirik.
Tim peneliti dari Hong Kong University of Science and Technology bersama rekan mereka dari Shanghai Jiao Tong University mengembangkan baterai kalsium-ion dengan performa yang jauh lebih stabil dibanding versi sebelumnya. Hasil riset ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bergengsi Advanced Science.
Kalsium memiliki keunggulan sederhana tapi krusial, jumlahnya melimpah. Unsur ini jauh lebih mudah ditemukan dibanding litium, sehingga secara teori bisa lebih murah dan lebih ramah lingkungan. Tegangan operasinya pun mirip dengan baterai lithium-ion, artinya secara teknis kalsium bisa menggantikan peran litium di banyak perangkat.
Masalahnya, selama ini baterai kalsium sulit “bergerak”. Ion kalsium—partikel bermuatan yang membawa energi di dalam baterai—tidak mudah berpindah dari satu sisi ke sisi lain. Akibatnya, performanya kurang stabil dan cepat menurun setelah beberapa kali pengisian ulang.
Untuk mengatasi hambatan itu, para peneliti merancang material baru bernama elektrolit kuasi-padat. Bayangkan seperti jalan tol khusus yang memandu ion kalsium melaju lebih lancar di dalam baterai.Material ini dibangun dari kerangka organik kaya gugus karbonil yang membentuk saluran-saluran kecil dan teratur. Saluran inilah yang membantu ion kalsium bergerak cepat dan efisien pada suhu ruang—tanpa perlu kondisi ekstrem.
Hasilnya cukup mencengangkan. Baterai ini mampu bertahan lebih dari 1.000 siklus pengisian dan pengosongan dengan kapasitas energi yang tetap tinggi. Artinya, setelah digunakan berulang kali, performanya tidak langsung merosot drastis.
Daya tahan lebih dari 1.000 siklus adalah sinyal kuat bahwa teknologi ini tidak sekadar eksperimen laboratorium. Jika terus dikembangkan, baterai kalsium-ion berpotensi digunakan untuk penyimpanan energi skala besar—misalnya menyimpan listrik dari panel surya atau turbin angin—hingga kendaraan listrik.
Karena kalsium tersedia luas di alam, ketergantungan pada sumber daya langka bisa dikurangi. Dampak lingkungan dari proses penambangan pun berpotensi ditekan. Memang, teknologi ini belum siap masuk pasar dalam waktu dekat. Masih ada tahap pengembangan dan uji coba lanjutan.
Namun arah risetnya jelas, dunia tidak ingin hanya bergantung pada litium. Jika langkah ini berhasil, masa depan penyimpanan energi bisa berubah. Rumah, mobil, dan perangkat elektronik kita mungkin suatu hari akan ditenagai unsur yang selama ini kita kenal sebagai bagian dari tulang—membuktikan bahwa solusi energi bersih bisa datang dari elemen paling umum di bumi.
.jpg)
1.jpg)

2.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)

