- Bikin Takjub, Ilmuwan Ciptakan Cairan yang Bisa Menyimpan Tenaga Matahari
- Pikir Dulu Sebelum Mengirim Pertanyaan ke AI, Data Pribadi Anda Bisa Terungkap
- In Situ/In Vitro, Percakapan Ekologis Dua Seniman dalam Bayang-bayang Antroposen
- Konsep Indonesia Naik Kelas, Kunci Tekan Kemiskinan di Bawah 5%
- Beyond Energy: Langkah Baru Pertamina Pimpin Transisi Energi Hijau
- Presiden Prabowo: Ketahanan Pangan Jadi Urusan Keamanan Negara
- Polri Akan Membangun 10 Gudang Ketahanan Pangan Baru di 2026
- Berhenti Makan 3 Jam Sebelum Tidur Agar Jantung Lebih Sehat
- Diversifikasi Jadi Kunci Masa Depan Pertanian
- Cara Anak Muda Mengelola Keuangan di 2026, Gaya Hidup Jalan Uang Tetap Aman
Bikin Takjub, Ilmuwan Ciptakan Cairan yang Bisa Menyimpan Tenaga Matahari
Alih-alih mengubah sinar matahari menjadi listrik, molekul tersebut menangkap energi dan mengunci dalam strukturnya sendiri

Keterangan Gambar : Selama ini tenaga surya hampir selalu berputar pada panel dan baterai
Saat matahari bersinar terik, panel surya bekerja keras menghasilkan listrik. Tapi begitu senja datang atau awan tebal menggantung, produksi energi yang dihasilkan langsung turun drastis. Di sinilah persoalan klasik energi terbarukan muncul, bagaimana menyimpan tenaga matahari agar tetap bisa dipakai saat gelap? Sekelompok ilmuwan dari University of California, Santa Barbara menawarkan jawaban yang terdengar seperti fiksi ilmiah, “baterai surya cair” yang tidak menghasilkan listrik sama sekali, melainkan menyimpan sinar matahari langsung di dalam ikatan kimia.
Temuan yang dipublikasikan di jurnal Science ini memperkenalkan molekul organik khusus yang bekerja seperti spons cahaya. Alih-alih mengubah sinar matahari menjadi listrik, molekul tersebut menangkap energi dan mengunci dalam strukturnya sendiri. Energi itu kemudian bisa dilepaskan kembali sebagai panas kapan pun dibutuhkan.
Baca Lainnya :
- Pikir Dulu Sebelum Mengirim Pertanyaan ke AI, Data Pribadi Anda Bisa Terungkap0
- Beyond Energy: Langkah Baru Pertamina Pimpin Transisi Energi Hijau0
- Berhenti Makan 3 Jam Sebelum Tidur Agar Jantung Lebih Sehat0
- 6 Cara Menjaga Kesehatan Jantung, Organ yang Menentukan Hidup Kita0
- Secangkir Kopi di Pagi Hari, Sahabat Jantung atau Ancaman Tersembunyi?0
Bahan yang dikembangkan adalah versi modifikasi dari senyawa bernama pirimidon. Senyawa ini termasuk dalam bidang yang disebut molecular solar thermal energy storage—teknologi penyimpanan panas matahari di tingkat molekuler. Bayangkan kacamata hitam fotokromik yang otomatis menggelap saat terkena sinar matahari, lalu kembali jernih di dalam ruangan.
Molekul ini bekerja dengan prinsip serupa. Saat terkena cahaya, bentuknya berubah dan energi tersimpan di dalam perubahan struktur tersebut. Ketika dipicu oleh panas atau katalis, molekul kembali ke bentuk semula sambil melepaskan energi yang disimpan, dalam bentuk panas.
Karena prosesnya bisa dibalik berulang kali, material ini berfungsi seperti baterai yang bisa diisi dan dikosongkan tanpa kehilangan performa. Yang menarik, desain molekul ini terinspirasi dari DNA. Beberapa komponen DNA secara alami berubah struktur ketika terkena sinar ultraviolet. Para peneliti menciptakan versi sintetis dari mekanisme tersebut, menghasilkan molekul yang mampu menyimpan energi dalam waktu sangat lama tanpa rusak.
Hasil pengujian menunjukkan sesuatu yang mengejutkan, kepadatan energinya sangat tinggi, bahkan melampaui banyak baterai lithium-ion. Lebih mengesankan lagi, energi yang tersimpan tetap stabil selama bertahun-tahun. Artinya, secara teori, energi matahari musim panas bisa “ditabung” dan dipakai untuk menghangatkan rumah di musim dingin.
Dalam demonstrasi laboratorium, panas yang dilepaskan dari bahan ini bahkan cukup untuk merebus air pada suhu ruang. Ini bukan sekadar eksperimen kecil, sebab merebus air membutuhkan energi besar, sehingga hasil tersebut membuka peluang aplikasi nyata.
Potensi penggunaannya luas. Material ini bisa dilarutkan dalam air dan disirkulasikan melalui kolektor di atap rumah pada siang hari untuk menyerap cahaya matahari. Cairan yang sudah terisi energi kemudian disimpan di tangki, siap melepaskan panas saat malam tiba.
Tanpa baterai listrik terpisah, tanpa infrastruktur rumit. Energi disimpan langsung oleh materialnya sendiri. Aplikasinya bisa untuk memanaskan rumah, menghangatkan air, hingga menyediakan sumber panas di lokasi terpencil seperti area perkemahan atau daerah tanpa akses jaringan listrik.
Selama ini, diskusi tentang tenaga surya hampir selalu berputar pada panel dan baterai. Temuan ini menawarkan pendekatan berbeda, menyimpan energi bukan sebagai listrik, tetapi sebagai panas yang terkurung dalam molekul. Teknologinya memang masih dalam tahap pengembangan. Namun, langkah ini menunjukkan bagaimana kimia bisa menjadi kunci untuk menjawab salah satu tantangan terbesar energi terbarukan.
Jika kelak berhasil diproduksi secara massal, baterai surya cair ini bisa membuat kita tak lagi cemas ketika matahari tenggelam. Energi tetap tersedia, tersimpan rapi dalam cairan, menunggu saat yang tepat untuk dilepaskan. Mungkin, di masa depan, kita tak hanya menjemur pakaian di bawah matahari. Kita juga akan menjemur energi, menyimpannya dalam botol, dan memakainya kapan saja kita butuhkan.
.jpg)
1.jpg)

2.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)

