Cara Anak Muda Mengelola Keuangan di 2026, Gaya Hidup Jalan Uang Tetap Aman
Gaya hidup modern tak harus menjadi musuh keuangan

By Yani Andriyansyah 13 Feb 2026, 20:38:20 WIB Life Style
Cara Anak Muda Mengelola Keuangan di 2026, Gaya Hidup Jalan Uang Tetap Aman

Keterangan Gambar : Ngopi, belanja daring, hingga transaksi harian lewat ponsel menjadi rutinitas Sebagian besar anak muda saat ini. (dok.seabank)


Sore setelah jam kantor usai, banyak anak muda tak langsung pulang. Mereka mampir ke kedai kopi langganan. Sambil menyeruput es latte, membuka ponsel, membayar tagihan, memesan makan malam, memeriksa langganan platform hiburan, lalu mentransfer uang ke keluarga. Semua selesai dalam hitungan menit.


Begitulah potret keseharian anak muda Indonesia di 2026serba cepat, serba digital, dan serba praktis.Ngopi sepulang kerja, belanja daring tengah malam, hingga transaksi harian lewat ponsel kini bukan lagi kemewahan, melainkan rutinitas. Di balik kenyamanan itu, ada satu tantangan besar, bagaimana menjaga agar gaya hidup tetap jalan tanpa membuat kondisi keuangan oleng di akhir bulan?

Baca Lainnya :


Direktur Keuangan SeaBank Indonesia, Lindawati Octaviani, melihat perubahan pola ini sebagai dinamika yang wajar. “Anak muda hari ini sangat aktif dan produktif. Tantangannya bukan sekadar menahan konsumsi, melainkan mengelola uang dengan lebih sadar dan terencana. Dengan pengelolaan yang tepat, gaya hidup bisa tetap berjalan tanpa mengorbankan stabilitas keuangan,” ujarnya.


Pernyataan itu terasa relevan. Sebab hari ini, masalahnya bukan lagi soal boros atau tidak. Justru karena semuanya terasa mudah, transaksi terjadi nyaris tanpa jeda. Satu klik untuk diskon, satu sentuhan untuk checkout, satu notifikasi untuk bayar.


Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 menunjukkan indeks literasi keuangan nasional sudah mencapai 66,46 persen. Artinya, makin banyak masyarakat memahami produk dan layanan keuangan. Namun pemahaman saja tidak cukup. Konsistensi dalam praktik mengelola uang menjadi kunci, terutama bagi generasi yang hidupnya terhubung 24 jam dengan aplikasi finansial.


Namun masih banyak kebiasaan yang sering terjadiMengandalkan satu rekening utama untuk segala kebutuhan. Gaji masuk, langsung bercampur dengan biaya makan, hiburan, cicilan, dan belanja impulsif. Tanpa pemisahan yang jelas, uang untuk rencana jangka menengah—seperti liburan, dana darurat, atau uang muka rumah—perlahan tergerus. Bukan karena niat, tapi karena tidak terasa.


Lindawati menyarankan langkah sederhana namun efektifpisahkan fungsi uang. “Pemisahan rekening untuk kebutuhan harian dan simpanan jangka menengah bisa membantu anak muda menata keuangan tanpa harus mengorbankan gaya hidup,” jelasnya.


Tabungan digital bisa menjadi pusat kendali transaksi harian—tempat keluar masuk uang dengan cepat dan fleksibel. Sementara itu, simpanan berjangka seperti deposito dapat menjadi rem alami agar dana tidak mudah dicairkan secara spontan.


Deposito Digital Bukan Sekadar Simpanan


Di tengah derasnya arus transaksi digital, deposito kini tak lagi identik dengan produk konvensional yang kaku. Bagi Gen Z dan Milenial, deposito digital justru menjadi cara “mengunci” uang agar tetap aman sekaligus berkembang.


Di SeaBank Indonesia, rata-rata transaksi harian bahkan tercatat lebih dari 10 juta transaksi per hari—angka yang mencerminkan betapa digital banking telah menjadi bagian dari gaya hidup. Namun untuk dana yang tidak dipakai dalam waktu dekat, deposito menawarkan dua keuntungan sekaligus, imbal hasil yang stabil dan disiplin finansial. Karena berjangka, uang tidak bisa sembarang ditarik saat tergoda promo dadakan.


“Deposito digital kami lihat bukan hanya sebagai produk simpanan, tetapi juga alat bantu membangun kebiasaan finansial yang sehat. Ini cocok bagi anak muda yang ingin tetap menikmati hidup, sambil memastikan sebagian uangnya bekerja dengan aman,” tambah Lindawati.


Di balik kemudahan transaksi, aspek keamanan tetap menjadi fondasi utama. SeaBank Indonesia beroperasi sebagai bank yang berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan serta berada dalam pengawasan Bank Indonesia. Artinya, kenyamanan digital tetap berdiri di atas sistem yang diawasi secara ketat.


Gaya hidup modern tak harus menjadi musuh keuangan. Ngopi boleh, langganan hiburan tetap jalan, belanja daring sesekali tak masalah. Yang penting, ada sistem yang membuat uang tidak sekadar lewat—tetapi juga tumbuh. Di 2026, anak muda tak lagi dipaksa memilih antara “hidup sekarang” atau “aman nanti”. 


Dengan pengelolaan yang lebih sadar, keduanya bisa berjalan berdampingan. Karena pada akhirnya, finansial yang sehat bukan soal menahan diri sepenuhnya. Melainkan soal tahu ke mana uang pergi—dan memastikan sebagian tetap tinggal untuk masa depan.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment