- Kementrans Kirim Tim Investigasi Kasus Pencabutan Sepihak SHM Transmigran di Kotabaru Kalsel
- Ketika Lapar Tak Hanya Soal Perut, Krisis Sunyi di Balik Ketidakamanan Pangan
- BRIN Pimpin Penelitian Internasional Pemuliaan Pisang Liar untuk Perkuat Ketahanan Pangan
- Kunjungan AHY di Bumi Sriwijaya Perkuat Koordinasi Pembangunan Infrastruktur Strategis Sumsel
- Ide Baterai Thomas Edison yang Sempat Hilang, Kini Bangkit untuk Era Energi Terbarukan
- Begini Cara Tidur Yang Baik untuk Menjaga Kesehatan Jantung
- Matematika Itu Mudah, Bukan? Saatnya Belajar Angka Tak Lagi Menakutkan
- Begini Cara XLSMART Menjaga Detak Digital Saat Ramadan dan Lebaran 2026
- Hilirisasi Bauksit Kalbar, Perkuat Ekonomi Daerah dan Buka Lapangan Kerja
- Program Hilirisasi Fase-I Bagian Transformasi Ekonomi Nasional
Ketika Lapar Tak Hanya Soal Perut, Krisis Sunyi di Balik Ketidakamanan Pangan
Ketidakamanan pangan bisa memengaruhi kesehatan mental

Keterangan Gambar : Bagi sebagian orang ketidakamanan pangan sangat memengaruhi beban mental yang menggerogoti diam-diam.
Bagi jutaan orang, persoalan makan hari ini bukan sekadar urusan isi piring. Di balik angka-angka statistik tentang harga bahan pokok dan bantuan pangan, tersimpan cerita yang jarang terdengar, rasa malu, terisolasi, dan beban mental yang menggerogoti diam-diam.
Penelitian terbaru dari perusahaan sosial pemenang penghargaan Community Shop mengungkap sisi tersembunyi dari ketidakamanan pangan. Temuannya menunjukkan bahwa krisis ini tak berhenti pada kesulitan finansial, tetapi merembet ke kesehatan mental dan harga diri.
Baca Lainnya :
- BRIN Pimpin Penelitian Internasional Pemuliaan Pisang Liar untuk Perkuat Ketahanan Pangan0
- Prabowo Optimistis Tiga Tahun Indonesia Swasembada Semua Komoditas Pangan Strategis0
- Ampas Kopi Ternyata Bisa Menghilangkan Logam Beracun Dari Air Yang Terkontaminasi 0
- 5 Jenis Pertanian Perkotaan di Lahan Sempit, Bisa Mendatangkan Cuan0
- Jenis Makanan Ini Sangat Berbahaya Bagi Penderita Kanker 0
Sepertiga responden (32%) mengaku pengalaman tidak mampu membeli makanan berdampak negatif pada kesehatan mental mereka. Sementara itu, 28% mengatakan kondisi tersebut memengaruhi harga diri. Artinya, ketika dapur tak lagi mengepul seperti biasa, yang goyah bukan hanya fisik, tetapi juga rasa percaya diri dan martabat.
Riset yang dilakukan bersama Opinium itu menyurvei orang-orang yang dalam setahun terakhir pernah berada dalam situasi tak mampu membeli makanan atau kebutuhan pokok seperti perlengkapan mandi, popok, dan alat kebersihan.
Menariknya, hampir separuh responden (45%) menempatkan kesehatan mental yang baik sebagai faktor terpenting dalam kualitas hidup—di atas kesehatan fisik (40%) dan stabilitas perumahan (32%). Fakta ini menunjukkan bahwa kesejahteraan emosional bukan isu pinggiran, melainkan kebutuhan utama bagi mereka yang hidup dalam ketidakpastian.
Perempuan menjadi kelompok yang sangat terdampak. Lebih dari sepertiga perempuan yang mengalami kerawanan pangan (36%) menyebut situasi ini meningkatkan “beban mental” mereka—tekanan tak kasatmata karena harus memastikan keluarga tetap makan. Bahkan, satu dari lima perempuan (22%) mengaku hanya membeli makanan untuk anak atau keluarganya, bukan untuk dirinya sendiri. Di titik ini, ketidakamanan pangan berubah menjadi pengorbanan personal yang sunyi.
Mengapa Banyak yang Tidak Mencari Bantuan?
Meski jutaan orang terdampak, tak semuanya mencari pertolongan. Dari 9,4 juta orang yang pernah mengalami ketidakamanan pangan, lebih dari seperempat (27%) tidak menggunakan sistem dukungan apa pun.
Sebanyak 38% pernah mempertimbangkan untuk mendatangi lembaga yang mengurus pangan, tetapi akhirnya mengurungkan niat. Alasannya beragam, malu, merasa tidak layak menerima bantuan, atau berpikir orang lain lebih membutuhkan. Banyak yang memilih bertahan sendiri daripada menghadapi stigma.
Model bantuan darurat memang penting, tetapi sering kali terasa transaksional dan berorientasi jangka pendek. Bantuan makanan diberikan, krisis mereda sesaat, tetapi luka emosional dan ketidakpastian jangka panjang tetap tertinggal.
Mencari Pendekatan yang Lebih Bermartabat
Di tengah situasi itu, muncul model dukungan alternatif seperti yang muncul di Inggris yaknisupermarket sosial dan toko komunitas (Community Shop). Konsep ini menawarkan bahan pangan terjangkau dalam suasana yang lebih inklusif dan minim stigma. Bukan sekadar tempat membeli makanan murah, tetapi ruang untuk membangun kembali rasa percaya diri.
Di Inggris sendiri, meski baru 22% responden pernah menggunakannya, 69% menyatakan akan memanfaatkan fasilitas tersebut jika tersedia di daerah mereka. Dukungan publik pun cukup kuat, dengan 61% masyarakat menyatakan akan merekomendasikan toko komunitas kepada orang yang membutuhkan.
Community Shop menjadi salah satu contoh model ini. Mereka menggabungkan tiga elemen; toko dengan harga diskon besar, pusat komunitas yang menyediakan dukungan kesejahteraan dan pelatihan kerja, serta dapur komunitas sebagai ruang berkumpul dan membangun koneksi sosial.
Ketua Eksekutif Community Shop, Gary Stott, seperti dilansir dari laman resminya menegaskan bahwa persoalan terbesar bukan semata-mata soal kemampuan mengatur anggaran. Community Shop berupaya menjawab akar persoalan, bukan hanya gejalanya.
“Banyak orang membutuhkan seseorang untuk diajak bicara, dukungan kesehatan mental, dan jalur menuju pekerjaan atau pelatihan. Itu sama pentingnya dengan akses makanan terjangkau,” ujarnya.
Manfaat nyata model ini sudah dirasakan Stuart, anggota lama Community Shop. Tempat itu menjadi titik balik hidupnya. Setelah kehilangan istrinya dan harus membesarkan anak berusia empat tahun seorang diri, ia mengaku kesehatan mentalnya runtuh.
“Sejak bergabung, hidup saya berubah dalam banyak hal. Ini lebih dari sekadar toko, ini adalah pusat komunitas. Hidup tidak akan sama tanpa tempat ini,” katanya.
Kisah seperti Stuart menunjukkan bahwa ketidakamanan pangan adalah isu yang kompleks yang menyentuh rasa harga diri, relasi sosial, hingga harapan masa depan. Di balik antrean bantuan pangan dan statistik resmi, ada jutaan orang yang berjuang dalam diam. Mungkin, solusi yang paling dibutuhkan bukan hanya makanan—tetapi dukungan yang memulihkan martabat dan harapan.
Video Terkait:
.jpg)
1.jpg)

2.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)

