- Whoosh Resmi Go Global, Kini Bisa Dipesan Dunia Lewat Trip.com
- 5 Cara Biar Remaja Tetap Aman di Internet, Tanpa Drama dan Jadi Polisi Gadget
- Saat Tanah Menjerit, Siapa yang Mendengar?
- 6 Cara Menjaga Kesehatan Jantung, Organ yang Menentukan Hidup Kita
- Secangkir Kopi di Pagi Hari, Sahabat Jantung atau Ancaman Tersembunyi?
- Ingat! Sejumput Garam Bisa Menentukan Hidup dan Mati
- Kementrans Kirim Tim Investigasi Kasus Pencabutan Sepihak SHM Transmigran di Kotabaru Kalsel
- Ketika Lapar Tak Hanya Soal Perut, Krisis Sunyi di Balik Ketidakamanan Pangan
- BRIN Pimpin Penelitian Internasional Pemuliaan Pisang Liar untuk Perkuat Ketahanan Pangan
- Kunjungan AHY di Bumi Sriwijaya Perkuat Koordinasi Pembangunan Infrastruktur Strategis Sumsel
Saat Tanah Menjerit, Siapa yang Mendengar?
Tanah bukan sekadar “kotoran” yang kita injak. Tetapi sistem hidup

Keterangan Gambar : Tanah adalah fondasi masa depan kita
Bayangkan kita kehilangan fondasi kehidupan sedikit demi sedikit—tanpa suara, tanpa ledakan, tanpa headline dramatis setiap hari. Itulah yang sedang terjadi pada tanah di bawah kaki kita. Menurut perkiraan Perserikatan Bangsa-Bangsa, 75% lahan global kini telah terdegradasi—melonjak dari sekitar 30% hanya satu dekade lalu.
Jika tren ini berlanjut, lebih dari 90% tanah dunia bisa rusak pada 2050. Setiap tahun, sekitar 100 juta hektar lahan memburuk. Dunia juga kehilangan 24–40 miliar ton tanah subur setiap tahun. Angka-angka ini sulit dibayangkan. Namun dampaknya nyata; hasil panen menurun, air semakin sulit diatur, keanekaragaman hayati merosot, dan krisis iklim kian memburuk.
Baca Lainnya :
- BRIN Pimpin Penelitian Internasional Pemuliaan Pisang Liar untuk Perkuat Ketahanan Pangan0
- Kunjungan AHY di Bumi Sriwijaya Perkuat Koordinasi Pembangunan Infrastruktur Strategis Sumsel0
- Ide Baterai Thomas Edison yang Sempat Hilang, Kini Bangkit untuk Era Energi Terbarukan0
- Tinjauan Lingkungan Hidup WALHI 2026: Membayar Mahal Ambisi Pertumbuhan0
- Masih Berpikir Air Kemasan Lebih Bersih Dibanding Air Keran Yang Diolah?0
Tanah bukan sekadar “kotoran” yang kita injak. Tetapi sistem hidup—rumah bagi miliaran mikroorganisme, penyimpan karbon, penyangga air, dan fondasi pangan manusia. Ketika tanah rusak, peradaban ikut goyah.
Krisis yang Bukan Sekadar Teknis
Para ilmuwan tanah sudah memperingatkan selama lebih dari 50 tahun tentang percepatan degradasi; erosi, hilangnya bahan organik, pencemaran, salinisasi, hingga runtuhnya struktur tanah. Namun mengapa kerusakan tetap berlangsung, meski datanya jelas?
Masalahnya bukan semata kurang teknologi atau kebijakan. Ada persoalan yang lebih dalam; cara pandang kita terhadap tanah. Modernitas membentuk kebiasaan melihat tanah sebagai sumber daya yang bisa dieksploitasi tanpa batas—atau sebagai sesuatu yang remeh.
Kita hidup dalam “kesenjangan mobilisasi”; ilmu pengetahuan sudah memberi bukti, tetapi imajinasi kolektif kita belum bergerak. Kita tahu, tetapi belum benar-benar merasa terhubung. Mungkin inilah yang membuat krisis tanah bukan sekadar masalah lingkungan, melainkan krisis cara berpikir.
Ketika Spiritualitas Masuk ke Arena Lingkungan

Gerakan Save Soil yang diprakarsai Jagi Vasudev, yang dikenal secara global sebagai Sadhguru (dok.sadhguru)
Di tengah kebuntuan ini, muncul bentuk kepemimpinan yang tak biasa. Salah satunya adalah gerakan Save Soil, yang diprakarsai Sadhguru (Jagi Vasudev). Pada 2022, ia menempuh perjalanan sepeda motor sejauh 30.000 kilometer melintasi 27 negara dalam 100 hari.
Ia berbicara di lebih dari 600 acara, bertemu kepala negara, dan menggandeng lembaga-lembaga internasional untuk mendorong kesadaran global tentang kesehatan tanah. Ketika ditanya mengapa seorang pemimpin spiritual berbicara soal tanah, jawabannya sederhana. “Mengapa tidak? Bukankah saya juga tinggal di sini?”
Kalimat itu terdengar ringan, tetapi menyentuh inti persoalan. Tanah bukan hanya urusan ilmuwan, petani, atau pembuat kebijakan. Tetapi urusan semua yang hidup di atasnya.
Ilmu dan Kesadaran, Dua Kaki Perubahan
Gerakan seperti Save Soil mencoba menjembatani ilmu pengetahuan dan aksi kolektif. Mereka tidak menolak sains—justru menggandeng ilmuwan tanah dan pakar agronomi untuk memperkuat legitimasi. Namun mereka juga menambahkan dimensi lain, kesadaran dan nilai.
Pendekatannya hibrida. Di satu sisi, ada data dan advokasi kebijakan. Di sisi lain, ada narasi yang menyentuh sisi batin manusia—bahwa tanah adalah bagian dari kehidupan kita, bukan sekadar komoditas.
Tentu, pendekatan berbasis spiritualitas ini bukan tanpa kritik. Ada yang khawatir bahwa fokus pada transformasi batin bisa mengalihkan perhatian dari akar struktural masalah, pertanian industri, regulasi lemah, dan kepentingan korporasi.
Kekhawatiran itu valid. Kesadaran saja tidak cukup. Tanah tidak akan pulih hanya dengan niat baik. Namun tanpa kesadaran publik, kebijakan sering kehilangan dukungan politik. Di sinilah peran gerakan nilai menjadi penting, membangun kehendak kolektif untuk berubah.
Dari Kesadaran ke Aksi Nyata
Pada akhirnya, ilmu pengetahuan memberi kita peta. Kita tahu apa yang harus dilakukan, meningkatkan kandungan bahan organik tanah, mengurangi praktik pertanian yang merusak, memperbaiki tata kelola lahan, dan melindungi ekosistem.
Tetapi peta tidak membuat kita berjalan. Yang dibutuhkan adalah kemauan bersama—tekanan publik agar kebijakan berubah, komitmen konsumen untuk memilih produk yang berkelanjutan, dan keterlibatan komunitas dalam pemulihan lahan.
Tanah di bawah kaki kita bukan benda mati, tetapi sistem hidup yang menopang seluruh kehidupan di darat. Jika tanah runtuh, kita pun ikut goyah. Sudah saatnya kita berhenti melihat tanah sebagai sesuatu yang “di bawah”. Sebaliknya, tanah adalah fondasi—secara harfiah dan metaforis—dari masa depan kita. Ilmu sudah berbicara. Kini pertanyaannya, apakah kita siap bertindak?
.jpg)
1.jpg)

2.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)

