Dari Dapur ke Langit, Ketika Minyak Jelantah Jadi Bahan Bakar Masa Depan
Minyak jelantah tak lagi dipandang sebagai limbah, tapi bagian dari ekosistem energi baru

By Yani Andriyansyah 15 Feb 2026, 20:31:58 WIB Energy & Mining
Dari Dapur ke Langit, Ketika Minyak Jelantah Jadi Bahan Bakar Masa Depan

Keterangan Gambar : Warga melakukan pengumpulan dan penimbangan minyak jelantah di Bank Sampah Beo Asri program TJSL Pertamina di Kelurahan Tegalreja, Cilacap Selatan (dok.Pertamina)


Di banyak dapur rumah tangga dan warung makan, minyak goreng bekas sering berakhir di selokan atau dibuang begitu saja. Padahal, cairan cokelat kehitaman itu menyimpan potensi besar, sebagai bahan baku energi hijau. Itulah yang kini sedang dibangun Pertamina bersama Gabungan Pengusaha Limbah Minyak Goreng Indonesia (GAPULIMGI)


Keduanya memperkuat kolaborasi untuk membentuk ekosistem nasional pengelolaan minyak jelantah atau Used Cooking Oil (UCO) yang lebih tertata, berstandar, dan berkelanjutan. Targetnya bukan main-main, mendukung produksi Sustainable Aviation Fuel (SAF), bahan bakar pesawat yang lebih ramah lingkungan.

Baca Lainnya :


Yang menarik, aktor utamanya bukan hanya korporasi atau industri besar. Justru masyarakat—rumah tangga dan UMKM—ditempatkan di garis depan. Ketua GAPULIMGI, Tommy Lim, menegaskan bahwa kolaborasi ini bukan sekadar kerja sama bisnis, melainkan langkah strategis membangun sistem yang terintegrasi.


“Kolaborasi dengan Pertamina ini tidak hanya memperkuat rantai pasok, tetapi juga memberikan kepastian pasar bagi pelaku pengumpulan, UMKM, dan masyarakat,” ujar Tommy.

 

Menurutnya, lebih dari 60 persen konsumsi minyak goreng nasional berasal dari rumah tangga dan pelaku usaha kecil. Artinya, volume terbesar minyak jelantah sebenarnya ada di tingkat masyarakat. Bagi pengumpul, pelaku UMKM, hingga pengepul resmi, kejelasan sistem ini berarti kepastian harga dan jalur distribusi yang lebih transparan. Tanpa partisipasi warga, rantai pasok ini sulit berjalan optimal. 


Selain memastikan pasokan stabil, keterlibatan masyarakat juga membantu menekan praktik ilegal—seperti daur ulang minyak jelantah menjadi minyak konsumsi yang berisiko bagi kesehatan,” katanya. 


Skemanya dibuat sederhana. Rumah tangga didorong untuk menyimpan minyak jelantah dalam botol, lalu menyalurkannya ke bank sampah, drop point, atau pengepul resmi. Untuk UMKM dan pelaku usaha kuliner, tersedia sistem penjemputan berkala melalui aggregator terdaftar, lengkap dengan standar mutu dan skema insentif.


GAPULIMGI mengambil peran sebagai pusat edukasi dan advokasi. Mulai dari penyusunan materi sederhana, pelatihan, kampanye publik, hingga kolaborasi dengan sekolah, komunitas, dan pemerintah daerah. Tujuannya jelas, menjadikan pengelolaan minyak jelantah sebagai kebiasaan baru yang positif sekaligus membangun kesadaran bahwa minyak jelantah bukan limbah, melainkan aset.


Transisi Energi yang Inklusif




Di sisi lain, Pertamina menempatkan kolaborasi ini sebagai bagian dari komitmen transisi energi yang inklusif. Melalui Subholding Downstream, Pertamina tidak hanya menjajaki penguatan rantai pasok, tetapi juga peningkatan kapasitas pelaku usaha, penyusunan kerangka komersial, hingga advokasi kebijakan bersama pemerintah.


Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menegaskan bahwa transisi energi tidak boleh berjalan sendiri tanpa dampak sosial. Energi hijau, menurutnya, harus sekaligus menciptakan nilai ekonomi bagi masyarakat. Membangun ekosistem UCO bukan hanya soal suplai bahan baku, tetapi juga soal transparansi, tata kelola, dan partisipasi publik.


Inisiatif ini juga sejalan dengan visi besar pemerintah dalam mendorong kemandirian energi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Minyak jelantah tak lagi dipandang sebagai limbah, melainkan sebagai bagian dari ekosistem energi baru yang melibatkan banyak pihak—dari dapur rumah hingga industri biofuel nasional.


“Melalui kolaborasi dengan GAPULIMGI, kami mendorong keterlibatan aktif masyarakat dan UMKM dalam rantai pasok energi hijau, sehingga transisi energi dapat berjalan seiring dengan penciptaan nilai sosial bagi masyarakat,” ujar Baron.


Jika ekosistem ini tumbuh dan konsisten, bukan tidak mungkin minyak bekas gorengan di rumahsuatu hari benar-benar ikut “terbang” bersama pesawat yang menggunakan bahan bakar berkelanjutan. Sebuah perjalanan panjang memang. Tapi perubahan besar sering kali dimulai dari hal sederhana—bahkan dari sisa minyak di penggorengan yang tak lagi dipandang sebagai limbah, melainkan sebagai bagian dari masa depan energi Indonesia.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment