- Hilirisasi Grup MIND ID, Transformasi Pertambangan Berbasis Nilai Tambah
- Cerita Eks Wartawan Jualan Cabai yang Diborong Mentan Amran dari Daerah Bencana Aceh
- Kepungan Bencana Ekologis dan Keharusan Reformasi Fiskal Sektor Ekstraktif
- Pertumbuhan Ekonomi 2026 Ditaksir 5 Persen, WP Badan Harus Siap Diperiksa
- Ikhtiar Nyata SDG Academy Indonesia: Konektivitas Data, Kebijakan, dan Kepemimpinan
- Kembangkan Potensi Anak, LPAM Mirabel dan Ilmu Politik UNY Gelar Peringatan Hari Ibu
- Sambut Nataru dan HAB Kemenag ke-80, PD IPARI Karanganyar Bersih-Bersih Rumah Ibadah Lintas Agama
- Penguatan Sektor Riil Kunci Capai Target Pertumbuhan Ekonomi 5,4 Persen di 2026
- Musim Mas Dukung Pemkab Deli Serdang Hadirkan Ruang Publik Bersama melalui Pembangunan Alun-Alun
- Sidang Pengeroyokan di Tanjungpinang, Korban Soroti Terdakwa Tak Ditahan
Sampah Akan Jadi Rebutan Sebagai Sumber Bahan Bakar

Keterangan Gambar : Ilustrasi Pabrik Semen- Porosbumi
JAKARTA- Pelaku usaha mulai terlihat mengamankan sumber sampah sebagai bahan
bakar guna menekan biaya operasional pada saat rencana
pembangunan stasiun PSEL di 33 kota seluruh Indonesia
Direktur INTP, Oey Marcos PT Indocement Tunggal
Prakarsa Tbk (INTP) mengatakan perseroan
telah lebih mengedepankan
pengelolaan sampah berkelanjutan melalui pemanfaatan Refuse-Derived Fuel (RDF) sebagai bahan bakar alternatif pengganti
batu bara.
“Kalau kami prinsipnya waste to
fuel berbeda dengan Danantara dengan konsep waste to energy,” kata dia di Bogor, Selasa(11/11/2025).
Baca Lainnya :
- Pertamina Nyalakan Harapan dan Kemandirian Penyintas ODGJ Melalui Pemanfaatan Energi Surya0
- Ikhtiar Hilirisasi Timah: Dari Lumpur Perut Bumi Bangka Jadi Logam Berharga di Cilegon0
- Masa Depan Berkelanjutan Itu Bukan Retorika di Kampung Reklamasi Air Jangkang 0
- Tolak Inisiatif AZEC, Masyarakat Sipil Indonesia Desak Transisi Energi yang Demokratis & Berkeadilan0
- MIND ID Sabet Penghargaan ESG Berkat Efisiensi Energi dan Komitmen Keberlanjutan0
Dia mengatakan konsep waste to
energy lebih cocok pada daerah daerah tidak memiliki pabrik semen. Jika
daerah tersebut telah memiliki pabrik semen maka lebih efisien menggunakan
konsep waste to fuel.
“Konsep waste to fuel lebih efisien sebab suhu tungku bakar pabrik semen
mencapai 1.200 derajat Celsius sehingga bahan bakar habis terbakar sisanya pun
digunakan bahan semen. Sedangkan kalau waste to energy atau pembangkit listrik
tungku bakar dengan suhu 900 derajat Celsius dan masih menyisakan ampas yang
perlu dipikirkan,” terang dia.
Dia melaporkan perseroan telah memanfaatkan
RDF dengan porsi 28 dari total bahan bakar primer sampai dengan saat ini.
“Kami harapkan pada tahun 2030 akan mencapai 42 persen bahan bakar
berasal dari pemanfaatan RDF,” terang dia.
Ia melanjutkan untuk mencapai target tersebut perseroan telah meneken perjanjian
kerjasama dengan pemerintah, mitra industri, dan
komunitas untuk mengatasi tantangan pengelolaan sampah kota.
“Beberapa
kerja sama strategis yang telah dijalankan dengan Provinsi DKI Jakarta. Perseroan menjadi Offtaker
RDF dari TPST Bantargebang (625 ton/hari), RDF Plant Rorotan (875 ton/hari), Provinsi Jawa Barat
Kajian untuk RDF dari TPPAS Lulut Nambo (700 ton/hari) Kota Makassar: MoU dengan kapasitas 300
ton/hari, dan Kolaborasi dengan Kota Cimahi, Bandung, Bekasi,
dan Kabupaten Karawang,” jelas
dia.
Tak cukup itu, Dia bilang INTP juga mengandeng entitas
bisnis dalam pengelolaan sampah industri di
berbagai provinsi.
“Kami juga menjalankan program internal Sedekah Sampah yang
diluncurkan sejak 2022 juga berhasil mengumpulkan 265.572 kg sampah anorganik
selama tiga tahun. Sampah ini dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif di
operasional pabrik,” papar dia.
.jpg)
1.jpg)

.jpg)

6.jpg)
.jpg)
1.jpg)
.jpg)

.jpg)

