- Polda Kepri Dukung Kampanye 24 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di Batam
- Wanita ini Ubah Sampah Jadi Alat Tukar Bernilai Ekonomi, Contoh Nyata Warga Bantu Warga
- Sari Kreasi Boga Incar Cuan Bisnis Agrifood
- Dongkrak Kunjungan Wisatawan, Gold Coast Ferry Terminal Buka Rute Baru Batam-Singapura
- Pray Sumut dan Sumbar, SARMMI Galang Donasi Bencana Banjir
- Telkomsel Kembali Gelar Jaga Bumi, Tanam 12.731 Pohon Baru dan Serap 824 Ton Emisi Karbon
- Pengamat: Indonesia Swasembada Beras, Stok Dunia Tertinggi Sepanjang Sejarah, Harga Global Anjlok!
- Presiden Prabowo dan Ratu Maxima Bahas Transformasi Inklusi dan Kesehatan Keuangan
- Desa Wisata Sumberoto Kini Makin Menyala Dengan Tenaga Surya
- Abies Bakery, Toko Roti Dengan Standar Higienitas Produksi Buka di Bundaran Ocarina Batam Centre
RI Punya Lahan Potensial untuk Kedelai dari Aceh Hingga Sulsel
Detik, Jakarta - Kementerian Pertanian (Kementan) terus meningkatkan produksi tanaman pangan. Salah satunya adalah kedelai.
Dalam meningkatkan produksi kedelai, Kementan akan menyiapkan benih dan mencari lahan potensial. Menurut Sekretaris Jenderal Kementan, Hari Priyono, masih ada sejumlah lahan potensial untuk menanam kedelai di beberapa daerah."Kita masih punya wilayah-wilayah potensial kedelai. Ada di Aceh, Sumatera Utara (Sumut), Nusa Tenggara Barat (NTB), Jawa Timur (Jatim), Sulawesi Selatan (Sulsel), itu yang potensial," ungkap Hari kepada detikFinance, Jakarta, Senin (30/1/2017).
Hari menjelaskan, selama ini petani kurang bergairah menanam kedelai karena harganya rendah. Ini terjadi karena impor kedelai masih tinggi.Alhasil, petani lebih memilih menanam jagung ketimbang kedelai
Baca Lainnya :
- Sumut targetkan produksi padi 5,2 juta ton0
- MENGGALI POTENSI DESA LEWAT KEWIRAUSAHAAN0
- Komitmen Majukan Desa, Pemkab PALI Gandeng Patani0
- Patani Rajut Potensi Desa di PALI0
- KEREN...INILAH GEBRAKAN PATANI SUMSEL MENYONGSONG TAHUN 20170
"Akibat impor kedelai, harganya jadi rendah. Itu mengurangi kegairahan petani. Seiring dengan upaya peningkatan produksi, ke depan impor harus dikendalikan," kata Hari."Sekarang ini kan kedelai dengan jagung itu kan puncak musimnya, musim kemarau. Harga jagung sekarang bagus. Ya petani akan cenderung menanam yang harganya menguntungkan kan," lanjut Hari.
Selain karena permasalahan impor, menurut Hari, ketersediaan benih juga menjadi tantangan dalam meningkatkan produksi kedelai dalam negeri."Teknisnya, seperti yang dijelaskan Pak Gatot (Dirjen Tanaman Pangan), terkait dengan ketersediaan benih. Ketersediaan benih harus cukup, sesuai sasaran target area," kata dia.
.jpg)

.jpg)



.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)

