- Dilema Meremajakan Tanah dan Alam Melalui Pertanian Regeneratif
- Kades di Tapteng Ramai-Ramai Surati Presiden, Minta Pelurusan Penyebab Banjir Longsor DAS Aek Garoga
- 8 Desa Wisata di Indonesia Buat Kamu Merasakan Kehidupan Masyarakat Lokal
- Fenomena Antre di Tempat Makan Viral, Worth It atau Sekadar Ikut Tren?
- Apakah Venezuela Masih Jadi Kekuatan Besar di Pasar Minyak Global?
- RDMP Balikpapan: Sumur Mathilda yang Kini Garda Terdepan Energi Indonesia Timur
- Tak Ada Pilihan Lain, Indonesia Harus Menjadi Pengendali Harga Nikel Dunia
- Riset BRIN Ungkap Faktor Emisi Karbon Lamun Indonesia, Jawa–Sumatra Tertinggi
- Agroforestri, Memadukan Pertanian dengan Restorasi Hutan
- Mengulik Pertanian Molekuler Tanaman di Era Bioekonomi untuk Ketahanan Pangan Masa Depan
BCA Digital Gandeng Food Bank Indonesia Gelar Gerakan Pemulihan Pangan
Optimalkan Efisiensi Pangan dengan Memanfaatkan Sampah Makanan untuk Perkuat Nutrisi Melalui Aksi 500 Porsi Makanan Siap Santap

Keterangan Gambar : Para bluForce terlibat langsung mulai dari proses seleksi bahan di pasar, memasak bersama, hingga pendistribusian di lapangan (Foto: dok BCA Digital)
Laporan Food Waste Index Report 2024 United Nations Environment Programme (UNEP)menyebutkan, Indonesia menghasilkan sedikitnya 14,73 juta ton sampah makanan per tahun. Temuan ini semakin diperkuat data nasional SIPSN yang mencatat dari total 34,21 juta ton timbulan sampah yang dihasilkan pada 2024, sebesar 39,25% merupakan sampah sisa makanan.
Dominasi sampah organik ini mencerminkan inefisiensi ekonomi yang masif, di mana Indonesia diperkirakan kehilangan potensi ekonomi sebesar Rp213 hingga Rp551 triliun setiap tahunnya akibat Food Loss and Waste. Karena itu, kondisi ini perlu mendapat perhatian.
Baca Lainnya :
- Bapanas Optimistis Ketersediaan Pangan Pokok Strategis Mencukupi di 2026 Tanpa Importasi0
- Menjaga Ekspor dan Menyiapkan Industri Pangan Melalui Program Makan Bergizi Gratis 0
- Bencana Banjir dan Tanah Longsor di Sumatera Mendorong Kepunahan Populasi Orangutan0
- Menanam, Merawat dan Menjaga Pohon: Life Style yang Terpinggirkan di Era Postmodernisme0
- Presiden Tegaskan Swasembada Pangan Papua, Mentan Target Cetak 100 Ribu Hektare Sawah0
Apalagi jika merujuk data Badan Pangan Nasional, sampah makanan di Indonesia sebenarnya mampu menghidupi 29-47 persen populasi jika dikelola dengan baik. Tidak hanya berdampak secara ekonomi dan sosial, sisa pangan yang membusuk di TPA menyumbang emisi gas metana yang signifikan. Kontribusinya sekitar 7,29% rata-rata emisi gas rumah kaca tahunan nasional.
Fakta inilah yang membuat PT Bank Digital BCA (BCA Digital) berkolaborasi dengan Food Bank Indonesia (FBI) untuk menjawab tantangan darurat sampah makanan di Indonesia lewat aksi nyata. Melalui gerakan pemulihan pangan (food recovery), kolaborasi ini berhasil mengoptimalkan bahan pangan berkualitas yang belum terserap pasar, menjadi 500 porsi makanan sehat bagi pengemudi ojek online dan lansia di kawasan Jakarta Pusat.
Program ini dilaksanakan secara serentak di empat titik distribusi strategis, yakni area sekitar Stasiun Cikini, Stasiun Gondangdia, Dapur Paud Kenanga Cikini, dan Dapur Masjid An-Nur Menteng. Aksi ini diinisiasi BCA Digital sebagai respons strategis terhadap kondisi manajemen sisa pangan di Indonesia yang menempatkan Indonesia sebagai negara penghasil sampah makanan terbanyak di Asia Tenggara.
Head of Corporate Communications BCA Digital, Nariswari Yudianti, menjelaskan kegiatan bertajuk #bluBuatBaik Volunteer Day bersama bluForce (sebutan untuk karyawan BCA Digital) mengusung konsep optimalisasi sumber daya. Sebagai lembaga keuangan, BCA Digital meyakini prinsip dan logika efisiensi dapat diterapkan pula dalam isu pangan.
“Kami memilih memulihkan nilai dan manfaat nutrisi tersebut lewat resource efficiency. Langkah ini selaras dengan misi BCA Digital dalam mendorong gaya hidup yang sustainable dan lebih mindful dalam mengelola sumber daya, baik secara finansial maupun konsumsi harian. Kami meyakini pengelolaan keuangan yang bijak, seharusnya berjalan beriringan dengan kesadaran untuk tidak membiarkan satu pun potensi nutrisi terbuang sia-sia,” ujar Nariswari dalam keterangan resminya, Kamis (8/1).
Langkah efisiensi ini diwujudkan dengan menyerap surplus bahan pangan dari berbagai pedagang di Pasar Tebet, Jakarta Selatan. Aneka bahan tersebut merupakan produk segar yang secara visual tidak terserap pasar, seperti sayuran dengan bentuk tidak sempurna misalnya, namun masih memiliki kualitas nutrisi prima dan sangat layak olah.
“Lewat gerakan selamatkan pangan ini, kami membuktikan bahwa efisiensi dapat dilakukan secara efektif dengan memastikan nutrisi tetap tersampaikan kepada yang membutuhkan dan tidak terbuang sia-sia di tempat sampah,” tambahnya.
Gunakan Wadah Ramah Lingkungan
Para bluForce yang tergabung dalam kegiatan #bluBuatBaik Volunteer Day ini, terlibat langsung mulai dari proses seleksi bahan di pasar, memasak bersama, hingga pendistribusian di lapangan. Keterlibatan aktif ini bertujuan untuk membangun kesadaran internal bahwa isu keberlanjutan adalah tanggung jawab personal.
Untuk memastikan aksi ini tidak meninggalkan residu lingkungan, BCA Digital secara konsisten menggunakan kotak makan reusable sebagai pengganti kemasan sekali pakai. Penggunaan wadah ramah lingkungan ini diharapkan dapat sekaligus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pengurangan timbulan sampah plastik baru dalam setiap aksi sosialnya.
Co Founder Food Bank Indonesia, Wida Septarina, menilai kolaborasi lintas sektor antara perbankan digital dan komunitas pangan adalah kunci penyelesaian masalah secara menyeluruh. Pangan yang belum terserap pasar, jika dikelola dengan manajemen yang tepat, dapat menjadi solusi nutrisi nyata bagi kelompok rentan di perkotaan.
“Pengelolaan pangan yang bertanggung jawab membuka ruang bagi solusi yang lebih luas, terutama di wilayah perkotaan. Melalui sinergi lintas sektor, potensi pangan dapat dimanfaatkan secara optimal untuk memperkuat ketahanan nutrisi masyarakat,” jelas Wida.
Melalui inisiatif ini, BCA Digital berharap dapat terus mendorong kesadaran kolektif bagi para nasabah dan masyarakat luas bahwa pengelolaan pangan yang bijak adalah bagian tak terpisahkan dari gaya hidup berkelanjutan yang berdampak langsung pada kesejahteraan sosial dan kelestarian bumi.
.jpg)
1.jpg)

.jpg)


.jpg)

.jpg)

.jpg)

