Bencana Banjir dan Tanah Longsor di Sumatera Mendorong Kepunahan Populasi Orangutan
Melindungi orangutan sebenarnya melindungi kehidupan manusia

By PorosBumi 17 Des 2025, 12:31:00 WIB Lingkungan
Bencana Banjir dan Tanah Longsor di Sumatera Mendorong Kepunahan Populasi Orangutan

Keterangan Gambar : (gambar dibuat dengan AI)


Baru-baru ini, sebuah studi yang dikutip dari insideclimatenews.org mengungkapkan, bencana banjir bandang dan tanah longsor yang menewaskan lebih dari 1.000 orang di tiga provinsi di Sumatera (Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat) juga kemungkinan telah menewaskan puluhan orangutan yang terancam punah. 


Ya, hampir tiga minggu setelah bencana merobek Sumatera Utara yang menewaskan ratusan orang, sejumlah wilayah di daerah itu luluhlantak. Kota-kota terputus dan lebih dari 100.000 orang mengungsi. Tak hanya korban jiwa manusia, baru-baru ini sebuah analisis mengungkapkan bahwa kerusakan yang terjadi, meluas ke habitat spesies orangutan yang terancam punah, bahkan kemungkinan membunuh sebagian besar populasi yang tersisa.

Baca Lainnya :

 

Sebagai informasi, orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis), adalah kera besar paling langka di dunia, dengan kurang dari 800 ekor diperkirakan tetap berada di alam liar. Satwa tersebut hidup di tiga wilayah hutan pegunungan yang terisolasi seukuran Los Angeles yang sedang terkikis oleh pembangunan bendungan hidroelektrik, tambang emas, perkebunan minyak sawit, dan perambahan lainnya.


Penilaian awal citra satelit seperti dilaporkan insideclimatenews.org telah mengungkapkan kerusakan banjir dan tanah longsor yang meluas di sebagian besar wilayah. Ini artinya bencana tersebut kemungkinan telah mendorong orangutan Tapanuli lebih dekat pada kepunahan populasi.




Bahkan ada juga penilaian pracetak tim ilmuwan internasional yang diterbitkan minggu ini. Berdasarkan tingkat kerusakan di dalam hutan, para ilmuwan memperkirakan setidaknya 30 orangutan dapat terbunuh dan mungkin lebih banyak lagi. Tentu saja hal ini memberikan pukulan berat bagi peluang kelangsungan hidup jangka panjang spesies tersebut.


Para ilmuwan dan aktivis lingkungan mengatakan kehancuran kemungkinan diperburuk oleh meluasnya deforestasi yang melucuti kapasitas tanah untuk menyerap curah hujan dan mempertahankan tanah. Menurut Global Forest Watch, dari tahun 2001 hingga 2024, provinsi Sumatera Utara kehilangan 28 persen tutupan pohonnya, sekitar 6.200 mil persegi secara keseluruhan. Gambar di seluruh area menunjukkan tumpukan besar kayu gelondongan yang macet di sungai setelah banjir, bukti pembukaan lahan di wilayah hulu.


Ini seperti lautan kayu gelondongan, kata Direktur Green Justice Indonesia, Panut Hadisiswoyoyang juga pendiri Pusat Informasi Orangutan seperti dilansir insideclimatenews.org.


Analisis citra satelit menunjukkan kerusakan juga meluas jauh ke dalam hutan, bahkan di daerah dengan sedikit aktivitas manusia. Tim ilmuwan menggunakan gambar sebelum dan sesudah bencana untuk memperkirakan tingkat kehilangan hutan di dalam blok terbesar habitat orangutan. Gambar-gambar itu menunjukkan lanskap yang dulunya hijau solid, sekarang dibabat menjadi garis-garis coklat—tanah yang terpapar oleh tanah longsor dan tepian sungai yang dilucuti. 


Para ilmuwan kemudian membandingkan kerusakan dengan data yang mereka kumpulkan tentang kepadatan populasi orangutan Tapanuli di seluruh habitat mereka untuk memperkirakan berapa banyak yang mungkin terpengaruh. Tim menentukan bahwa diperkirakan 33 orangutan dapat terbunuh di area tersebut.


Spesies orangutan Tapanuli sudah berada di bawah ancaman serius dari perambahan habitat oleh aktivitas industri dan konflik dengan manusiaBagian ekosistem Batang Toru yang rusak parah menunjukkan hilangnya hutan yang luas akibat tanah longsor dan banjir. Para ilmuwan percaya puluhan orangutan Tapanuli yang terancam punah telah terbunuh.


Kerusakan yang terjadi adalah pengingat betapa eratnya nasib orangutan dengan manusia di sekitarnya. Di mana manusia hidup di dataran rendah, bergantung pada hutan dan ekosistem yang sehatKetika ekosistem hutan tidak sehat, kehidupan manusia berisiko. Karena itu, melindungi orangutan adalah suatu keharusan. Sebab, melindungi orangutan sebenarnya melindungi kehidupan manusia.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment