- BP Taskin dan Kemenkop Merajut Jalan Permanen Pengentasan Kemiskinan lewat Koperasi Merah Putih
- Gentengisasi: Strategi Apik Prabowo Menumbuhkan Industri Rakyat dari Desa
- Tinjauan Lingkungan Hidup WALHI 2026: Membayar Mahal Ambisi Pertumbuhan
- Prabowo Optimistis Tiga Tahun Indonesia Swasembada Semua Komoditas Pangan Strategis
- 7 Alasan Nomor Anda Sering Terblokir Saat Broadcast WhatsApp
- Pelopor Bank Pedesaan Muhammad Yunus, dari Kegelisahan Menerobos Kuldesak
- Cerita Seekor Semut Berusia 40 Juta Tahun Yang Tersembunyi Dalam Amber Goethe
- Masih Berpikir Air Kemasan Lebih Bersih Dibanding Air Keran Yang Diolah?
- Ampas Kopi Ternyata Bisa Menghilangkan Logam Beracun Dari Air Yang Terkontaminasi
- Senyawa Lidah Buaya Dapat Membantu Mengobati Penyakit Alzheimer
Gentengisasi: Strategi Apik Prabowo Menumbuhkan Industri Rakyat dari Desa

MUHAMMAD SIROD
Fungsionaris KADIN, Ketua HIPPI Jakarta Timur
Baca Lainnya :
- Prabowo dan Akhir Ilusi Hegemoni Liberal 0
- Inovasi Hijau Terbaik Januari 2026, dari Rumput Laut hingga Drone Pemadam Kebakaran0
- Mentan Tegaskan Pers Sebagai Pilar Demokrasi Sekaligus Mitra Swasembada Pangan0
- Hentikan Penggusuran dan Represifitas pada Kelompok Tani Padang Halaban!0
- Di World Economic Forum Davos, Prabowo Umumkan Indonesia Kekuatan Baru Pangan Dunia1
GAGASAN gentengisasi yang disampaikan
Presiden Prabowo Subianto mengarah pada perubahan struktur permintaan di
sektor perumahan. Fokusnya terletak pada pengalihan penggunaan atap rumah dari
material logam ringan seperti seng dan zincalume ke genteng tanah liat
yang diproduksi oleh industri kecil dan menengah (IKM) berbasis desa.
Negara melakukan intervensi kebijakan untuk membentuk pola
baru pembangunan. Industrialitasi bahan bangunan yang selama ini terkonsentrasi
pada industri padat modal yang dikuasai segelintir pengusaha besar akan
dibarengi oleh pertumbuhan industri rakyat dengan menciptakan demand
yang diciptakan (by design).
Pasar atap rumah di Indonesia didominasi oleh material logam
ringan. Produk ini diproduksi oleh pabrik baja berskala besar, terintegrasi
dengan rantai pasok hulu, dan bergantung pada bahan baku industri logam. Nilai
pasar atap baja dan zincalume berada pada kisaran puluhan triliun rupiah
per tahun. Struktur ini menghasilkan efisiensi produksi, tetapi menciptakan
konsentrasi nilai tambah pada segelintir pelaku industri dan wilayah.
Sebaliknya, industri genteng tanah liat memiliki karakter
produksi yang berbeda. Sentra genteng tersebar di wilayah pedesaan Jawa, dengan
pola usaha berbasis keluarga dan klaster IKM. Bahan baku berasal dari tanah
liat lokal, teknologi produksi bersifat sederhana, teknologi semi-mekanis tepat
guna, dan prosesnya menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Nilai ekonomi per
unit relatif rendah, tetapi distribusi pendapatan lebih merata di tingkat desa.
Gentengisasi menggeser komposisi permintaan pasar atap rumah
ke arah produk dengan struktur produksi padat karya. Kebijakan berani dalam
industri perumahan ini akan menentukan siapa yang menerima aliran belanja
negara dan rumah tangga ke depannya. Pilihan material atap berfungsi sebagai
instrumen kebijakan industri.
Dari sisi kapasitas, industri genteng rakyat saat ini belum
mampu memenuhi kebutuhan nasional secara penuh. Kapasitas agregat sentra
genteng di Jawa diperkirakan berkisar 200–250 juta unit per tahun, jauh dari
kebutuhan nasional untuk pembangunan dan renovasi rumah yang mendekati satu
miliar unit per tahun. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa gentengisasi
membutuhkan penguatan kapasitas produksi, baik melalui perluasan sentra
eksisting maupun pembentukan klaster baru di luar Jawa.
Namun, keterbatasan kapasitas tersebut justru menjelaskan
logika kebijakan. Gentengisasi tidak dirancang untuk menggantikan industri
besar secara total, melainkan untuk menyeimbangkan struktur industri. Dengan
menciptakan permintaan yang stabil dan terprediksi, negara memberi insentif
bagi IKM genteng untuk berinvestasi pada tungku bakar yang lebih efisien,
peningkatan kualitas produk, dan konsolidasi kelembagaan melalui koperasi atau
BUMDes.
Implikasi kebijakan ini bersifat lintas sektor. Di bidang
ketenagakerjaan, perluasan industri genteng berpotensi menyerap puluhan ribu
tenaga kerja pedesaan. Di bidang lingkungan, genteng tanah liat memiliki
karakter termal yang lebih baik dibanding atap logam, sehingga menurunkan suhu
ruang dan konsumsi energi rumah tangga. Di bidang tata ruang, penggunaan
genteng memperkuat identitas visual permukiman dan mengurangi ketergantungan
pada material impor atau semi-impor.
Tantangan utama gentengisasi terletak pada koordinasi
kebijakan. Standar teknis perumahan, skema pembiayaan rumah subsidi, dan
kebijakan industri harus bergerak searah. Tanpa integrasi tersebut, permintaan
yang diciptakan bersifat sementara dan tidak cukup kuat untuk mendorong
transformasi industri rakyat. Untuk itu gerakan gentengisasi memerlukan
kerangka regulasi yang konsisten, bukan sekadar imbauan.
Gentengisasi menempatkan kebijakan perumahan sebagai bagian
dari strategi industrialisasi inklusif. Negara menggunakan belanja dan regulasi
untuk mengarahkan pasar, dengan tujuan memperluas basis produksi nasional dan
memperkuat ekonomi desa. Pendekatan ini relevan di tengah kebutuhan Indonesia
untuk menyeimbangkan pertumbuhan industri besar dengan penguatan sektor padat
karya.
Program gentengisasi ini menunjukkan bahwa kebijakan yang
sangat teknis dalam pembangunan memiliki konsekuensi ekonomi yang luas. Atap
rumah berfungsi sebagai titik masuk untuk membaca arah pembangunan: apakah
nilai tambah terkonsentrasi, atau didistribusikan ke wilayah dan pelaku yang
lebih luas. Artinya gentengisasi ini akan efektif dan signifikan menggerakkan
ekonomi rakyat dengan menumbuhkan industri rakyat dari desa (Asta Cita 6).
Catatan:
Semua tulisan ini adalah opini pribadi semata, tidak terkait lembaga si penulis.
.jpg)
1.jpg)

2.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)

