- Polda Kepri Dukung Kampanye 24 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di Batam
- Wanita ini Ubah Sampah Jadi Alat Tukar Bernilai Ekonomi, Contoh Nyata Warga Bantu Warga
- Sari Kreasi Boga Incar Cuan Bisnis Agrifood
- Dongkrak Kunjungan Wisatawan, Gold Coast Ferry Terminal Buka Rute Baru Batam-Singapura
- Pray Sumut dan Sumbar, SARMMI Galang Donasi Bencana Banjir
- Telkomsel Kembali Gelar Jaga Bumi, Tanam 12.731 Pohon Baru dan Serap 824 Ton Emisi Karbon
- Pengamat: Indonesia Swasembada Beras, Stok Dunia Tertinggi Sepanjang Sejarah, Harga Global Anjlok!
- Presiden Prabowo dan Ratu Maxima Bahas Transformasi Inklusi dan Kesehatan Keuangan
- Desa Wisata Sumberoto Kini Makin Menyala Dengan Tenaga Surya
- Abies Bakery, Toko Roti Dengan Standar Higienitas Produksi Buka di Bundaran Ocarina Batam Centre
Bisnis Impor Daging di RI Menggiurkan, Ini Alasannya

Liputan6.com, Jakarta Bisnis impor daging menjadi bisnis yang menarik di Indonesia. Bagaimana tidak, Indonesia memiliki pangsa yang besar dengan penduduk mencapai 250 juta jiwa.Dosen Fakultas Peternakan Universitas Padjajaran Rochadi Tawaf mengatakan, Indonesia memiliki pangsa pasar daging sapi terbesar di Asia Tenggara. Saat ini, kebutuhan daging sapi sekitar 670 ribu ton per tahun. Sementara, produksi daging lokal hanya sekitar 440 ribu ton. Sekitar 230 ribu ton dipenuhi oleh impor.
"Bisnis impor daging memang menggiurkan, Indonesia dengan penduduk sekitar 250 juta merupakan pangsa pasar daging sapi terbesar di Asia Tenggara," kata dia dalam ulasannya, di Jakarta, Rabu (1/2/2017).Kebutuhan akan daging ini diproyeksi akan terus meningkat. Berdasarkan data, lanjut dia, elastisitas daging sapi bernilai (+ 1,2).
"Artinya makin tinggi pendapatan, konsumsi akan daging meningkat," kata dia.Sementara itu, pemerintah menetapkan kebijakan atas harga daging Rp 80 ribu per kg. Kebijakan ini dianggap melahirkan berbagai aturan yang tidak berpihak pada produsen.
Baca Lainnya :
- KPPU Dorong Pemerintah Realisasikan Impor Sapi sebanyak 318.000 Ekor0
- RI Punya Lahan Potensial untuk Kedelai dari Aceh Hingga Sulsel0
- Sumut targetkan produksi padi 5,2 juta ton0
- MENGGALI POTENSI DESA LEWAT KEWIRAUSAHAAN0
- Komitmen Majukan Desa, Pemkab PALI Gandeng Patani0
"Dalam operasionalisasinya pemerintah telah melahirkan berbagai aturan yang tidak lagi mengindahkan kaidah-kaidah normatif pembangunan peternakan yang berpihak pada produsen," ujar dia.Dia menambahkan, kondisi tersebut membuat importir daging semakin untung. "Bisa dibayangkan apa yang tengah terjadi saat ini, yaitu besarnya keuntungan importir daging, di mana 'daging industri' yang dijual sebagai 'daging konsumsi' dengan marjinnya bisa mencapai lebih dari 50 persen," tutupnya dia.
.jpg)

.jpg)



.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)

