- Di Balik Sunyi Pengabdian, Menjaga Amanah Merawat Kepercayaan
- Sensus Burung Air Serentak di Tiga Kawasan Pesisir Jakarta
- Siapa Bilang Anak Muda Ogah Terjun Jadi Petani, Kelompok Asal Sambas Ini Buktinya
- Kemendikdasmen Luncurkan Beasiswa Talenta Indonesia, Jaring Anak Muda Berprestasi
- 53 Kelompok Komoditas Pertanian RI Bebas Tarif ke AS
- WALHI: RUU Daerah Kepulauan Jangan Jadi Payung Baru Ketidakadilan Sosial–Ekologis
- Penjual Sayur Ini Sumbang Rp5,3 Miliar untuk Perpustakaan, Layanan Kesehatan dan Panti Asuhan
- Gerak Cepat Mentan Sidak Pasar Usai Terima Laporan, Harga Pangan Langsung Turun
- Masuk 10 Top Dunia, PAM JAYA Sabet Platinum di Ajang Vision Awards LACP Amerika Serikat
- Bikin Salut, Begini Langkah Cepat Kementan Geser Anggaran untuk Pemulihan Bencana
Di Balik Sunyi Pengabdian, Menjaga Amanah Merawat Kepercayaan
Tema besar buku ini adalah kepercayaan, sesuatu yang tak terlihat, tetapi menentukan segalanya

Di sebuah sudut negeri yang jarang disorot lampu kamera, ada orang-orang yang bekerja dalam diam. Mereka tidak selalu berdiri di panggung, tidak pula menuntut tepuk tangan. Namun dari tangan dan keputusan merekalah, kepercayaan publik dijaga, amanah dipikul, dan langit pengabdian tetap tegak.
Buku Melayani Langit, Menjaga Kepercayaan: Catatan Senyap di Balik Pengabdian dan Amanahkarya Minggus E.T. Gandeguai mengajak pembaca memasuki ruang sunyi itu, ruang tempat integritas diuji, kesetiaan pada nilai dipertaruhkan, dan tanggung jawab dijalani tanpa gemuruh. Buku catatan senyap ini, ditulis Minggus saat usia pengabdiannya di PT Angkasa Pura Indonesia menapak 23 tahunyang dimulai dari tanah Papua, Jakarta, Surabaya, Bali, Ambon, Manado, Lombok, dan kini di Makassar.
Baca Lainnya :
- Kemendikdasmen Luncurkan Beasiswa Talenta Indonesia, Jaring Anak Muda Berprestasi 0
- Penjual Sayur Ini Sumbang Rp5,3 Miliar untuk Perpustakaan, Layanan Kesehatan dan Panti Asuhan0
- Masuk 10 Top Dunia, PAM JAYA Sabet Platinum di Ajang Vision Awards LACP Amerika Serikat0
- Bikin Salut, Begini Langkah Cepat Kementan Geser Anggaran untuk Pemulihan Bencana 0
- Waktu Layar Bisa Bikin Sakit Kepala dan Leher, Begini cara Mengatasinya 0
Sejak halaman-halaman awal, buku yang diterbitkan Nasmedia—penerbit terbaik versi Perpustakaan Nasional 2023—ini terasa seperti percakapan yang jujur. Bukan narasi yang berisik oleh pencitraan, melainkan rangkaian refleksi yang lahir dari pengalaman panjang dalam dunia pengabdian dan pelayanan publik.
Minggus menulis dengan nada tenang, tetapi sarat makna. Ia tidak sedang memamerkan perjalanan, melainkan mengajak pembaca memahami bagaimana amanah itu sesungguhnya bekerja, sunyi, berat, namun mulia.
Merawat Kepercayaan, Menjaga Integritas
Tema besar buku ini adalah kepercayaan, sesuatu yang tak terlihat, tetapi menentukan segalanya. Kepercayaan, dalam pandangan penulis, bukan sekadar reputasi, melainkan fondasi yang menopang relasi antara individu, institusi, dan masyarakat. Dalam sejumlah bab, pembaca diajak melihat bagaimana kepercayaan dibangun dari konsistensi sikap, keteguhan moral, dan keberanian mengambil keputusan yang benar meski tak populer.
Minggus tidak menyederhanakan persoalan. Ia menyadari bahwa dalam praktiknya, pengabdian kerap bersentuhan dengan dilema. Ada tekanan, ada ekspektasi, bahkan ada godaan untuk mengambil jalan pintas. Namun justru di situlah nilai buku ini terasa kuat, ia menegaskan bahwa integritas bukan sesuatu yang muncul saat situasi nyaman, melainkan lahir ketika seseorang berani bertahan dalam tekanan.
Catatan Personal, Pesan Universal
Walau berangkat dari pengalaman personal, pesan buku ini bersifat universal. Pembaca dari berbagai latar belakang, baik yang berkecimpung di birokrasi, pelayanan publik, organisasi sosial, maupun dunia profesional, akan menemukan cermin untuk dirinya sendiri. Gaya penulisan yang reflektif membuat setiap kisah terasa dekat, seolah pembaca sedang duduk berhadapan dengan penulis, mendengar kisah tentang jatuh bangun, tentang kesalahan yang diperbaiki, dan tentang komitmen yang terus dirawat.
Bahasanya tidak rumit. Pilihan katanya sederhana, tetapi menyentuh. Ada nuansa spiritual yang mengalir halus, terutama ketika penulis berbicara tentang “melayani langit”. Frasa itu tidak hanya dimaknai secara religius, tetapi juga sebagai simbol bahwa setiap kerja, sekecil apa pun, memiliki dimensi tanggung jawab yang lebih tinggi dari sekadar penilaian manusia.
Lebih dari Sekadar Memoar
Buku ini bukan sekadar catatan perjalanan. Ia adalah pengingat bahwa amanah tidak pernah netral. Ia bisa mengangkat martabat, tetapi juga bisa menjatuhkan jika disalahgunakan. Di tengah realitas publik yang sering dirundung krisis kepercayaan, Melayani Langit, Menjaga Kepercayaan terasa relevan dan kontekstual.
Minggus E.T. Gandeguai tidak menawarkan resep instan. Ia tidak menggurui. Ia hanya menunjukkan, melalui pengalaman dan refleksi, bahwa menjaga kepercayaan adalah proses panjang yang menuntut kesetiaan pada nilai, bahkan ketika tidak ada yang melihat.
Buku ini layak dibaca oleh para pemimpin, calon pemimpin, aparatur pelayanan publik, aktivis, bahkan generasi muda yang sedang menyiapkan diri memasuki dunia profesional. Ia memberi perspektif bahwa keberhasilan sejati bukan hanya soal capaian, melainkan tentang bagaimana kita mempertanggungjawabkan setiap langkah.
Pada akhirnya, buku Melayani Langit, Menjaga Kepercayaan: Catatan Senyap di Balik Pengabdian dan Amanah yang rencananya akan soft launching pada 2 Maret 2026 di Makassar ini mengingatkan satu hal sederhana namun mendalam: pengabdian bukan tentang sorotan, melainkan tentang kesetiaan. Dan kepercayaan, sekali retak, membutuhkan waktu panjang untuk dipulihkan. Buku ini seperti cahaya kecil di tengah riuhnya dunia yang sering lupa pada makna amanah. Sunyi, tetapi menerangi.

Judul buku: Melayani Langit, Menjaga Kepercayaan: Catatan Senyap di Balik Pengabdian dan Amanah
Penulis: Minggus E.T. Gandeguai
Penerbit: Nasmedia
Tahun Terbit: 2026
Jumlah Halaman: xviii+250 halaman
.jpg)
1.jpg)

2.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)

