- Di Rakortas Alih Fungsi Lahan, Mentan Serukan Jaga Sawah dan Perjuangkan Petani Desa Hutan
- Pertamina Group Boyong 35 Trofi PRIA 2026, Bukti Transparansi Komunikasi ke Publik
- Dari Dapur ke Langit, Ketika Minyak Jelantah Jadi Bahan Bakar Masa Depan
- Baterai Kalsium Siap Menantang Litium, Jadi Alternatif Energi Terbarukan Masa Depan
- Majelis Dikdasmen PC Muhammadiyah Tawangsari Adakan Penguatan Ideologi
- Bikin Takjub, Ilmuwan Ciptakan Cairan yang Bisa Menyimpan Tenaga Matahari
- Pikir Dulu Sebelum Mengirim Pertanyaan ke AI, Data Pribadi Anda Bisa Terungkap
- In Situ/In Vitro, Percakapan Ekologis Dua Seniman dalam Bayang-bayang Antroposen
- Konsep Indonesia Naik Kelas, Kunci Tekan Kemiskinan di Bawah 5%
- Beyond Energy: Langkah Baru Pertamina Pimpin Transisi Energi Hijau
Habitus Amran Sulaiman Merespon Cepat Bantuan Bencana Banjir dan Longsor di Sumatera

Hendri Irawan
Pemimpin Redaksi Porosbumi.com
Baca Lainnya :
- Presiden: 200 Helikopter Perkuat Kesiapsiagaan Nasional Terutama Penanganan Bencana0
- Banjir dan Longsor di Sumatera: 12 Komunitas Masyarakat Adat di Tano Batak Terisolir 0
- Gakkum Kehutanan: Ada Indikasi Kerusakan di Hulu DAS yang Perparah Bencana di Hilir0
- Datang Lagi ke Aceh, Presiden Pastikan Pasokan Pangan dan Hapus Utang KUR Korban Terdampak Bencana0
- Journalist Club Dorong Pemerintah Tetapkan Banjir Longsor Sumatera sebagai Bencana Nasional 0
BANJIR dan longsor yang
meluluhlantakkan Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar)
membutuhkan langkah cepat, taktis dan terukur, dari seluruh anak bangsa untuk
bersama bergandengan tangan mengulurkan bantuan. Salah satu anak bangsa yang
memiliki kepekaan itu, adalah Andi Amran Sulaiman, yang kini menjabat Menteri
Pertanian (Mentan) sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas).
Tak tanggung-tanggung, sebagai wujud empati dan
totalitasnya, pria kelahiran Bone, Sulawesi Selatan itu, memerintahkan seluruh
pegawainya di Kementerian Pertanian (Kementan) untuk tinggal di lokasi bencana,
memberikan bantuan maksimal kepada korban dan masyarakat yang terdampak
bencana.
“Pak Dirjen yang bertugas, bebas tugas sementara dua minggu
di Jakarta. Dua minggu ke depan kita lihat. Kalau perlu satu bulan standby di
lapangan (Lokasi bencana), jaga. Teman-teman (para Dirjen Kementan) yang posko
di tiga provinsi UPT, tolong perintahkan pegawai turun tangan. Enggak ada
tinggal di kantor. Enggak usah berkantor dulu. Yang di Aceh, turun bantu
saudara kita,” kata Amran Sulaiman, dalam pernyataannya yang terekam di video
yang diunggah channel youtube @imamwahyudi, Senin (8/12/2025).
Masih dalam video tersebut. Amran Sulaiman mengungkapkan
duka dan keprihatinannya yang mendalam atas musibah yang dialami masyarakat
Aceh, Sumut, dan Sumbar. Ia menegaskan, bahwa bencana yang dialami masyarakat
di tiga provinsi itu adalah musibah yang sejatinya juga dirasakan oleh seluruh
rakyat Indonesia.
“Kami mengerti perasaan saudara kita. Kami paham (yang
dialami) saudara kita. Jangan membayangkan kita berada di Jakarta, berada di
tempat lain, enggak masalah. Saudara kita ini butuh uluran tangan, apa pun,
minimal kita doakan beliau-beliau agar dikuatkan, agar sabar menghadapi cobaan
ini. Ini cobaan kita semua, bukan cobaan masyarakat Aceh saja, masyarakat
Sumut, Sumbar, tapi ini adalah cobaan kita semua.”
Amran Sulaiman yang bergerak cepat memerintahkan jajarannya
tidak hanya sebatas pada omongan, tapi juga dibarengi dengan tindakan nyata,
menggalang dan menyalurkan bantuan besar untuk korban bencana banjir dan tanah
longsor di Sumatera. Bahkan, Amran Sulaiman berhasil menggalang donasi senilai
total sekitar Rp75,85 miliar hanya dalam waktu satu jam melalui program
"Kementan Peduli Bencana", yang berasal dari sumbangan pegawai
Kementan dan mitra usaha.
Tidak berhenti di situ, Amran Sulaiman bersama jajaran dan
pihak terkait lainnya, juga menyalurkan bantuan logistik ke lokasi bencana yang
dilepas secara bertahap, mencakup logistik senilai Rp34,8 miliar dalam bentuk
barang, yang diangkut menggunakan berbagai moda transportasi, termasuk pesawat
Airbus A400M dan Kapal KRI Banda Aceh, untuk memastikan distribusi yang cepat
dan tepat sasaran.
Selain itu, pemerintah, melalui Bapanas/Kementan, juga
mempercepat penyaluran bantuan pangan reguler berupa 44 ribu ton beras dan 6
ribu ton minyak goreng ke daerah terdampak, serta menyiapkan cadangan beras
pemerintah hingga tiga kali lipat dari kebutuhan normal. Amran Sulaiman
menegaskan bahwa seluruh proses penyaluran bantuan dikawal ketat oleh pihaknya
dan didukung penuh oleh TNI untuk mencegah penyimpangan dan memastikan bantuan
diterima langsung oleh masyarakat yang membutuhkan.
Stok Beras yang Berlimpah dan Swasembada Pangan
Dalam pernyataannya saat penggalangan donasi untuk korban
bencana di Sumatera, Amran Sulaiman mencontohkan bagaimana ia merespons
permintaan mendesak dari daerah yang terdampak. Salah satu kepala daerah di
Lhokseumawe, Aceh, ujar Amran, mengirim pesan memohon 100 ton beras. Merespon
laporan itu, Amran langsung bertindak untuk segera merealisasikan sesuai
kebutuhan di lapangan. “Kami langsung balas, keluarkan beras, tanda tangan
menyusul karena ini darurat,” katanya.
Kendati merespon cepat, koordinasi terus dilakukan Amran
Sulaiman dengan Menko Perekonomian, BNPB, Mendagri, dan Bulog agar distribusi
tak terhambat birokrasi. Amran mengaku kerap mengontak staf di dini hari untuk
menandatangani dokumen agar penyaluran tidak terpaku prosedur formal. Kementan
juga bahkan menyiapkan bantuan pemulihan lahan dan produksi pertanian berupa
benih, alat, hingga traktor.
Amran mengingatkan, bahwa yang menjadi benang merah seluruh
gerakan donasi yang dilakukan pihaknya ini adalah semata wujud pelayan, bukan
pihak yang menerima atau menunggu hormat. “Yang terpenting, semua daerah
bencana yang butuh bantuan segera terlayani. Semua bantuan yang dibutuhkan
segera keluarkan karena mendesak.”
Kencangnya bantuan berupa kebutuhan pangan yang
digelontorkan Pemerintah melalui Kementan untuk korban bencana alam di
Sumatera, tentu bukan permainan sulap. Langkah cepat dan terukur ini tak lain
salah satunya karena berlimpahnya stok beras yang dimiliki Pemerintah. Mentan
Amran Sulaiman bahkan menyiapkan cadangan beras hingga tiga kali lipat dari
kebutuhan di tiga provinsi yang terdampak banjir bandang dan longsor, yakni di
Aceh, Sumut, dan Sumbar.
Hal ini dilakukan untuk menjamin pasokan pangan tetap aman
dan cukup baik bagi daerah yang terdampak langsung maupun wilayah yang
terhambat aksesnya akibat bencana. Adapun rinciannya yakni Aceh menjadi 80.000
ton, Sumut mencapai 30.000 ton, Sumbar 7.000 ton. Ketiga provinsi ini surplus
dalam satu tahun yakni Aceh 871.000 ton, Sumut 1 juta ton, dan Sumbar 500.000
ton.
"Sesuai arahan dari Bapak Presiden (Prabowo Subianto),
kami siapkan cadangan 3 kali lipat dari kebutuhan di 3 provinsi terdampak
bencana banjir. Kita tidak ingin ada satu orang pun kekurangan beras,"
kata Amran dalam konferensi pers pelepasan bantuan ke Sumatera di kantor
Kementan, dilansir CNBC, Kamis (4/11/2025).
Sekadar diketahui, keberhasilan Indonesia mencapai
swasembada pangan yang sudah di depan mata, dan hanya dalam satu tahun
terwujud, menunjukkan bahwa sektor pertanian kini menjadi fondasi utama ekonomi
nasional. Dengan sistem yang lebih efisien, produktif, dan berkeadilan bagi
petani, Indonesia membuktikan kemampuannya untuk mandiri dalam memenuhi
kebutuhan pangan rakyat.
Capaian ini merupakan hasil kerja keras seluruh jajaran
Kementerian Pertanian dan tim pangan nasional yang telah menjalankan berbagai
langkah strategis, mulai dari deregulasi kebijakan, intensifikasi lahan, hingga
pengamanan ekosistem produksi pangan.
Kementan pun memastikan, bahwa seluruh kebutuhan beras
medium nasional dipenuhi oleh produksi dalam negeri yang pada 2025
diproyeksikan mencapai 34,79 juta ton menurut data Badan Pusat Statistik (BPS).
Dengan capaian tersebut, Indonesia berada dalam kondisi surplus beras medium,
sehingga pasokan nasional aman dan stabil.
Laporang terbaru, Mentan Amran menegaskan, stok beras
nasional yang dikuasai Perum Bulog per 8 Desember 2025 tercatat sebesar 3,68
juta ton. Jumlah ini merupakan rekor tertinggi dalam satu dekade terakhir dan
jauh di atas rata-rata stok akhir tahun biasanya yang berkisar 1,2–1,5 juta
ton.
“Dengan stok 3,68
juta ton, kita punya cadangan tiga kali lipat dari kebutuhan bulanan nasional.
Jadi permohonan 10 ribu ton ini sangat kecil dibandingkan stok kita. Aceh akan
kami pastikan tercukupi, dan seluruh Indonesia tetap aman hingga panen raya
Maret–April 2026,” tegas Amran, Selasa (9/12/2025).
Pernyataan ini disampaikan Amran, setelah menyetujui
permohonan tambahan beras sebanyak 10.000 ton yang diajukan oleh Gubernur Aceh
Muzakir Manaf (Mualem) untuk kebutuhan masyarakat Aceh yang terdampak banjir
dan longsor. Persetujuan ini diberikan sebagai bagian dari respons cepat
pemerintah pusat terhadap situasi darurat di wilayah Sumatera.
Kepribadian yang Patut Dicontoh
Patut disadari, bahwa tidak semua orang memiliki kepekaan
dan empati sekaligus mampu bertindak cepat di tengah krisis yang melanda,
Dilansir dari berbagai sumber, seseorang yang memiliki sense of belonging
(rasa kepemilikan atau keterhubungan) terhadap korban bencana alam, dalam hal
ini bencana banjir dan longsor di Sumatera, terutama didorong oleh empati
kolektif dan kebutuhan psikologis dasar manusia untuk terhubung dengan orang
lain, terutama dalam situasi krisis. Ini melibatkan koneksi emosional,
kepercayaan, dan rasa peduli terhadap orang lain dan tujuan bersama, serta
memunculkan tanggung jawab dan kontribusi yang lebih besar.
Selain sense of belonging, seseorang yang mampu
merespon cepat situasi krisis bencana juga memiliki sense of crisis
(kepekaan/kesadaran krisis), yakni kemampuan untuk merasakan, memahami, dan
bersikap proaktif terhadap ancaman atau situasi abnormal yang mengancam
stabilitas (organisasi/negara/pribadi), ditandai dengan kewaspadaan,
kesiapsiagaan, pengambilan keputusan cepat, dan tindakan tegas untuk mencegah
masalah memburuk atau mengatasi yang sudah terjadi, bukan sekadar reaktif. Ini
melibatkan intuisi tajam, kepekaan terhadap penderitaan publik, dan tidak
terjebak dalam zona nyaman atau prosedur standar saat situasi darurat, seperti
terlihat pada penanganan pandemi atau krisis ekonomi.
Sense of belonging dan sense of crisis inilah
yang dimiliki seorang Amran Sulaiman dalam merespon bencana alam di Sumatera.
Dan, kendati Amran Sulaiman menegaskan jika yang dilakukan jajarannya semata
sebagai wujud pelayanan kepada masyarakat dan tidak butuh sikap hormat, namun
langkah ini tetap menuai simpati banyak pihak, yang dinilai sebagai
bentuk kepedulian sosial yang konkret dalam mitigasi bencana.
“Ini langkah yang sangat kongkret karena donasi besar yang
terkumpul digalang dalam waktu yang juga sangat cepat,” ujar Pakar dari ITB,
Mariana Marselina, dikutip Wartakota, Sabtu, (6/12/2025). Apresiasi
Mariana disampaikan atas langkah cepat Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran
Sulaiman menginisiasi donasi kemanusiaan sebesar Rp75,85 miliar bagi korban
banjir dan tanah longsor di Sumatera.
Mariana menilai aksi cepat itu menunjukkan kepekaan sosial
dan keteladanan bagi jajaran Kementan. Gerak cepat tersebut mengingatkan
kembali semangat donasi besar pada saat bencana Palu beberapa tahun lalu. Saat
itu, donasi untuk bencana Palu, terkumpul mencapai Rp50 miliar hanya dalam satu
jam. “Sekali lagi ini patut dicontoh karena di sana banyak masyarakat yang
perlu mendapat penanganan cepat,” katanya.
Menurut Mariana, kepercayaan para stakeholder
terhadap Kementan turut memperkuat besarnya respons donasi. Selama ini Mentan
Amran dikenal tidak pernah meminta atau menerima pemberian apa pun dari pihak
manapun, mencerminkan integritas lembaga dan keteladanan dalam menjaga amanah
jabatan sebagai pelayan publik. “Ini patut dicontoh dan karena apa yang
dilakukan berlangsung dalam waktu cepat. Langkah yang sangat kongkret membantu
sesama yang tertimpa bencana,” katanya.
Semangat dan kepedulian dalam membantu korban bencana alam
seperti yang dilakukan Andi Amran Sulaiman tentu bukan hanya karena yang
bersangkutan memiliki jabatan, kekuasaan atau kekayaan. Jika standarnya jabatan
dan kekayaan, tentu banyak orang yang lebih dari kaya dan berkuasa dari Andi
Amran Sulaiman, namun tidak menjadi jaminan orang tersebut memiliki kepedulian
besar terhadap para korban bencana alam.
Kepribadian Amran Sulaiman yang peduli terhadap korban
bencana alam seringkali merupakan cerminan dari sifat-sifat yang menginspirasi.
Biasanya orang bersangkutan menunjukkan empati yang mendalam, rela berkorban,
memiliki kesabaran yang besar, serta kepekaan yang lebih tinggi terhadap
kehidupan di sekitar mereka, baik sesama manusia lebih luas lagi alam dan
lingkungan sekitarnya.
Sejatinya, habitus Amran Sulaiman membantu para
korban bencana alam mestilah juga melekat pada diri pribadi setiap orang.
Menggunakan istilah filsuf Prancis, Pierre Boudiue, habitus: nilai-nilai
sosial yang dihayati seseorang, terbentuk melalui pergulatan hidup yang
panjang, lalu secara laten membentuk watak, ciri, dan perilaku orang tersebut.
Habitus biasanya begitu kuat tertanam
sehingga secara refleks akan mengarahkan bagaimana seseorang bersikap dan
memandang permasalahan, sekaligus memberi gambaran tentang bagaimana seorang
mesti berkiprah, dan apa yang mesti dilakukan. Sejauh mana mentalitas dan
sentuhan seorang yang peduli terhadap para korban bencana alam tetap terjaga,
yang semata didorong oleh alasan kemanusiaan, moral, solidaritas sosial, dan
nilai agama.
.jpg)
1.jpg)

2.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)

