Habitus Amran Sulaiman Merespon Cepat Bantuan Bencana Banjir dan Longsor di Sumatera

By PorosBumi 09 Des 2025, 13:49:43 WIB Tilikan
Habitus Amran Sulaiman Merespon Cepat Bantuan Bencana Banjir dan Longsor di Sumatera

Hendri Irawan

Pemimpin Redaksi Porosbumi.com

 

Baca Lainnya :

BANJIR dan longsor yang meluluhlantakkan Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar) membutuhkan langkah cepat, taktis dan terukur, dari seluruh anak bangsa untuk bersama bergandengan tangan mengulurkan bantuan. Salah satu anak bangsa yang memiliki kepekaan itu, adalah Andi Amran Sulaiman, yang kini menjabat Menteri Pertanian (Mentan) sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas).

Tak tanggung-tanggung, sebagai wujud empati dan totalitasnya, pria kelahiran Bone, Sulawesi Selatan itu, memerintahkan seluruh pegawainya di Kementerian Pertanian (Kementan) untuk tinggal di lokasi bencana, memberikan bantuan maksimal kepada korban dan masyarakat yang terdampak bencana.

“Pak Dirjen yang bertugas, bebas tugas sementara dua minggu di Jakarta. Dua minggu ke depan kita lihat. Kalau perlu satu bulan standby di lapangan (Lokasi bencana), jaga. Teman-teman (para Dirjen Kementan) yang posko di tiga provinsi UPT, tolong perintahkan pegawai turun tangan. Enggak ada tinggal di kantor. Enggak usah berkantor dulu. Yang di Aceh, turun bantu saudara kita,” kata Amran Sulaiman, dalam pernyataannya yang terekam di video yang diunggah channel youtube @imamwahyudi, Senin (8/12/2025).

Masih dalam video tersebut. Amran Sulaiman mengungkapkan duka dan keprihatinannya yang mendalam atas musibah yang dialami masyarakat Aceh, Sumut, dan Sumbar. Ia menegaskan, bahwa bencana yang dialami masyarakat di tiga provinsi itu adalah musibah yang sejatinya juga dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia.

“Kami mengerti perasaan saudara kita. Kami paham (yang dialami) saudara kita. Jangan membayangkan kita berada di Jakarta, berada di tempat lain, enggak masalah. Saudara kita ini butuh uluran tangan, apa pun, minimal kita doakan beliau-beliau agar dikuatkan, agar sabar menghadapi cobaan ini. Ini cobaan kita semua, bukan cobaan masyarakat Aceh saja, masyarakat Sumut, Sumbar, tapi ini adalah cobaan kita semua.”

Amran Sulaiman yang bergerak cepat memerintahkan jajarannya tidak hanya sebatas pada omongan, tapi juga dibarengi dengan tindakan nyata, menggalang dan menyalurkan bantuan besar untuk korban bencana banjir dan tanah longsor di Sumatera. Bahkan, Amran Sulaiman berhasil menggalang donasi senilai total sekitar Rp75,85 miliar hanya dalam waktu satu jam melalui program "Kementan Peduli Bencana", yang berasal dari sumbangan pegawai Kementan dan mitra usaha.

Tidak berhenti di situ, Amran Sulaiman bersama jajaran dan pihak terkait lainnya, juga menyalurkan bantuan logistik ke lokasi bencana yang dilepas secara bertahap, mencakup logistik senilai Rp34,8 miliar dalam bentuk barang, yang diangkut menggunakan berbagai moda transportasi, termasuk pesawat Airbus A400M dan Kapal KRI Banda Aceh, untuk memastikan distribusi yang cepat dan tepat sasaran.

Selain itu, pemerintah, melalui Bapanas/Kementan, juga mempercepat penyaluran bantuan pangan reguler berupa 44 ribu ton beras dan 6 ribu ton minyak goreng ke daerah terdampak, serta menyiapkan cadangan beras pemerintah hingga tiga kali lipat dari kebutuhan normal. Amran Sulaiman menegaskan bahwa seluruh proses penyaluran bantuan dikawal ketat oleh pihaknya dan didukung penuh oleh TNI untuk mencegah penyimpangan dan memastikan bantuan diterima langsung oleh masyarakat yang membutuhkan.

 

Stok Beras yang Berlimpah dan Swasembada Pangan

Dalam pernyataannya saat penggalangan donasi untuk korban bencana di Sumatera, Amran Sulaiman mencontohkan bagaimana ia merespons permintaan mendesak dari daerah yang terdampak. Salah satu kepala daerah di Lhokseumawe, Aceh, ujar Amran, mengirim pesan memohon 100 ton beras. Merespon laporan itu, Amran langsung bertindak untuk segera merealisasikan sesuai kebutuhan di lapangan. “Kami langsung balas, keluarkan beras, tanda tangan menyusul karena ini darurat,” katanya.

Kendati merespon cepat, koordinasi terus dilakukan Amran Sulaiman dengan Menko Perekonomian, BNPB, Mendagri, dan Bulog agar distribusi tak terhambat birokrasi. Amran mengaku kerap mengontak staf di dini hari untuk menandatangani dokumen agar penyaluran tidak terpaku prosedur formal. Kementan juga bahkan menyiapkan bantuan pemulihan lahan dan produksi pertanian berupa benih, alat, hingga traktor.

Amran mengingatkan, bahwa yang menjadi benang merah seluruh gerakan donasi yang dilakukan pihaknya ini adalah semata wujud pelayan, bukan pihak yang menerima atau menunggu hormat. “Yang terpenting, semua daerah bencana yang butuh bantuan segera terlayani. Semua bantuan yang dibutuhkan segera keluarkan karena mendesak.”

Kencangnya bantuan berupa kebutuhan pangan yang digelontorkan Pemerintah melalui Kementan untuk korban bencana alam di Sumatera, tentu bukan permainan sulap. Langkah cepat dan terukur ini tak lain salah satunya karena berlimpahnya stok beras yang dimiliki Pemerintah. Mentan Amran Sulaiman bahkan menyiapkan cadangan beras hingga tiga kali lipat dari kebutuhan di tiga provinsi yang terdampak banjir bandang dan longsor, yakni di Aceh, Sumut, dan Sumbar.

Hal ini dilakukan untuk menjamin pasokan pangan tetap aman dan cukup baik bagi daerah yang terdampak langsung maupun wilayah yang terhambat aksesnya akibat bencana. Adapun rinciannya yakni Aceh menjadi 80.000 ton, Sumut mencapai 30.000 ton, Sumbar 7.000 ton. Ketiga provinsi ini surplus dalam satu tahun yakni Aceh 871.000 ton, Sumut 1 juta ton, dan Sumbar 500.000 ton.

"Sesuai arahan dari Bapak Presiden (Prabowo Subianto), kami siapkan cadangan 3 kali lipat dari kebutuhan di 3 provinsi terdampak bencana banjir. Kita tidak ingin ada satu orang pun kekurangan beras," kata Amran dalam konferensi pers pelepasan bantuan ke Sumatera di kantor Kementan, dilansir CNBC, Kamis (4/11/2025).

Sekadar diketahui, keberhasilan Indonesia mencapai swasembada pangan yang sudah di depan mata, dan hanya dalam satu tahun terwujud, menunjukkan bahwa sektor pertanian kini menjadi fondasi utama ekonomi nasional. Dengan sistem yang lebih efisien, produktif, dan berkeadilan bagi petani, Indonesia membuktikan kemampuannya untuk mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan rakyat.

Capaian ini merupakan hasil kerja keras seluruh jajaran Kementerian Pertanian dan tim pangan nasional yang telah menjalankan berbagai langkah strategis, mulai dari deregulasi kebijakan, intensifikasi lahan, hingga pengamanan ekosistem produksi pangan.

Kementan pun memastikan, bahwa seluruh kebutuhan beras medium nasional dipenuhi oleh produksi dalam negeri yang pada 2025 diproyeksikan mencapai 34,79 juta ton menurut data Badan Pusat Statistik (BPS). Dengan capaian tersebut, Indonesia berada dalam kondisi surplus beras medium, sehingga pasokan nasional aman dan stabil.

Laporang terbaru, Mentan Amran menegaskan, stok beras nasional yang dikuasai Perum Bulog per 8 Desember 2025 tercatat sebesar 3,68 juta ton. Jumlah ini merupakan rekor tertinggi dalam satu dekade terakhir dan jauh di atas rata-rata stok akhir tahun biasanya yang berkisar 1,2–1,5 juta ton.

 “Dengan stok 3,68 juta ton, kita punya cadangan tiga kali lipat dari kebutuhan bulanan nasional. Jadi permohonan 10 ribu ton ini sangat kecil dibandingkan stok kita. Aceh akan kami pastikan tercukupi, dan seluruh Indonesia tetap aman hingga panen raya Maret–April 2026,” tegas Amran, Selasa (9/12/2025).

Pernyataan ini disampaikan Amran, setelah menyetujui permohonan tambahan beras sebanyak 10.000 ton yang diajukan oleh Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) untuk kebutuhan masyarakat Aceh yang terdampak banjir dan longsor. Persetujuan ini diberikan sebagai bagian dari respons cepat pemerintah pusat terhadap situasi darurat di wilayah Sumatera.

 

Kepribadian yang Patut Dicontoh

Patut disadari, bahwa tidak semua orang memiliki kepekaan dan empati sekaligus mampu bertindak cepat di tengah krisis yang melanda, Dilansir dari berbagai sumber, seseorang yang memiliki sense of belonging (rasa kepemilikan atau keterhubungan) terhadap korban bencana alam, dalam hal ini bencana banjir dan longsor di Sumatera, terutama didorong oleh empati kolektif dan kebutuhan psikologis dasar manusia untuk terhubung dengan orang lain, terutama dalam situasi krisis. Ini melibatkan koneksi emosional, kepercayaan, dan rasa peduli terhadap orang lain dan tujuan bersama, serta memunculkan tanggung jawab dan kontribusi yang lebih besar.

Selain sense of belonging, seseorang yang mampu merespon cepat situasi krisis bencana juga memiliki sense of crisis (kepekaan/kesadaran krisis), yakni kemampuan untuk merasakan, memahami, dan bersikap proaktif terhadap ancaman atau situasi abnormal yang mengancam stabilitas (organisasi/negara/pribadi), ditandai dengan kewaspadaan, kesiapsiagaan, pengambilan keputusan cepat, dan tindakan tegas untuk mencegah masalah memburuk atau mengatasi yang sudah terjadi, bukan sekadar reaktif. Ini melibatkan intuisi tajam, kepekaan terhadap penderitaan publik, dan tidak terjebak dalam zona nyaman atau prosedur standar saat situasi darurat, seperti terlihat pada penanganan pandemi atau krisis ekonomi. 

Sense of belonging dan sense of crisis inilah yang dimiliki seorang Amran Sulaiman dalam merespon bencana alam di Sumatera. Dan, kendati Amran Sulaiman menegaskan jika yang dilakukan jajarannya semata sebagai wujud pelayanan kepada masyarakat dan tidak butuh sikap hormat, namun langkah ini tetap menuai simpati banyak pihak, yang dinilai sebagai bentuk kepedulian sosial yang konkret dalam mitigasi bencana.

“Ini langkah yang sangat kongkret karena donasi besar yang terkumpul digalang dalam waktu yang juga sangat cepat,” ujar Pakar dari ITB, Mariana Marselina, dikutip Wartakota, Sabtu, (6/12/2025). Apresiasi Mariana disampaikan atas langkah cepat Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menginisiasi donasi kemanusiaan sebesar Rp75,85 miliar bagi korban banjir dan tanah longsor di Sumatera.

Mariana menilai aksi cepat itu menunjukkan kepekaan sosial dan keteladanan bagi jajaran Kementan. Gerak cepat tersebut mengingatkan kembali semangat donasi besar pada saat bencana Palu beberapa tahun lalu. Saat itu, donasi untuk bencana Palu, terkumpul mencapai Rp50 miliar hanya dalam satu jam. “Sekali lagi ini patut dicontoh karena di sana banyak masyarakat yang perlu mendapat penanganan cepat,” katanya.

Menurut Mariana, kepercayaan para stakeholder terhadap Kementan turut memperkuat besarnya respons donasi. Selama ini Mentan Amran dikenal tidak pernah meminta atau menerima pemberian apa pun dari pihak manapun, mencerminkan integritas lembaga dan keteladanan dalam menjaga amanah jabatan sebagai pelayan publik. “Ini patut dicontoh dan karena apa yang dilakukan berlangsung dalam waktu cepat. Langkah yang sangat kongkret membantu sesama yang tertimpa bencana,” katanya.

Semangat dan kepedulian dalam membantu korban bencana alam seperti yang dilakukan Andi Amran Sulaiman tentu bukan hanya karena yang bersangkutan memiliki jabatan, kekuasaan atau kekayaan. Jika standarnya jabatan dan kekayaan, tentu banyak orang yang lebih dari kaya dan berkuasa dari Andi Amran Sulaiman, namun tidak menjadi jaminan orang tersebut memiliki kepedulian besar terhadap para korban bencana alam.

Kepribadian Amran Sulaiman yang peduli terhadap korban bencana alam seringkali merupakan cerminan dari sifat-sifat yang menginspirasi. Biasanya orang bersangkutan menunjukkan empati yang mendalam, rela berkorban, memiliki kesabaran yang besar, serta kepekaan yang lebih tinggi terhadap kehidupan di sekitar mereka, baik sesama manusia lebih luas lagi alam dan lingkungan sekitarnya.

Sejatinya, habitus Amran Sulaiman membantu para korban bencana alam mestilah juga melekat pada diri pribadi setiap orang. Menggunakan istilah filsuf Prancis, Pierre Boudiue, habitus: nilai-nilai sosial yang dihayati seseorang, terbentuk melalui pergulatan hidup yang panjang, lalu secara laten membentuk watak, ciri, dan perilaku orang tersebut.

Habitus biasanya begitu kuat tertanam sehingga secara refleks akan mengarahkan bagaimana seseorang bersikap dan memandang permasalahan, sekaligus memberi gambaran tentang bagaimana seorang mesti berkiprah, dan apa yang mesti dilakukan. Sejauh mana mentalitas dan sentuhan seorang yang peduli terhadap para korban bencana alam tetap terjaga, yang semata didorong oleh alasan kemanusiaan, moral, solidaritas sosial, dan nilai agama.

 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment