- Pikir Dulu Sebelum Mengirim Pertanyaan ke AI, Data Pribadi Anda Bisa Terungkap
- In Situ/In Vitro, Percakapan Ekologis Dua Seniman dalam Bayang-bayang Antroposen
- Konsep Indonesia Naik Kelas, Kunci Tekan Kemiskinan di Bawah 5%
- Beyond Energy: Langkah Baru Pertamina Pimpin Transisi Energi Hijau
- Presiden Prabowo: Ketahanan Pangan Jadi Urusan Keamanan Negara
- Polri Akan Membangun 10 Gudang Ketahanan Pangan Baru di 2026
- Berhenti Makan 3 Jam Sebelum Tidur Agar Jantung Lebih Sehat
- Diversifikasi Jadi Kunci Masa Depan Pertanian
- Cara Anak Muda Mengelola Keuangan di 2026, Gaya Hidup Jalan Uang Tetap Aman
- Whoosh Resmi Go Global, Kini Bisa Dipesan Dunia Lewat Trip.com
Kematian Anak Akibat Kelaparan di Gaza Melonjak Tajam
(1).jpg)
MOSKOW - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara
resmi mendokumentasikan 21 kematian anak di bawah usia lima tahun akibat
malnutrisi di Jalur Gaza sejak awal 2025, mengonfirmasi lonjakan tajam jumlah
kematian akibat kelaparan, kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom
Ghebreyesus, Rabu (23/7/2025).
Sebelumnya pada hari itu, Kementerian Kesehatan Gaza
menyatakan bahwa dalam 24 jam terakhir sedikitnya 10 orang di Gaza meninggal
akibat malnutrisi, sehingga jumlah totalnya menjadi 111 orang.
"2,1 juta orang yang terjebak di zona perang, di Gaza,
menghadapi pembunuh lain selain bom dan peluru – kelaparan. Kini kita
menyaksikan lonjakan kematian akibat malnutrisi. Sejak 17 Juli pusat-pusat
malnutrisi akut parah penuh sesak tanpa pasokan makanan darurat yang memadai.
Pada 2025 WHO telah mendokumentasikan 21 kematian akibat malnutrisi pada
anak-anak di bawah usia lima tahun," kata Tedros dalam konferensi pers di
Jenewa.
Baca Lainnya :
- Menyesapi Kearifan Lokal Masyarakat Sumatera Menjelang Peringatan Hari Harimau Sedunia0
- Dari Liberalisasi ke Proteksi, Tarik Ulur Diplomasi Dagang Indonesia-AS0
- Celah Memperlambat Mekanisme Fiktif-Positif dalam OSS-RBA 0
- Merindukan Sandiwara (Guru) Growth Mindset0
- Kepala: Trump dan Indonesia0
Menurutnya, tingkat malnutrisi akut di Jalur Gaza melampaui
10 persen dari populasi, dan lebih dari 20 persen ibu hamil dan menyusui
menderita malnutrisi, yang kerap dalam kondisi parah.
Tedros menambahkan bahwa penangguhan dan pembatasan akses
pasokan bantuan kemanusiaan juga memicu krisis kelaparan.
"95 persen rumah tangga di Gaza menghadapi krisis air
yang parah, dengan akses harian jauh di bawah kebutuhan minimum untuk minum,
memasak, dan kebersihan," katanya.
Pada Januari Israel melarang aktivitas Badan PBB untuk
Pengungsi Palestina di Timur Dekat (UNRWA), menuding bahwa beberapa staf mereka
telah membantu serangan Hamas ke Israel pada Oktober 2023, yang memicu eskalasi
konflik saat ini dan mendorong Israel untuk memberlakukan pengepungan total di
wilayah kantong tersebut.
Baru-baru ini otoritas Israel mulai mengelola pasokan
bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza melalui Yayasan Kemanusiaan Gaza yang
didukung Amerika Serikat, yang titik pendistribusiannya terkonsentrasi di
wilayah Selatan.
Pada 20 Mei Komisaris Jenderal UNRWA, Philippe Lazzarini
menuduh Israel telah menjadikan bantuan kemanusiaan untuk menggusur paksa warga
Palestina.
Sumber: Sputnik-OANA
.jpg)
1.jpg)

2.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)

