Superbank Defisit Rp926 Miliar, Investor Tidak Dijamin Dapat Dividen

By abdul aziz 25 Nov 2025, 14:39:57 WIB Ekonomi
Superbank Defisit Rp926 Miliar, Investor Tidak Dijamin Dapat Dividen

Keterangan Gambar : Ilustrasi IPO- Istimewa


JAKARTA- PT Super Bank Indonesia Tbk mengincar dana investor hingga Rp3,062 triliun melalui penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) guna modal kerja seperti penyaluran kredit dan belanja modal.  

Calon emiten bank ini telah mendapat pernyataan pra efektif untuk melakukan penawaran awal sebanyak 4.406.612.300 saham baru bernominal Rp100 per lembar atau 13 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh.

Bank yang memiliki 2 kantor cabang ini mematok harga penawaran awal Rp525-Rp695 per lembar dalam penawaran awal mulai tanggal 25 November-1 Desember 2025. Sehingga nilai IPO ini berkisar Rp2,13 triliun.

Baca Lainnya :

OJK diharapkan menerbitkan pernyataan efektif IPO pada tanggal 8 Desember 2025. Jika sesuai jadwal itu, bersama Mandiri Sekuritas, CLSA Sekuritas, Trimegah Sekuritas dan Sucor Sekuritas melakukan penawaran umum pada tanggal 10-15 Desember 2025.

Rencananya, 70 persen dana IPO untuk modal kerja seperti penyaluran kredit. Sisanya, 30 persen dana IPO untuk belanja moda seperti pengembangan produk, pada pengembangan teknologi informasi, dan/atau hal-hal lain yang dapat mendukung pertumbuhan usaha.

Namun perlu diperhatikan, bank digital dengan pengendali terakhir Rd Eddy K Sariaatmadja dan Anthony Tan Pin Yeow  masih mengalami defisit atau akumulasi kerugian menahun Rp926,12 miliar per 30 Juni 2025.

Hingga tanggal Prospektus ini, Perseroan belum memiliki saldo laba ditahan positif yang memungkinkan Perseroan untuk membagikan dividen,” tulis manajemen Superbank dalam prospektus dikutip dari laman e-IPO, Selasa(25/11/2025).

Bahkan menajemen mengingatkan kepada calon investor bahwa tidak ada jaminan bahwa Perseroan akan dapat membagikan dividen dalam waktu dekat atau sama sekali. Pasalnya, kemampuan membagikan dividen terkait akan bergantung pada kinerja keuangan di masa depan, laba ditahan, kondisi keuangan, arus kas, dan kebutuhan modal kerja, serta belanja modal, komitmen kontraktual, dan biaya yang timbul sehubungan dengan bisnis Perseroan.

Selain itu, perseroan mungkin akan menandatangani perjanjian pembiayaan di masa depan yang dapat membatasi kemampuan Perseroan untuk membayar dividen, dan Perseroan mungkin menanggung biaya atau kewajiban yang dapat mengurangi atau menghilangkan kas yang tersedia untuk pembagian dividen.

Oleh karena itu, pengembalian kepada pemegang saham mungkin terbatas pada kenaikan harga Saham Perseroan, jika ada, yang mungkin saja tidak pernah terjadi.” Tulis manajemen Superbank.

Perlu dicermati juga, Superbank telah menjalan program Long Term Incentive Plan (LTIP) bagi karyawan dan manajemen untuk memiliki 650 juta saham atau 1,92 persen dari total saham. Program itu diikuti oleh 354 perserta dengan total dana yang diraih Rp65 miliar.

Artinya, peserta LTIP membeli saham superbank dengan harga Rp1 per lembar. Saham itu akan dialihkan kepada peserta dalam rentang 4 tahun sejak IPO secara bertahap. Tapi selama 8 bulan setelah IPO saham tersebut belum bisa dipindahtangankan atau lock up.  

 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment