- Baterai Kalsium Siap Menantang Litium, Jadi Alternatif Energi Terbarukan Masa Depan
- Majelis Dikdasmen PC Muhammadiyah Tawangsari Adakan Penguatan Ideologi
- Bikin Takjub, Ilmuwan Ciptakan Cairan yang Bisa Menyimpan Tenaga Matahari
- Pikir Dulu Sebelum Mengirim Pertanyaan ke AI, Data Pribadi Anda Bisa Terungkap
- In Situ/In Vitro, Percakapan Ekologis Dua Seniman dalam Bayang-bayang Antroposen
- Konsep Indonesia Naik Kelas, Kunci Tekan Kemiskinan di Bawah 5%
- Beyond Energy: Langkah Baru Pertamina Pimpin Transisi Energi Hijau
- Presiden Prabowo: Ketahanan Pangan Jadi Urusan Keamanan Negara
- Polri Akan Membangun 10 Gudang Ketahanan Pangan Baru di 2026
- Berhenti Makan 3 Jam Sebelum Tidur Agar Jantung Lebih Sehat
Tak Ada Cabai Impor di Solo

REPUBLIKA.CO.ID, SOLO --- Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Solo memastikan cabai impor tak beredar di Solo. Wakil Ketua TPID Kota Solo yang juga Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Solo, Bandoe Widiarto mengatakan hingga saat ini belum ada pedagang cabai yang melaporkan peredaran cabai impor. Dia pun meyakini cabai impor tak beredar di Solo.
"Sejauh ini (cabai impor) saya pantau di Solo ini belum ada, dan kalaupun ada itu pasti ada dampaknya juga, dan pedagang pun pasti memberi tahu pada kami kalau ada cabai impor, karena kami terus berkomunikasi dengan pedagang," tutur Bandoe Widiarto, Jumat (24/2)
Sebelumnya peredaran cabai impor telah ditemukan di sejumlah pasar tradisional di Tulungagung, Jawa Timur. Cabai impor Cina dipatok harga grosir Rp 54 ribu per kilogram sedang jenis cabai impor India dijual dengan harga Rp 65 ribu per kilogram.
Sementara itu berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kota Solo mencatat kenaikan harga cabai rawit menjadi salah satu komoditi yang berdampak terhadap inflasi. Pada Desember tahun lalu misalnya, dengan naiknya harga cabai menyumbang inflasi sebesar 0,16 persen. Saat ini, harga cabai rawit merah lokal di Solo berada di kisaran Rp 120 ribu per kilogram.
"Pada januari pun kenaikan harga mengakibatkan inflasi di Solo mencapai 1,16 persen, ini angka yang tinggi ditunjang dengan harga komoditas yang sekarang bergejolak ini. Cabai memang lagi susah, banyak yang gagal panen, faktor cuaca dan distribusi juga berpengaruh, tapi kami berusaha supaya agar harga tetap terkendali," tuturnya.
sumber : republika.co.id
.jpg)
1.jpg)

2.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)

