- Dilema Meremajakan Tanah dan Alam Melalui Pertanian Regeneratif
- Kades di Tapteng Ramai-Ramai Surati Presiden, Minta Pelurusan Penyebab Banjir Longsor DAS Aek Garoga
- 8 Desa Wisata di Indonesia Buat Kamu Merasakan Kehidupan Masyarakat Lokal
- Fenomena Antre di Tempat Makan Viral, Worth It atau Sekadar Ikut Tren?
- Apakah Venezuela Masih Jadi Kekuatan Besar di Pasar Minyak Global?
- RDMP Balikpapan: Sumur Mathilda yang Kini Garda Terdepan Energi Indonesia Timur
- Tak Ada Pilihan Lain, Indonesia Harus Menjadi Pengendali Harga Nikel Dunia
- Riset BRIN Ungkap Faktor Emisi Karbon Lamun Indonesia, Jawa–Sumatra Tertinggi
- Agroforestri, Memadukan Pertanian dengan Restorasi Hutan
- Mengulik Pertanian Molekuler Tanaman di Era Bioekonomi untuk Ketahanan Pangan Masa Depan
Ilmuwan Temukan Titik Rawan Gempa Megathrust Berikutnya di Asia Tenggara
Riset terkini menyebut tarikan lempeng di bawah lapisan tanah pulau Jawa berpotensi menentukan lokasi gempa dahsyat di zona patahan raksasa (megathrust) Sunda

Keterangan Gambar : Lempeng tektonik Sunda megathrust (wikimedia.org/eric gaba/sting - fr:sting)
Studi terkini Monash University berjudul “Bridging the gap between subduction dynamics and the long- term strength of the Sunda megathrust” mengungkap fakta, kekuatan besar dari kedalaman bumi membentuk risiko terjadinya “gempa dahsyat” yang merusak di salah satu batas lempeng paling berbahaya di dunia, yaitu zona megathrust Sunda.
Penelitian yang kini bisa dibaca di jurnal ilmiah Nature Communications itu menggunakan simulasi superkomputer 3D yang canggih, para peneliti menemukan bahwa lempeng bumi yang menghujam jauh di bawah pulau Jawa menciptakan aliran mantel dan tekanan kuat yang terdorong ke utara, hingga mencapai Sumatra dan wilayah Andaman. Kondisi ini membuat daerah-daerah tersebut berpotensi mengalami gempa bumi paling kuat di dunia. Zona megathrust Sunda pernah memicu bencana besar di zaman modern, seperti gempa dan tsunami Sumatra–Andaman pada 2004 silam yang berkekuatan 9,3 magnitudo momen (Mw).
Baca Lainnya :
- Forest Defender Camp 2025: Desakan Masyarakat Adat untuk Melindungi Hutan Hujan Terakhir Indonesia0
- Solusi Ketahanan Pangan, Singapura Kembangkan Pertanian Menggunakan Kecerdasan Buatan0
- MIND ID Salurkan Sebanyak 100.000 Item Kebutuhan di Aceh Tamiang0
- Dari Kebun Buah di Eropa hingga Jantung Malaysia, Mencecap Cita Rasa Abadi Apel Prancis0
- OpenAI Perkenalkan ChatGPT Health untuk Menjawab Pertanyaan Medis0
Namun, hingga kini para ilmuwan belum mengetahui secara pasti mengapa gempa-gempa paling dahsyat justru terjadi di segmen utara, padahal lempeng yang menghujam di sana lebih muda, lebih pendek, dan secara teori seharusnya lebih lemah.
Dr Thyagarajulu Gollapalli, peneliti utama School of Earth, Atmosphere and Environment, Monash University, menjelaskan temuan ini menggugurkan anggapan lama mengenai proses terbentuknya ancaman gempa di pertemuan lempeng tektonik.
“Kami mendapati bahwa tarikan masif dari lempeng Jawa di bawah permukaan bumi bekerja seperti jangkar raksasa, yang menyeret lempeng di sekitarnya dan menambah tekanan tektonik dalam jarak ratusan kilometer," jelas Gollapalli.
Lebih lanjut ia menjelaskan, tekanan dari kedalaman bumi ini menjelaskan kenapa wilayah utara Sumatra mengalami tekanan terbesar dan gempa terkuat, meski lempeng lokal di sana sebenarnya tidak cukup kuat.
Penelitian ini juga mengungkap bahwa zona megathrust di selatan Jawa bisa menjadi semacam “penghalang” gempa besar, karena tekanan kuat di sana membuat lempeng saling menekan rapat sehingga kemungkinan patahan raksasa lebih kecil.
Profesor Fabio Capitanio, penulis senior yang juga berasal dari School of Earth, Atmosphere and Environment, mengatakan bahwa penelitian ini memberikan sudut pandang baru yang sangat penting untuk memprediksi potensi bahaya seismik.
“Untuk pertama kalinya, kami berhasil menemukan hubungan antara proses subduksi di kedalaman bumi dengan titik pasti terbentuknya gempa-gempa besar. Model yang kami buat menunjukkan bahwa proses yang berlangsung 600 kilometer di bawah tanah Jawa dapat menjadi penentu lokasi terjadinya bencana di permukaan, sekaligus menunjukkan lokasi yang aman dari kejadian tersebut,” papar Capitanio.
Menurut para peneliti, temuan ini akan membantu memperbaiki model perkiraan risiko gempa di Asia Tenggara, wilayah yang dihuni lebih dari 300 juta orang di sekitar zona megathrust Sunda.
.jpg)
1.jpg)

.jpg)


.jpg)

.jpg)

.jpg)

