- Sejatinya Ketahanan Pangan Harus Dibangun, Bukan Tumbuh
- Alarm Keras Bencana Ekologis Batang Toru, Jantung Habitat Orangutan Tapanuli
- Ternyata Mandi di Hutan dapat Menjaga Kesehatan Paru-paru, Begini Penjelasannya
- Seung Tae dan Yayasan Dupamade Asa Raya Salurkan Bantuan di Aceh Tamiang
- Baterai Sebagai Simbol Paradoks Zaman Modern, Antara Energi Bersih dan Limbah Berbahaya
- Hentikan Penggusuran dan Represifitas pada Kelompok Tani Padang Halaban!
- Climb On Student Open Bouldering 2026
- Pioner Cetak Sawah, Reinardus Ndiken Buktikan Masyarakat Adat Merauke Siap Bertransformasi
- Sinema Inklusif Nusantara Membuka Jalan untuk Difabel Berkarya di Industri Film
- Investasi Minerba Sentuh USD6,7 Miliar, Genjot Nilai Tambah SDA Nasional
Mendorong Digitalisasi Pertanian dan Pangan Melalui 2nd Indonesia - US Digital Technology Dialogue
(1).jpg)
TEXAS - Di era modern saat ini,
teknologi digital menjadi kunci dalam menjawab tantangan pada sektor pertanian
dan pangan. Digitalisasi mampu meningkatkan efisiensi produksi, distribusi,
hingga pengelolaan data untuk menciptakan sistem pangan yang lebih berkelanjutan.
Dalam konteks Indonesia, penerapan teknologi ini tidak hanya mendukung
ketahanan pangan nasional, tetapi juga membuka peluang inovasi yang lebih
luas.
Baru-baru ini, Badan Pangan Nasional/National Food Agency
(NFA) yang diwakili Direktur Penganekaragaman Konsumsi Pangan, Rinna Syawal dan
Kepala Pusat Data dan Informasi Pangan, Kelik Budiana, melakukan dialog
strategis bersama berbagai pihak di Amerika Serikat, termasuk lembaga
pemerintah, sektor swasta, dan universitas terkemuka pada 2nd Indonesia - US
Digital Technology Dialog di Houston, Texas US (3-6/12).
“Kunjungan ini seyogyanya bertujuan menggali informasi dan
pembelajaran mengenai penerapan teknologi digital di sektor pertanian dan
pangan. Ini menunjukkan komitmen Indonesia untuk terus berkembang melalui
adaptasi teknologi terkini dan menjadi langkah strategis investasi jangka
panjang bagi tercapainya ketahanan pangan yang lebih tangguh dan inklusif,”
ungkap Rinna.
Baca Lainnya :
- Produk Perikanan Indonesia Diperhitungkan dalam Rantai Pasok Protein Global0
- Rona Bahagia Guru dan Siswa SMKN 1 Mendo Barat, Bangka Memanen Kacang Tanah 0
- Cadangan Pangan Diperkuat untuk Antisipasi Bantuan Bencana0
- NFA Terus Perkuat Cadangan Pangan Pemerintah0
- Ini yang Membuat Prabowo Yakin Indonesia Bisa Bebas dari Impor Semua Produk Pangan0
Pada kesempatan yang sama, Kelik juga menyampaikan bahwa
dengan pemanfaatan teknologi digital akan membantu pelaku di bidang pertanian
dan pangan. “Dengan pemanfaatan data analytics dan Artificial Intelligent,
tentu akan sangat membantu para pelaku di bidang agriculture untuk lebih
meningkatkan produktifitas, baik di sisi hulu maupun hilir. Di samping itu,
juga bisa membatu mengambil keputusan pihak-pihak terkait.” sebutnya.
Kelik berharap dari dialog ini akan membuka peluang besar
untuk kolaborasi riset dan pengembangan teknologi antara kedua negara.
Kerjasama ini mencakup berbagai program, seperti peningkatan kapasitas sumber
daya manusia, pengembangan infrastruktur teknologi, serta implementasi sistem
digital yang mendukung rantai pasok pangan di Indonesia.
“Kolaborasi antara Indonesia dan Amerika Serikat ini membawa
angin segar bagi sektor pertanian dan pangan di tanah air yang berpotensi
menjadi katalisator bagi kemajuan sektor pertanian nasional. Melalui adopsi
teknologi canggih serta dukungan riset berbasis data, Indonesia dapat lebih
siap menghadapi tantangan global sekaligus meningkatkan daya saingnya.” tambah
Rinna.
Sebagai bagian dari kunjungan, NFA mengunjungi sejumlah
institusi penting di AS, seperti Texas Department of Agriculture (TDA) dan
Texas Agriculture and Mechanical University (TAMU) - College Station. Selain
itu, mereka juga mengunjungi Beaumont Center, Indiana Soybean Alliance (ISA),
Opportunity Austin, dan Riviana Foods Inc. Setiap kunjungan dirancang untuk
mempelajari teknologi dan praktik terbaik yang relevan bagi kebutuhan
Indonesia.
.jpg)
1.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)


.jpg)

.jpg)

