- Dilema Meremajakan Tanah dan Alam Melalui Pertanian Regeneratif
- Kades di Tapteng Ramai-Ramai Surati Presiden, Minta Pelurusan Penyebab Banjir Longsor DAS Aek Garoga
- 8 Desa Wisata di Indonesia Buat Kamu Merasakan Kehidupan Masyarakat Lokal
- Fenomena Antre di Tempat Makan Viral, Worth It atau Sekadar Ikut Tren?
- Apakah Venezuela Masih Jadi Kekuatan Besar di Pasar Minyak Global?
- RDMP Balikpapan: Sumur Mathilda yang Kini Garda Terdepan Energi Indonesia Timur
- Tak Ada Pilihan Lain, Indonesia Harus Menjadi Pengendali Harga Nikel Dunia
- Riset BRIN Ungkap Faktor Emisi Karbon Lamun Indonesia, Jawa–Sumatra Tertinggi
- Agroforestri, Memadukan Pertanian dengan Restorasi Hutan
- Mengulik Pertanian Molekuler Tanaman di Era Bioekonomi untuk Ketahanan Pangan Masa Depan
Mengulik Pertanian Molekuler Tanaman di Era Bioekonomi untuk Ketahanan Pangan Masa Depan
Saat ini dunia membutuhkan usaha ilmu hayati baru

Keterangan Gambar : Ilustrasi pertanian molekuler tanaman (gambar dihasilkan AI Google Gemini)
Bayangkan dunia 30 tahun dari sekarang. Keluarga global tumbuh menjadi hampir 10 miliar orang. Untuk memastikan setiap orang dapat mengonsumsi pangan, perlu diproduksi 50% hingga 60% lebih banyak makanan daripada yang diproduksi saat ini. Selain itu, di beberapa bagian dunia, permintaan protein diperkirakan akan berlipat ganda.
Tetapi inilah tantangannya. Sistem pangan saat ini menghadapi “badai sempurna.” Perubahan iklim membuat cuaca tidak dapat diprediksi, konflik geopolitik menyebabkan rantai pasokan yang rentan, dan penyakit seperti flu burung mengancam ternak. Solusinya, tidak hanya harus mencari lebih banyak pangan, tetapi memproduksinya dengan cara yang tangguh, etis, dan berkelanjutan.
Baca Lainnya :
- Sejumlah Peneliti Mengembangkan Platform AI untuk Membantu Ketahanan Pangan 0
- Sistem Kandang Berpengaruh pada Kesejahteraan Itik Petelur dan Kualitas Telur0
- Ilmuwan Temukan Titik Rawan Gempa Megathrust Berikutnya di Asia Tenggara0
- Forest Defender Camp 2025: Desakan Masyarakat Adat untuk Melindungi Hutan Hujan Terakhir Indonesia0
- Mentan Amran: Produksi Naik, Target Serap Gabah 2026 Capai 4 Juta Ton0
Dalam sebuah jurnal yang diterbikan npj Science of Plants, terungkap sebuah terobosan yang dapat berfungsi sebagai “jaring pengaman” untuk pasokan makanan global yang disebut “Pilar Keempat” produksi pangan. Lantas, apa itu “Pilar Keempat”?
Sampai sekarang, percakapan tentang masa depan protein berfokus pada tiga area; protein nabati olahan, daging yang ditumbuhkan di laboratorium, dan protein yang “diproduksi” oleh mikroba dalam tangki baja raksasa. Namun Pilar Keempat, pertanian molekuler tanaman (PMF) dan kultur sel tanaman, sangat berbeda.
Alih-alih membangun pabrik mahal yang dipenuhi tangki baja, metode ini menggunakan tanaman itu sendiri sebagai pabrik mini. Metode ini “memprogram” tanaman seperti padi, kedelai, kacang polong, atau kentang untuk menumbuhkan protein spesifik yang ditemukan dalam daging, telur, dan produk susu tepat di dalam biji atau umbinya.
Tanaman adalah Pabrik Terbaik Alam
Mungkin banyak yang bertanya; “Mengapa tidak menggunakan tangki baja saja?” Sebenarnya, meskipun “memproduksi” protein (fermentasi presisi) itu bagus, peningkatan skalanya sangat mahal. Cara ini membutuhkan listrik dalam jumlah besar, air dengan kemurnian tinggi, dan baja yang cukup untuk membangun tangki.
Sementara tanaman memiliki beberapa senjata rahasia. Dari sisi biaya, menanam tanaman jauh lebih murah daripada menjalankan pabrik berteknologi tinggi. Lalu dari sisi keamanan, tumbuhan tidak membawa patogen yang sama seperti hewan, tetapi menjadikannya cara yang sangat “bersih” untuk menanam makanan.
Kemudian dari sisi kualitas, tumbuhan sangat pandai dalam “menyelesaikan” protein, melipatnya sedemikian rupa sehingga berperilaku dan terasa lebih seperti versi hewani aslinya. Lalu dari sisi penyimpanan, protein dapat disimpan dalam biji pada suhu ruangan sampai siap digunakan.
Rahasia Manufaktur, Kecerdasan Buatan
Lantas, “Mengapa ini terjadi sekarang?” Jawabannya adalah Kecerdasan Buatan (AI). Di masa lalu, menciptakan tanaman membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk uji coba. Saat ini, dengan menggunakan AI dan pembelajaran mesin dapat memprediksi secara tepat bagaimana “buku panduan” tanaman (DNA-nya) harus ditulis.
AI dapat membantu memilih sel tanaman terbaik, mempercepat pertumbuhan, dan memastikan protein berkualitas tinggi. Pada dasarnya, ini adalah “petani digital” yang membantu merancang sistem pangan yang paling efisien.
Namun perlu dipastikan energi yang digunakan untuk menjalankan metode ini berasal dari sumber terbarukan. Selain itu, untuk menjalankan sistem ini diperlukan kerja sama dengan regulator dan masyarakat untuk memastikan semua orang merasa yakin dan aman mengonsumsi makanan baru ini.
Tujuannya bukanlah untuk menggantikan petani tradisional. Sebaliknya, untuk memberi mereka lebih banyak alat. Dengan “mendesentralisasi” pangan—yang berarti kita dapat menanam bahan-bahan bernilai tinggi di banyak lokasi yang lebih kecil daripada di beberapa pabrik besar—kita membuat pasokan pangan global jauh lebih sulit untuk dirusak.
Pilar keempat pertanian molekuler tanaman sejatinya mengubah tanaman menjadi “pabrik mini” untuk menumbuhkan protein daging dan susu menggunakan matahari dan tanah. Ini adalah cara ramah lingkungan dan berbiaya rendah untuk memberi makan masa depan tanpa merusak bumi. Artinya, Pilar Keempat lebih dari sekadar terobosan ilmiah, ini adalah janji untuk memberi makan masa depan sambil melindungi planet yang kita tinggali.
.jpg)
1.jpg)

.jpg)


.jpg)

.jpg)

.jpg)

