- Hilirisasi Grup MIND ID, Transformasi Pertambangan Berbasis Nilai Tambah
- Cerita Eks Wartawan Jualan Cabai yang Diborong Mentan Amran dari Daerah Bencana Aceh
- Kepungan Bencana Ekologis dan Keharusan Reformasi Fiskal Sektor Ekstraktif
- Pertumbuhan Ekonomi 2026 Ditaksir 5 Persen, WP Badan Harus Siap Diperiksa
- Ikhtiar Nyata SDG Academy Indonesia: Konektivitas Data, Kebijakan, dan Kepemimpinan
- Kembangkan Potensi Anak, LPAM Mirabel dan Ilmu Politik UNY Gelar Peringatan Hari Ibu
- Sambut Nataru dan HAB Kemenag ke-80, PD IPARI Karanganyar Bersih-Bersih Rumah Ibadah Lintas Agama
- Penguatan Sektor Riil Kunci Capai Target Pertumbuhan Ekonomi 5,4 Persen di 2026
- Musim Mas Dukung Pemkab Deli Serdang Hadirkan Ruang Publik Bersama melalui Pembangunan Alun-Alun
- Sidang Pengeroyokan di Tanjungpinang, Korban Soroti Terdakwa Tak Ditahan
Nilai tukar petani turun 0,58 persen pada Februari

Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai tukar petani (NTP) nasional pada Februari 2017 sebesar 100,33 atau turun sebesar 0,58 persen yang didorong oleh penurunan pada seluruh subsektor kecuali perikanan.
Kepala BPS Suhariyanto dalam jumpa pers mengatakan penurunan tersebut dikarenakan indeks harga yang diterima petani (It) turun sebesar 0,24 persen sedangkan indeks harga yang dibayar petani (Ib) mengalami kenaikan sebesar 0,34 persen.
"Hampir seluruh subsektor mengalami penurunan, hanya subsektor perikanan yang mengalami kenaikan," kata Suhariyanto, di Jakarta, Rabu.
Baca Lainnya :
- Fungsi Koperasi Unit Desa Harus Memberikan Keuntungan Bagi Petani0
- Kementan Tegaskan Tidak ada Pencabutan Subsidi Pupuk0
- TPID Kesulitan Kendalikan Harga Cabai Rawit dan Bawang Merah0
- Kepala Desa Pelimbing Keluhkan Perimbangan Dana Desa ke Anggota DPR RI0
- PGN Beri Permodalan dan Pelatihan Warga Desa di Batam0
NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di pedesaan. Selain itu juga menunjukkan daya tukar dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun biaya produksi.
NTP nasional Februari 2017 sebesar 100,33 atau turun 0,58 persen dibanding NTP bulan sebelumnya yang sebesar 100,91.
Penurunan tersebut dipengaruhi oleh turunnya NTP pada subsektor tanaman pangan sebesar 1,61 persen, hortikultura 0,04 persen, tanaman perkebunan rakyat 0,04 persen dan peternakan 0,28 persen.
Sementara subsektor perikanan mengalami kenaikan 0,30 persen, nelayan 0,48 persen dan pembudidaya ikan 0,16 persen.
Pada Februari 2017, NTP Provinsi Jawa Timur mengalami penurunan terbesar mencapai 1,27 persen dibandingkan penurunan NTP provinsi lainnya. Sebaliknya, NTP Provinsi DKI Jakarta mengalami kenaikan tertinggi sebesar 1,17 persen.
Selain itu, terjadi inflasi pedesaan di Indonesia sebesar 0,38 persen disebabkan oleh naiknya seluruh kelompok penyusun indeks konsumsi rumah tangga (IKRT). Tercatat kenaikan tertinggi berasal dari kelompok transportasi dan komunikasi sebesar 0,47 persen.
Nilai tukar usaha rumah tangga pertanian (NTUP) nasional Februari 2017 sebesar 109,62 atau turun 0,56 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya.
"Untuk NTUP, petanya hampir sama dengan NTP. Penurunan terjadi hampir pada semua subsektor dan subsektor perikanan yang mengalami kenaikan," kata Suhariyanto.
Sumber: ANTARA
.jpg)
1.jpg)

.jpg)

6.jpg)
.jpg)
1.jpg)
.jpg)

.jpg)

