Penguatan Kemitraan Kunci Penanggulangan Bencana di Wilayah Aglomerasi Jabodetabekjur

JAKARTA – BPBD DKI bersama Forum
Pengurangan Risiko Bencana dan Squad Penanggulangan Bencana melakukan penguatan
kemitraan dengan berbagai pemangku kepentingan (stakeholder) guna meningkatkan koordinasi
dan respons tanggap darurat serta efektivitas penanggulangan bencana di wilayah
aglomerasi Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, dan Cianjur
(Jabodetabekjur).
Diketahui, aglomerasi Jabodetabekjur sebagai wilayah dengan
tingkat kerawanan bencana tinggi, seperti banjir, gempa bumi, tanah longsor,
dan kebakaran. Sinergi antar-pihak menjadi krusial untuk memastikan
kesiapsiagaan dan mitigasi yang optimal. Inisiatif ini melibatkan pemerintah
pusat dan daerah, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan
Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dunia usaha, akademisi, serta organisasi
masyarakat sipil dan relawan kemanusiaan.
Kepala BPBD DKI, Isnawa Adji, menyampaikan wilayah
Jabodetabekjur merupakan kesatuan Daerah Aliran Sungai (DAS) dan mobilitas
masyarakat yang sangat tinggi. Kondisi ini menyebabkan risiko bencana di satu
daerah dapat berdampak pada daerah lainnya.
Baca Lainnya :
- Makan: Pepatah dan Peribahasa0
- Nelayan Migran Indonesia Gugat Raksasa Seafood AS atas Dugaan Kerja Paksa0
- Kebahagiaan Anak Panti Ramadan di Jogja, Naik Pelita Air dan Menginap di Patra Malioboro Hotel0
- Menghidupkan Kembali Tradisi Muslim 500 Tahun Silam, Naik Haji Berkuda Andalusia-Mekkah0
- Muhammad Sirod: Dorong THR untuk Mitra Ojol, Janji Kampanye Prabowo Menjelma Kenyataan0
“Oleh sebab itu, kita tidak bisa bekerja secara
terpisah-pisah, melainkan harus bersinergi dalam satu sistem yang saling
mendukung. Oleh karena itu, pelibatan seluruh stakeholder sangatlah penting
untuk menciptakan sistem ketahanan bencana yang kuat dan berkelanjutan. Sinergi
antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, serta masyarakat adalah kunci utama
dalam menghadapi tantangan ini".
Sebagai bagian dari langkah strategis, beberapa program
utama akan diterapkan, antara lain, peningkatan sistem peringatan dini terintegrasi
dengan memanfaatkan teknologi untuk pemantauan bencana secara real-time
serta penyebaran informasi kepada masyarakat melalui berbagai platform
komunikasi.
Kemudian, penyelarasan SOP dan protokol tanggap darurat
dengan menyusun prosedur operasional standar bersama guna mempercepat respons
di seluruh wilayah Jabodetabekjur. Lalu, simulasi dan pelatihan bersama dengan mengadakan
latihan rutin yang melibatkan berbagai elemen untuk meningkatkan kesiapsiagaan
masyarakat dan aparat penanganan bencana.
Selanjutnya, kolaborasi dengan sektor swasta dan dunia usaha.
Ini untuk mendorong peran aktif perusahaan dalam penyediaan bantuan logistik
dan pemulihan pasca-bencana. Berikutnya, penguatan peran masyarakat dan relawan,
dengan mengedukasi masyarakat untuk lebih tanggap terhadap potensi bencana
serta meningkatkan partisipasi komunitas lokal dalam upaya mitigasi.
“Dengan adanya penguatan kemitraan ini, diharapkan respons
penanggulangan bencana di wilayah Jabodetabekjur dapat lebih terkoordinasi dan
efektif, sehingga mampu mengurangi dampak dan mempercepat pemulihan
pasca-bencana,” ujar Isnawa Adji.
Dalam konteks pengurangan risiko bencana pentingnya
integrasi sistem peringatan dini (Early Warning System) dari hulu sampai hilir
sehingga informasi mengenai potensi bencana dapat disampaikan dengan cepat dan
tepat sasaran. Dengan sistem yang terintegrasi, kesiapsiagaan Masyarakat dapat
meningkat dan mengurangi dampak bencana.
Selain integrasi Early Warning System, diperlukannya juga
integrasi layanan panggilan darurat 112 yang akan memudahkan masyarakat dalam
melaporkan kejadian bencana maupun situasi darurat lainnya. Dengan layanan ini,
respons terhadap kejadian bencana bisa lebih cepat dan terkoordinasi dengan
baik.
