Agroforestri, Memadukan Pertanian dengan Restorasi Hutan
Mengintegrasikan pohon secara sengaja ke dalam sistem pertanian dan peternakan

By PorosBumi 15 Jan 2026, 12:18:29 WIB Pangan
Agroforestri, Memadukan Pertanian dengan Restorasi Hutan

Keterangan Gambar : Ilustrasi argoforestri (gambar dihasilkan AI ChatGPT)


Selama ini petani sering digambarkan sebagai korban perubahan iklim. Padahal, kenyataannya mereka juga merupakan aktor paling berpengaruh dalam perjuangan melawannya. Sebagai contoh, di sejumlah perdesaan di dunia, transformasi diam-diam sedang berlangsung dengan apa yang disebut agroforestriStrategi ini memadukan produksi pangan dengan restorasi hutan, mata pencaharian dengan aksi iklim, dan keberlanjutan dengan keuntungan. Pendekatan agroforestri akan menentukan apakah ambisi reboisasi berhasil atau gagal.


Agroforestri adalah pengintegrasian pohon secara sengaja ke dalam sistem pertanian dan peternakan. Ini bukanlah konsep baru, banyak praktik pertanian tradisional telah lama menggabungkan pohon, tanaman, dan hewan. Yang baru adalah urgensi penemuan kembali agroforestri sebagai strategi iklim, ketahanan pangan, dan ekonomi.

Baca Lainnya :


Apalagi sejumlah negara di dunia terus kehilangan tutupan hutan dengan kecepatan yang mengkhawatirkan, didorong oleh penebangan kayu, urbanisasi, dan perluasan pertanian. Pada saat yang sama, jutaan petani kecil bergulat dengan penurunan kesuburan tanah, curah hujan yang tidak menentu, peningkatan suhu, dan penurunan hasil panen. Oleh karena itu, solusi lingkungan apa pun yang memperlakukan hutan dan pertanian sebagai penggunaan lahan yang saling bersaing pasti akan gagal.


Di sinilah agroforestri mengubah narasi. Alih-alih meminta masyarakat untuk memilih antara pertanian dan hutan, agroforestri memungkinkan mereka melakukan keduanya secara bersamaan dan berkelanjutan. Sistem agroforestri yang dirancang dengan baik dapat meningkatkan kesehatan tanah melalui peningkatan bahan organik, fiksasi nitrogen, dan pengurangan erosi. Pohon memberikan naungan yang menurunkan suhu tanah dan mengurangi kehilangan kelembapan, sehingga tanaman lebih tahan terhadap tekanan panas dan kekeringan. Penahan angin melindungi lahan pertanian dari cuaca ekstrem, sementara akar pohon menstabilkan lahan dan mengurangi risiko banjir.


Dari perspektif iklim, agroforestri menyerap karbon, baik di atas maupun di bawah tanah. Dari perspektif ekonomi, agroforestri mendiversifikasi pendapatan. Petani dapat memanen buah-buahan, kacang-kacangan, kayu, pakan ternak, getah, dan produk obat-obatan di samping tanaman pokok mereka. Di masa ekonomi yang tidak stabil, diversifikasi ini bukanlah kemewahan, melainkan strategi bertahan hidup.


Di beberapa negara contoh-contoh praktis sudah mulai bermunculan. Sistem agroforestri kakao misalnya, mengintegrasikan pohon peneduh yang meningkatkan hasil panen sekaligus memulihkan lahan yang terdegradasi. Ada juga petani yang menggabungkan pohon pengikat nitrogen dengan jagung dan singkong untuk meregenerasi tanah yang telah terkuras. Terdapat pula sistem sabuk pelindung dan taman yang membantu masyarakat memerangi penggerusan lahan sekaligus mempertahankan produksi pangan.


Namun, terlepas dari potensinya, agroforestri masih kurang dimanfaatkan dalam program iklim dan reboisasi arus utama. Terlalu banyak inisiatif penanaman pohon yang berfokus pada hektar yang ditanami daripada peningkatan kualitas hidup. Bibit didistribusikan tanpa rencana pengelolaan jangka panjang, realitas kepemilikan lahan diabaikan, dan masyarakat diperlakukan sebagai penerima manfaat ketimbang mitra. Hasilnya dapat diprediksi, tingkat kematian bibit yang tinggi, penolakan masyarakat, dan proyek-proyek yang tampak mengesankan di atas kertas tetapi memberikan sedikit dampak jangka panjang di lapangan.


Karena itu, proyek reboisasi dan keberlanjutan lingkungan akan gagal jika keberlanjutan pangan dan dampak terhadap masyarakat diabaikan. Masyarakat tidak dapat diharapkan untuk melindungi hutan jika hal itu mengancam kemampuan mereka untuk memberi makan keluarga. Meminta petani untuk menyerahkan lahan produktif untuk penanaman pohon, tanpa menawarkan alternatif mata pencaharian yang layak, menciptakan konflik langsung antara tujuan lingkungan dan kelangsungan hidup manusia. Dalam konteks seperti itu, hutan akan selalu kalah.


Nah, agroforestri menyelesaikan konflik ini dengan menyelaraskan insentif. Ketika pohon berkontribusi langsung pada pendapatan rumah tangga dan ketahanan pangan, petani memiliki kepentingan dalam kelangsungan hidupnya. Pengelolaan lingkungan menjadi rasional secara ekonomi, bukan dipaksakan dari luar.


Sebaliknya, bagi para pembuat kebijakan dan pelaku korporasi, hal ini memiliki implikasi penting. Tujuan sosial dan lingkungan tidak dapat dikejar secara terpisah. Proyek iklim yang mengurangi emisi tetapi meningkatkan kerawanan pangan bukanlah proyek yang berkelanjutan. Demikian pula, program reboisasi yang mengecualikan masyarakat lokal dari perancangan, kepemilikan, dan manfaatnya kemungkinan besar tidak akan bertahan lama.


Mitigasi iklim, adaptasi, sistem pangan, mata pencaharian, dan keanekaragaman hayati harus ditangani secara bersamaan. Agroforestri menawarkan peluang langka untuk melakukan hal tersebut. Untuk mengembangkan agroforestri secara efektif, ada tiga hal sangat penting.


Pertama, kebijakan yang mendukung dan mengakui sistem pertanian berbasis pohon, termasuk jaminan kepemilikan lahan bagi petani kecil. Kedua, akses terhadap pembiayaan dan dukungan teknis yang disesuaikan dengan keuntungan jangka panjang agroforestri, bukan siklus hasil panen jangka pendek. Ketiga, keterlibatan masyarakat yang tulus, bukan sebagai tambahan, tetapi sebagai dasar desain proyek.


Bagi sektor swasta, agroforestri juga menghadirkan peluang ESG (Environmental, Social, Governance) yang menarik. Perusahaan dapat mendukung rantai pasokan yang tangguh, mengurangi emisi, meningkatkan keanekaragaman hayati, dan memberikan dampak sosial yang terukur, sekaligus memperkuat hubungan dengan komunitas petani. Jika dilakukan dengan baik, ini adalah ESG yang berintegritas, bukan sekadar pencitraan.


Karena itu, mengatasi perubahan iklim dan degradasi lingkungan, tidak bisa dilakukan dengn cara-cara sederhana. Menanam pohon saja tidak cukup. Melindungi hutan saja tidak cukup. Keberlanjutan yang mengabaikan manusia, pangan, dan mata pencaharian sama sekali bukanlah keberlanjutan.


Agroforestri mengingatkan kita pada prinsip mendasar, masa depan hutan tidak dapat dipisahkan dari masa depan petani. Jika kita memahami hal ini dengan benar, masyarakat perdesaan tidak hanya akan bertahan dalam transisi iklim, tetapi mereka akan memimpinnya. (yani andriansyah)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment