- Update Perang AS-Israel Vs Iran, 2 Maret 2026: Strategic Intelligence & Battle Damage Assessment
- Memantau Cuaca Secara Cepat dan Akurat Berbasis Fisika dan AI
- Kemenag RI dan British Council Perkuat Guru Bahasa Inggris Madrasah
- Pertanian Organik Memicu Peningkatan Penggunaan Pestisida di Lahan Konvensional, Ini Penjelasannya
- Pertamina Buka Mudik Gratis ke Lebih dari 15 Kota, Catat Tanggal Pendaftarannya
- MIND ID Dukung Penuh Swasembada Energi Sebagai Pilar Pembangunan
- Mineral Kritis Komponen Utama Energi Masa Depan, MIND ID Perkuat Ekosistem
- Gejolak Timur Tengah, Pertamina Prioritaskan Keselamatan Pekerja dan Perkuat Mitigasi Operasional
- Panggung Hijau di Tengah Euforia, XLSMART Sulap Konser Jadi Ajang Zero Waste Berkelanjutan
- Ramadan Tanpa Khawatir, Telkomsel Siaga 24 Jam Temani Pelanggan hingga Idulfitri 2026
Dilema Meremajakan Tanah dan Alam Melalui Pertanian Regeneratif
Pertanian regeneratif bertujuan untuk meningkatkan kesehatan tanah dan keanekaragaman hayati

Keterangan Gambar : Ilustrasi pola pertanian regeneratif (gambar dihasilkan AI ChatGpt)
Sejak era 1970-an, praktik pertanian intensif yang menggunakan pupuk kimia, mesin, dan metode produksi skala besar, mulai dikembangkan hampir di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Pola ini di satu sisi membawa “kemakmuran” tetapi pada saat bersamaan merusak tanah, mengurangi keanekaragaman hayati dan menambah pemanasan global. Karena itu, pertanian regeneratif dianggap sebagai solusi, menawarkan jalur untuk memulihkan manfaat yang hilang dari praktik pertanianintensif.
Para ahli setuju pola pertanian ini bertujuan untuk meningkatkan kesehatan tanah dan keanekaragaman hayati, mendukung produktivitas dan ketahanan sumber daya alam. Secara historis, pertaniantradisional mendukung kesehatan tanah jangka panjang dengan merotasi ladang, antara padang rumput dan tanaman, dan membangun karbon tanah yang penting untuk menghasilkan tanah yang subur dan berfungsi baik.
Baca Lainnya :
- 8 Desa Wisata di Indonesia Buat Kamu Merasakan Kehidupan Masyarakat Lokal0
- Agroforestri, Memadukan Pertanian dengan Restorasi Hutan0
- Mengulik Pertanian Molekuler Tanaman di Era Bioekonomi untuk Ketahanan Pangan Masa Depan0
- Sejumlah Peneliti Mengembangkan Platform AI untuk Membantu Ketahanan Pangan 0
- Sistem Kandang Berpengaruh pada Kesejahteraan Itik Petelur dan Kualitas Telur0
Namun, sejak tahun 1970-an, praktik rotasi lapangan ini telah menurun, digantikan pertanian intensif, sebuah cara pertanian yang menggunakan input tinggi pupuk sintetis dan pestisida kimia untuk memaksimalkan hasil panen.
Padahal, praktik rotasi lapangan melibatkan pengelolaan sistem pertanian sehingga tanaman, hewan, dan manusia yang berinteraksi secara optimal dan menghasilkan sistem produksi pangan yang adil dan tangguh. Intinya, pertanian regeneratif bekerja selaras dengan alam dan proses ekosistem alami.
Sebab, pertanian regeneratif dapat memulihkan dan mendorong layanan ekosistem seperti siklus nutrisi, pengendalian hama, dan penyerbukan yang disediakan tanah dan keanekaragaman hayati yang sehat. Pertanian regeneratif bisa unggul karena merupakan rumah bagi ekosistem yang mendukung tanaman, mengatur air, dan menghilangkan karbon dari atmosfer.
Keanekaragaman hayati alami yang sehat akan mendukung layanan ekosistem yang penting untuk pertanian, seperti pengendalian hama alami dan kesehatan tanah. Sebaliknya, pertanian intensif menghilangkan margin ladang dan pagar tanaman, serta penggunaan pestisida yang berat, bakalmengganggu dukungan alami.
Tetapi, untuk beralih ke pertanian regeneratif bukan pekerjaan mudah. Setidaknya membutuhkan satu generasi. Selain itu, tekanan ekonomi yang dialami petani harus diakui menjadi salah satu kendala utama.
Petani perlu melihat saat mengambil langkah-langkah regeneratif seperti reintegrasi ternak ke dalam sistem rotasi tanaman yang subur atau mengurangi pupuk nitrogen. Para petani akan memikirkan biaya jangka pendek meski dalam jangka panjang itu menguntungkan kesehatan tanah dan mengurangi emisi karbon. Karena itu petani membutuhkan fleksibilitas.
Selain itu pilihan konsumen juga berpengaruh. Ketika orang berhasrat membeli produk organik atau lokal, maka akan mendorong petani untuk mengadopsi praktik berkelanjutan. Definisi pertanian regeneratif dapat bervariasi menurut wilayah dan iklim.
Seringkali dibutuhkan waktu satu generasi untuk mengukur perubahan karbon tanah sehingga menyulitkan petani untuk berkomitmen pada praktik yang manfaatnya mungkin hanya bisa dirasakan cucu-cucu mereka. Selain itu insentif ekonomi menjadi penting. Hal ini dibutuhkan karena petani melihat apa yang dipersyaratkan pertanian regeneratif, sementara hasil panen tidak sebanyak yang mereka dapatkan dari pendekatan intensif.
Tanggung jawab konsumen juga penting. Jika keinginan menggunakan produk pertanian regeneratif dan pasarnya tumbuh tinggi, maka akan mendorong petani menggunakan pola pertanian ini untuk menuju masa depan yang lebih regeneratif.
.jpg)
1.jpg)

2.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)

