Dilema Meremajakan Tanah dan Alam Melalui Pertanian Regeneratif
Pertanian regeneratif bertujuan untuk meningkatkan kesehatan tanah dan keanekaragaman hayati

By Yani Andriyansyah 18 Jan 2026, 16:30:23 WIB Pangan
Dilema Meremajakan Tanah dan Alam Melalui Pertanian Regeneratif

Keterangan Gambar : Ilustrasi pola pertanian regeneratif (gambar dihasilkan AI ChatGpt)


Sejak era 1970-an, praktik pertanian intensif yang menggunakan pupuk kimia, mesin, dan metode produksi skala besarmulai dikembangkan hampir di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Pola ini di satu sisi membawa kemakmuran” tetapi pada saat bersamaan merusak tanah, mengurangi keanekaragaman hayati dan menambah pemanasan global. Karena itu, pertanian regeneratif dianggap sebagai solusi, menawarkan jalur untuk memulihkan manfaat yang hilang dari praktik pertanianintensif.

 

Para ahli setuju pola pertanian ini bertujuan untuk meningkatkan kesehatan tanah dan keanekaragaman hayati, mendukung produktivitas dan ketahanan sumber daya alamSecara historis, pertaniantradisional mendukung kesehatan tanah jangka panjang dengan merotasi ladang, antara padang rumput dan tanaman, dan membangun karbon tanah yang penting untuk menghasilkan tanah yang subur dan berfungsi baik.

Baca Lainnya :

 

Namun, sejak tahun 1970-an, praktik rotasi lapangan ini telah menurun, digantikan pertanian intensif, sebuah cara pertanian yang menggunakan input tinggi pupuk sintetis dan pestisida kimia untuk memaksimalkan hasil panen.

 

Padahal, praktik rotasi lapangan melibatkan pengelolaan sistem pertanian sehingga tanaman, hewan, dan manusia yang berinteraksi secara optimal dan menghasilkan sistem produksi pangan yang adil dan tangguh. Intinya, pertanian regeneratif bekerja selaras dengan alam dan proses ekosistem alami

 

Sebab, pertanian regeneratif dapat memulihkan dan mendorong layanan ekosistem seperti siklus nutrisi, pengendalian hama, dan penyerbukan yang disediakan tanah dan keanekaragaman hayati yang sehat. Pertanian regeneratif bisa unggul karena merupakan rumah bagi ekosistem yang mendukung tanaman, mengatur air, dan menghilangkan karbon dari atmosfer.

 

Keanekaragaman hayati alami yang sehat akan mendukung layanan ekosistem yang penting untuk pertanian, seperti pengendalian hama alami dan kesehatan tanah. Sebaliknya, pertanian intensif menghilangkan margin ladang dan pagar tanaman, serta penggunaan pestisida yang berat, bakalmengganggu dukungan alami.

 

Tetapi, untuk beralih ke pertanian regeneratif bukan pekerjaan mudah. Setidaknya membutuhkan satu generasi. Selain itu, tekanan ekonomi yang dialami petani harus diakui menjadi salah satu kendala utama. 

 

Petani perlu melihat saat mengambil langkah-langkah regeneratif seperti reintegrasi ternak ke dalam sistem rotasi tanaman yang subur atau mengurangi pupuk nitrogen. Para petani akan memikirkan biaya jangka pendek meski dalam jangka panjang itu menguntungkan kesehatan tanah dan mengurangi emisi karbon. Karena itu petani membutuhkan fleksibilitas

 

Selain itu pilihan konsumen juga berpengaruh. Ketika orang berhasrat membeli produk organik atau lokal, maka akan mendorong petani untuk mengadopsi praktik berkelanjutan. Definisi pertanian regeneratif dapat bervariasi menurut wilayah dan iklim

 

Seringkali dibutuhkan waktu satu generasi untuk mengukur perubahan karbon tanah sehingga menyulitkan petani untuk berkomitmen pada praktik yang manfaatnya mungkin hanya bisa dirasakan cucu-cucu mereka. Selain itu insentif ekonomi menjadi penting. Hal ini dibutuhkan karena petani melihat apa yang dipersyaratkan pertanian regeneratif, sementara hasil panen tidak sebanyak yang mereka dapatkan dari pendekatan intensif.

 

Tanggung jawab konsumen juga penting. Jika keinginan menggunakan produk pertanian regeneratif dan pasarnya tumbuh tinggi, maka akan mendorong petani menggunakan pola pertanian ini untuk menuju masa depan yang lebih regeneratif.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment