- Di Rakortas Alih Fungsi Lahan, Mentan Serukan Jaga Sawah dan Perjuangkan Petani Desa Hutan
- Pertamina Group Boyong 35 Trofi PRIA 2026, Bukti Transparansi Komunikasi ke Publik
- Dari Dapur ke Langit, Ketika Minyak Jelantah Jadi Bahan Bakar Masa Depan
- Baterai Kalsium Siap Menantang Litium, Jadi Alternatif Energi Terbarukan Masa Depan
- Majelis Dikdasmen PC Muhammadiyah Tawangsari Adakan Penguatan Ideologi
- Bikin Takjub, Ilmuwan Ciptakan Cairan yang Bisa Menyimpan Tenaga Matahari
- Pikir Dulu Sebelum Mengirim Pertanyaan ke AI, Data Pribadi Anda Bisa Terungkap
- In Situ/In Vitro, Percakapan Ekologis Dua Seniman dalam Bayang-bayang Antroposen
- Konsep Indonesia Naik Kelas, Kunci Tekan Kemiskinan di Bawah 5%
- Beyond Energy: Langkah Baru Pertamina Pimpin Transisi Energi Hijau
Fenomena Sosial Kontemporer dan Mengusik Ketidaksadaran Kolektif Masyarakat
Pameran MOTHERLAND Karya Drawing Bambang Asrini Widjanarko

Aendra Medita
Jurnalis, Founder seni.co.id
SEMANGAT membangun kembali seni gambar/drawing yang dilakukan Bambang Asrini Widjanarko adalah nilai kuat yang mana sudah ada semangat yang dimulai sejak tahun 1937/1938 ketika Agus Djaya, S Sudjojono dan kawan-kawan membentuk PERSAGI ( Persatuan Ahli Gambar Indonesia ). Walaupun karya mereka lebih banyak karya seni lukis namun pemakaian istilah “gambar“ bukan lukis merupakan sebuah cara memberi nilai tinggi pada “gambar”.
Tahun 1977 lahir organisasi seni gambar/drawing bernama PERSEGI (Persatuan Seniman Gambar Indonesia) yang didirikan oleh Iwan Ramelan, Prijanto S, S Prinka dan Gion. Persegi beranggotakan al. Aten Waluya, Diddo Kusdinar, Dede Eri Supria, Harianto, Danarto, T Sutanto dan Harijadi Soeadi. Berbeda dengan Persagi, Persegi memang sekelompok seniman yang memberikan ruang yang penuh hikmat untuk seni gambar.

Dua organisasi ini bisa dikatakan lahir pada titik kulminasi ketika senirupa berada pada era puncak pada jamannya. Gerakan ini dibuat untuk melawan dominasi atau bahkan hegemoni gaya/trend yang sedang berkembang saat itu.
Kali ini, Pameran drawing Bambang Asrini juga sebuah gerakan mengingat sang Bunda menjadi ingat kembali kepada kemampuan menggambar dengan kaidah-kaidah dasar namun tidak menampik konsep visual baru. Drawing yang Bambang Asrini adalah lebih kemampuan basic yang dimiliki oleh para senirupawan pada umumnya.
Namun ada kebebasan yang tak terbatas dalam berkarya Bambang Asrini ini, yaitu nyaris menghilangkan kemampuan atau konsep yang nyaris tak bertepi membuat pada karya seolah kuat dan tidak kehilangan makna, bahkan ketertarikan dan rasa hormat kepada Seni Gambar (drawing) Bambang kuat merespon konteks kekinian.
Padahal sebuah seni yang bernilai tinggi tidak harus dibuat dengan kompleksitas yang “heboh“. Seni yang berkwalitas bahkan bisa diciptakan hanya dengan sepotong kertas dan pena Itulah kesederhanaan Bambang Asrini. Drawing Bambang Asrini ini seperti menguak takdirnya soal Ibunda, dan konteks saat ini dengan pendekatan yang beragam dari pendekatan fotografis hingga semi surealis.
Bambang Asrini akan menggelar pameran pada 22 Desember 2025,
bertempat Darmin Cafe Jakarta Selatan. Pameran tunggal MOTHERLAND menghadirkan suatu lintasan perenungan yang memadukan ruang paling personal dalam diri seorang anak—yakni ingatan tentang Ibu—dengan ruang paling kolektif dalam diri sebuah bangsa—yakni Ibu Pertiwi.
Dalam pameran ini, Bambang Asrini Widjanarko mengajak kita menyusuri pertautan antara kasih biologis dan kasih kebangsaan, antara rahim perempuan sebagai sumber kehidupan dan rahim tanah air sebagai sumber identitas. Dua wilayah makna ini tidak dihadapkan sebagai dikotomi, melainkan sebagai dua aliran yang saling menyuburkan, mengisi, sekaligus meneguhkan proses pencarian makna diri dan makna kebangsaan.
Karya-karya dalam MOTHERLAND berpijak pada kesadaran spiritual bahwa sosok Ibu adalah sumber pertama segala kasih. Dalam pengalaman religius, kata rahim tidak hanya menunjuk pada ruang biologis tempat kehidupan bermula, tetapi juga pada sifat ketuhanan: pengasih, penyayang, pelindung. Kesadaran ini hidup secara kuat dalam jiwa sang perupa.
Maka tak mengherankan jika seri karya Asrini’s Soul memancarkan sentuhan lembut, simbol-simbol tangan, bunga, dan gerak garis yang menunjukkan kedalaman emosi seorang anak yang tak pernah selesai merindukan ibunya. Kekuatan seri ini terletak pada keberaniannya menempatkan pengalaman intim sebagai sumber estetika.
Bambang Asrini mengembalikan seni pada wilayah keheningan batin, pada ruang di mana kita kembali mengenali diri melalui kenangan. Namun pameran ini tidak berhenti pada spiritualitas personal. Ia berkembang menjadi narasi lebih luas tentang Ibu Pertiwi—tentang Indonesia sebagai ruang kultural, historis, dan politis yang membentuk kesadaran bersama.
Di sini, Bambang Asrini menghadirkan serial Garuda, simbol negara yang sejak kelahirannya dimaknai sebagai penuntun arah moral bangsa. Siluet Garuda dalam karyanya bukan representasi literal, melainkan hasil kontemplasi panjang atas makna Pancasila sebagai pandangan hidup. Garuda dilihat bukan sebagai ikon kekuasaan, tetapi sebagai jangkar nilai kebangsaan yang menuntut kejujuran, keadilan sosial, dan kemanusiaan.
Jika Kota Jakarta bagi Bambang Asrini ini tidak hanya menjadi tempat tumbuh estetik Bambang, tetapi juga ruang historis tempat pergulatan ide-ide republik pernah bersemi. Melalui karya-karya seperti Monumen Nasional, Monumen Tani & Wong Cilik, dan Golden Garuda, perupa menggambarkan Jakarta sebagai kronik panjang yang terus memanggil warganya untuk mengingat, merenung, sekaligus bertanya kembali: apa makna merdeka dalam dunia hari ini?
Baca Lainnya :
- Mahasiswi Cantik Ini Pimpin Operasi SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia di Tapsel0
- PT Kana Bintang Sertifindo Tegaskan K3 sebagai Investasi, Bukan Beban Biaya0
- Musim Mas Salurkan Bantuan Darurat untuk Ribuan Keluarga Terdampak Banjir di Sumatera0
- Polda Kepri Dukung Kampanye 24 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di Batam0
- Wanita ini Ubah Sampah Jadi Alat Tukar Bernilai Ekonomi, Contoh Nyata Warga Bantu Warga 0

Dimensi lain dalam pameran ini adalah fenomena sosial kontemporer. Bambang menghadirkan karya-karya yang mengusik ketidaksadaran kolektif masyarakat: ancaman hoaks, media sosial, krisis pangan, serta muramnya dunia pendidikan. Melalui judul-judul seperti Jejak Digitalmu, Harimaumu, Art Against Hoax, dan Quo Vadis Pendidikan Indonesia, ia memosisikan seni sebagai alat kritik sosial.
Seni tidak hanya memindahkan bentuk ke atas kertas, tetapi juga memindahkan kegelisahan zaman ke dalam ruang refleksi. Dalam hal ini, MOTHERLAND menjadi upaya memahami kompleksitas abad ke-21—sebuah zaman ketika kecepatan informasi kerap menenggelamkan kedalaman berpikir dan kedewasaan berbangsa.
Keseluruhan pameran menunjukkan bagaimana drawing sebagai medium memiliki kekuatan yang khas. Garis yang spontan, cepat, namun bermakna, memungkinkan perupa menghadirkan suasana batin, gejolak sosial, dan ingatan sejarah secara bersamaan. Mixed media yang digunakan menambah kedalaman tekstur visual, mempertegas bahwa identitas bangsa pun sejatinya adalah kolase dari banyak lapisan pengalaman dan nilai.
Pada akhirnya, MOTHERLAND bukan sekadar pameran karya rupa. Ia adalah undangan untuk kembali menimbang apa yang kita pahami sebagai “Ibu”: Ibu biologis yang menenun kasih di awal kehidupan, dan Ibu Pertiwi yang memanggil kita untuk terus menjaga masa depan bersama. Pameran ini mengingatkan bahwa cinta pada tanah air bukanlah slogan, melainkan bentuk kedewasaan emosional dan spiritual.
Di tengah dunia yang semakin bising, karya-karya Bambang Asrini Widjanarko mengajak kita menundukkan kepala sejenak, membiarkan diri disentuh oleh ingatan, kemudian bangkit dengan kejelasan baru tentang siapa kita, dari mana kita berasal, dan ke mana bangsa ini hendak melangkah.
.jpg)
1.jpg)

2.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)

