- Aspek Hukum Clear, KPK Dukung KemenPKP Optimalkan Lahan Meikarta untuk Rusun Bersubsidi
- BRIN - OceanX Identifikasi 14 Spesies Megafauna dan Petakan Gunung Bawah Laut Sulawesi Utara
- Bantuan Bencana Sumatera Didominasi Makanan Instan, Kesehatan Anak Jadi Taruhan
- Krisis Makna di Balik Identitas Starbucks di Era Digital
- Mengapa Komunikasi PAM Jaya Perlu Berubah
- Krisis BBM Pertamina, Ketika Reputasi, Identitas, dan Kepercayaan Publik Bertabrakan
- Greenpeace-WALHI: Pencabutan 28 Izin Perusahaan Pasca Banjir Sumatera Harus Transparan dan Tuntas
- KemenPU Susun Rencana Rehabilitasi 23 Muara Sungai Terdampak Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar
- Dari London, Presiden Prabowo Pimpin Rapat Terbatas Bahas Penertiban Kawasan Hutan
- Masa Depan Muhammadiyah di Era Kecerdasan Buatan
HKTI Dukung Pembatalan Sebagian Alokasi MBG: Agar Program Tak Hanya Besar Tapi Jelas dan Tepat
2.jpg)
JAKARTA - Wasekjen Himpunan Kerukunan
Tani Indonesia (HKTI) Bidang Gizi, Muhammad Sirod mendukung penuh keputusan
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana, untuk membatalkan sebagian
alokasi anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sirodj menilai, keputusan
ini mencerminkan sikap kehati‐hatian fiskal dan memastikan bahwa alokasi yang
tidak realistis disesuaikan sejak awal agar program tetap berjalan dengan
efektif dan tidak sia‐sia.
Menurut catatan publik terbaru, realisasi anggaran MBG
hingga awal Oktober 2025 sudah mencapai sekitar Rp 20 triliun, disalurkan
melalui sekitar 13.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), dan telah
menjangkau kira‐kira 30 juta penerima manfaat. Angka ini setara dengan sekitar
28,1 % dari pagu Rp 71 triliun. “Info terhangat langsung dari Pak Dadan
Hindayana, hari ini penyerapan sudah Rp26,9 triliun dan akhir bulan Oktober ini
diperkirakan akan sebesar Rp32 triliun,” kata Sirod dalam siaran persnya, Kamis
(16/10/2025).
Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dari posisi
September yang berada di kisaran Rp20 triliun, dan mencerminkan percepatan
penyaluran dan efektivitas sistem pelaporan di lapangan. Ini menandakan
penguatan tata kelola fiskal di bawah koordinasi langsung Kementerian Keuangan.
Baca Lainnya :
- Kementan dan BP Taskin Kolaborasi Entaskan Kemiskinan Lewat Sektor Pertanian0
- Pemerintah Akan Tindak 2.039 Kios Pupuk Rugikan Petani Rp600 Miliar0
- Survei Litbang Kompas: 71,5 Persen Puas dengan Kinerja Kementan0
- Israel Disebut Akan Tarik Mundur Pasukan Sepenuhnya Dari Gaza Dalam 24 Jam0
- Porosbumi.com Lolos 50 Finalis MediaMIND 2025, Perkuat Kontribusi Ekonomi Pertambangan Berkelanjutan0
Menurut Sirod, BGN bergerak dengan prinsip kehati-hatian,
memastikan setiap rupiah tersalurkan untuk tujuan yang tepat, dengan pengawasan
berlapis di setiap SPPG dan titik distribusi di seluruh provinsi. Proyeksi Rp32
triliun ini memperlihatkan bahwa program MBG terus berjalan dalam tata kelola
manajemen keuangan yang disiplin, progresif, dan selaras dengan kebijakan
fiskal nasional.
Artinya, meskipun ada kemajuan, mayoritas anggaran belum
terserap sepenuhnya, sekitar 70 % lebih dari pagu belum direalisasikan. Ini
menunjukkan perlunya penyesuaian agar alokasi tidak membebani mekanisme
pelaksanaan di lapangan dan agar kewajiban kepada rakyat tetap dipenuhi secara
benar.
“Pembatalan sebagian alokasi bukan langkah mundur, melainkan
langkah korektif agar komitmen dan target program tidak memaksa sistem yang
belum siap menjadi terbeban. Ini bentuk fairness: menghindari janji besar yang
kemudian menciptakan ekspektasi tinggi tanpa dasar operasional yang layak,”
kata Sirod.
Sirod menjabarkan, dalam tata keuangan publik, azas
kepatuhan dan kehati-hatian aspek penggunaan anggaran keuangan memerlukan
instrumen pengendalian, yaitu bahwa pencairan dana harus didahului oleh
verifikasi kesiapan teknis (dapur, SDM, logistik, monitoring). Dengan membatalkan
sebagian alokasi yang diprediksi sulit terserap, BGN menjaga agar komando
keuangan tidak kehilangan arah.
“Angka 30 juta penerima manfaat lewat 13.000 SPPG
menunjukkan skala program yang sudah signifikan, namun juga memperlihatkan gap
besar dengan target akhir tahun (misalnya 82,9 juta penerima). Karena itu,
pembatalan sebagian alokasi memberi ruang memperkuat daerah-daerah yang belum
siap agar bisa mengejar ketertinggalan dalam mutu dan kapasitas. Saya kira Pak Dadan
sedang menyiapkan titik-titik SPPG di daerah 3T, pasti kekurangan itu akan
cepat terpenuhi," tutur Sirod.
Dalam pandangan Sirod, dampak ekonomi lokal dari operasional
SPPG sudah nyata: penyerapan bahan pangan lokal, tenaga dapur di
desa/kecamatan, serta peluang UMKM penyedia bahan. Tetapi jika alokasi
dipaksakan di daerah yang infrastruktur maupun sistemnya belum mature,
dampak akan timpang dan pemborosan muncul.
HKTI sendiri, ujar Sirod, siap mengawal agar standar mutu
pangan bergizi, rantai pasok lokal, dan pengolahan limbah dapur menjadi bagian
dari program kesinambungan di MBG. Dengan pembatalan sebagian alokasi, fokus
bisa diarahkan pada penguatan kualitas daripada penggelembungan kuantitas. HKTI
juga tengah menyiapkan program ekonomi sirkular yang relevan di titik-titik MBG
yang sudah berdiri. Dengan 13.000 SPPG aktif (data awal‐Oktober 2025) yang
melayani 30 juta orang ini.
“Kami akan memperkenalkan praktik pengelolaan limbah organik
dapur menjadi kompos, pemanfaatan residu pangan, dan integrasi petani lokal
sebagai pemasok berkelanjutan. Ini semua agar program MBG juga memicu ekosistem
ekonomi lokal yang berdaya dan lestari sebagaimana yang diinginkan presiden
Prabowo sejak puluhan tahun lalu,”.
“Dengan membatalkan sebagian alokasi MBG, kelebihan dana
bisa diarahkan untuk memperkuat kesiapan teknik: pembangunan dapur, pelatihan
tenaga gizi dan manajemen, sertifikasi mutu dan higienis pengolahan pangan, dan
sistem monitoring internal. Dengan semangat tata kelola yang baik, fair-play,
kepatuhan azas, dan taat azas keuangan yang jelas, MBG akan tumbuh menjadi
program besar bukan hanya sekadar angka saja, tapi benar-benar berdampak nyata
memberikan kualitas gizi, pendidikan dan kenaikan kehidupan ekonomi bagi
masyarakat luas,” pungkas Sirod.
.jpg)
1.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)


.jpg)

.jpg)

