- Pertamina Group Boyong 35 Trofi PRIA 2026, Bukti Transparansi Komunikasi ke Publik
- Dari Dapur ke Langit, Ketika Minyak Jelantah Jadi Bahan Bakar Masa Depan
- Baterai Kalsium Siap Menantang Litium, Jadi Alternatif Energi Terbarukan Masa Depan
- Majelis Dikdasmen PC Muhammadiyah Tawangsari Adakan Penguatan Ideologi
- Bikin Takjub, Ilmuwan Ciptakan Cairan yang Bisa Menyimpan Tenaga Matahari
- Pikir Dulu Sebelum Mengirim Pertanyaan ke AI, Data Pribadi Anda Bisa Terungkap
- In Situ/In Vitro, Percakapan Ekologis Dua Seniman dalam Bayang-bayang Antroposen
- Konsep Indonesia Naik Kelas, Kunci Tekan Kemiskinan di Bawah 5%
- Beyond Energy: Langkah Baru Pertamina Pimpin Transisi Energi Hijau
- Presiden Prabowo: Ketahanan Pangan Jadi Urusan Keamanan Negara
Krisis Politik Prancis dan Jepang Ikut Topang Reli Harga Emas

JAKARTA - Harga emas (XAU/USD) kembali
menjadi primadona pasar keuangan dunia. Pada awal pekan ini, logam mulia
berhasil menembus $3.900 per troy ons dan diperdagangkan di sekitar $3.957,
mencetak rekor baru di tengah kombinasi faktor politik dan ekonomi global. Lonjakan
harga emas ini tidak lepas dari shutdown pemerintah AS yang masih berlanjut,
ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed), serta gejolak
politik di Eropa dan Asia.
Menurut analisis Andy Nugraha, Analis Dupoin Futures Indonesia, sinyal teknikal tetap condong ke
arah bullish. “Indikator candlestick dan Moving Average menunjukkan tren
naik masih dominan. Selama tekanan beli terjaga, emas berpeluang besar menembus
level $4.000,” jelasnya. Namun, Andy juga mengingatkan potensi koreksi
wajar. “Jika harga gagal mempertahankan momentum, support terdekat berada di
area $3.926,” tambahnya.
Faktor utama penggerak reli emas berasal dari Amerika
Serikat. Shutdown pemerintah federal sudah memasuki hari keenam setelah
negosiasi anggaran kembali menemui jalan buntu. Kondisi ini memicu kekhawatiran
pasar karena sejumlah data penting, termasuk laporan ketenagakerjaan, tertunda
publikasinya. Ketidakpastian ini membuat investor memburu emas sebagai aset
aman.
Baca Lainnya :
- Porosbumi.com Lolos 50 Finalis MediaMIND 2025, Perkuat Kontribusi Ekonomi Pertambangan Berkelanjutan0
- Ikhtiar ESG di Pertambangan: Teknologi ReCYN Ramah Lingkungan dan Berdayakan Warga 15 Desa0
- Aplikasi Tring Pegadaian, Membumikan Mimpi Punya Emas Jadi Kenyataan0
- Strategi Bijak Berinvestasi Emas0
- Soft Opening Horison Resort Tulip Puncak Elegance in Culture, Complete in Stay, Harmony in Nature0
Sementara itu, pasar menantikan Risalah Rapat The Fed pada
Rabu (8/10) untuk mencari petunjuk arah kebijakan moneter. Dengan data ekonomi
AS yang melemah, peluang pemangkasan suku bunga semakin besar. CME FedWatch
Tool mencatat probabilitas 95% pemotongan suku bunga 25 basis poin pada
Oktober, serta 83,7% peluang penurunan lagi pada Desember. Ekspektasi kebijakan
dovish ini memperlemah Dolar AS, sehingga memberi ruang lebih bagi emas untuk
menguat.
Ketidakpastian tidak hanya datang dari AS. Dari Eropa,
Perdana Menteri Prancis Sébastien Lecornu mendadak mengundurkan diri kurang
dari sehari setelah mengumumkan kabinet barunya, memperburuk stabilitas politik
di kawasan Euro. Dari Jepang, kemenangan Sanae Takaichi sebagai pemimpin Partai
Demokrat Liberal (LDP) menempatkannya di jalur menuju perdana menteri wanita
pertama. Pasar menilai kepemimpinannya akan mendorong kebijakan fiskal yang
lebih longgar, menekan yen, dan secara tidak langsung meningkatkan daya tarik
emas.
Namun, penguatan emas sempat dibatasi oleh pergerakan Indeks
Dolar AS (DXY) yang naik ke 98,35, level tertinggi dalam dua pekan terakhir.
Meski begitu, pelemahan lanjutan dolar masih mungkin terjadi jika The Fed
mengonfirmasi pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.
Dengan dukungan faktor fundamental dan teknikal, prospek
emas jangka pendek tetap positif. Selama harga bertahan di atas $3.926, potensi
menuju level $4.000 semakin terbuka. Investor disarankan tetap waspada terhadap
volatilitas, namun tren keseluruhan masih jelas condong ke arah bullish.
.jpg)
1.jpg)

2.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)

