- Aspek Hukum Clear, KPK Dukung KemenPKP Optimalkan Lahan Meikarta untuk Rusun Bersubsidi
- BRIN - OceanX Identifikasi 14 Spesies Megafauna dan Petakan Gunung Bawah Laut Sulawesi Utara
- Bantuan Bencana Sumatera Didominasi Makanan Instan, Kesehatan Anak Jadi Taruhan
- Krisis Makna di Balik Identitas Starbucks di Era Digital
- Mengapa Komunikasi PAM Jaya Perlu Berubah
- Krisis BBM Pertamina, Ketika Reputasi, Identitas, dan Kepercayaan Publik Bertabrakan
- Greenpeace-WALHI: Pencabutan 28 Izin Perusahaan Pasca Banjir Sumatera Harus Transparan dan Tuntas
- KemenPU Susun Rencana Rehabilitasi 23 Muara Sungai Terdampak Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar
- Dari London, Presiden Prabowo Pimpin Rapat Terbatas Bahas Penertiban Kawasan Hutan
- Masa Depan Muhammadiyah di Era Kecerdasan Buatan
Pada Hari Seorang Buta Bisa Melihat, Hal Pertama yang Ia Buang Adalah Tongkat
.jpg)
SERINGKALI manusia mudah melupakan
penopang yang pernah menolongnya di masa sulit. Kutipan ini menyindir realitas
itu: “Pada hari seorang buta bisa melihat, hal pertama yang ia buang adalah
tongkat yang telah membantunya seumur hidup.” Ia menggambarkan sifat manusia
yang kerap meninggalkan orang, alat, atau keadaan yang dulu sangat berjasa,
begitu mereka merasa sudah “cukup kuat” dan tak lagi membutuhkannya.
Tongkat dalam kutipan ini adalah simbol dari segala bentuk
pertolongan: sahabat yang menemani di masa kelam, orang tua yang berkorban
tanpa pamrih, bahkan pengalaman pahit yang membentuk keteguhan hati. Namun saat
keadaan membaik, sering kali semua itu dianggap tidak penting lagi. Di sinilah
letak kelemahan manusia: mudah terjebak pada lupa, bahkan kadang berubah
menjadi sombong.
Pesan moralnya jelas: jangan pernah menyepelekan hal-hal
atau orang-orang yang dulu menopang langkah kita. Rasa syukur sejati adalah
ketika kita tidak melupakan akar yang pernah memberi kita kekuatan, meski kini
kita merasa sudah bisa “melihat” atau berjalan sendiri. Ingatlah, tanpa tongkat
itu, mungkin kita tidak akan pernah sampai pada titik ini. (Sumber: FB Suluksalik)
Baca Lainnya :
- Bakung: Tradisi Lisan Masyarakat Adat Dayak Bahau Busang 0
- Kementerian PU Bangun 43 Jembatan Gantung, Solusi Atasi Kesulitan Akses Transportasi Masyarakat0
- Masyarakat Adat Masukih Tolak Penambangan Emas Ilegal di Hutan Adat Kalimantan Tengah 0
- Cegah Tragedi Berulang, Kementerian PU Periksa Struktur Bangunan Dua Pesantren Besar di Jatim0
- Merawat Tradisi Penyembuhan Dayak Taboyan: Jaga Keseimbangan Alam, Roh, dan Manusia0
.jpg)
1.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)


.jpg)

.jpg)

