Pelaku Pasar Taksir Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal III 2025 Hanya 4,8 Persen

By abdul aziz 03 Nov 2025, 09:56:40 WIB Ekonomi
Pelaku Pasar Taksir Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal III 2025 Hanya 4,8 Persen

Keterangan Gambar : Ilustrasi Pelaku Pasar -Porosbumi


JAKARTA- Indo Premier Sekuritas (IPOT) menakar  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan bergerak fluktuatif pada pekan ini seiring rilis data ekonomi domestik kunci, termasuk pertumbuhan ekonomi Kuartal III-2025, PMI Manufaktur, dan inflasi Oktober.

Analis IPOT, Imam Gunadi menyarankan pelaku pasar untuk fokus pada saham defensif dan emiten berkinerja solid.

 

Baca Lainnya :

"Meskipun pertemuan Presiden Xi Jinping dan Trump serta kebijakan The Fed yang menghentikan Quantitative Tightening menjadi sentimen positif, trader perlu waspada terhadap padatnya rilis data ekonomi domestik pekan ini. Money management dan risk management menjadi kunci utama," papar dia, Senin(3/11/2025).

 

Sedangkan bagi investor jangka  panjang, kata dia,  musim rilis laporan keuangan menjadi waktu penting untuk mengevaluasi kinerja emitennya dan melihat apakah kinerja Q3 sesuai dengan target atau masih jauh dari target.

Momen rilis laporan keuangan juga waktu bagi investor untuk kembali mencari emiten-emiten yang tumbuh atau turn around dari kinerja historisnya,” jelas dia.

 

Secara umum dia menilai pergerakan IHSG pada pekan ini, 3-7 November 2025 akan terpapar pengumuman 3 indikator ekonomi. Pertama, pertumbuhan ekonomi kuartal III 2025 Indonesia.

Dia mengutip Konsensus Bloomberg yang memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 4,8 persen, menandakan potensi perlambatan dibandingkan kuartal sebelumnya.

Apalagi  Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa  telah mengindikasikan bahwa kinerja ekonomi Q3 kemungkinan sedikit lebih rendah dibandingkan Q2-2025 seiring moderasi aktivitas domestik dan tekanan eksternal.

Kedua, Indeks Purchasing Managers' Index (PMI) atau indeks kesehatan sektor manufaktur sebelumnya tercatat melambat dari 51,5 menjadi 50,4. Pelemahan ini ditengarai disebabkan kenaikan biaya produksi dan melemahnya permintaan ekspor.

Ketiga,Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan merilis data inflasi awal pekan ini. Konsensus memperkirakan inflasi tahunan akan melandai menjadi 2,59 persen (yoy) dari 2,65 persen (yoy) pada September, menandakan stabilitas harga yang relatif terjaga.

Sedangka sentimen global, menurut dia terkait pertemuan Presiden Xi Jinping dan Donald Trump di Busan, Korea Selatan, pada 30 Oktober 2025 yang menghasilkan kesepakatan penting. Amerika Serikat sepakat menurunkan tarif impor produk China dari 57  persen menjadi 47 persen, sementara China berkomitmen membeli kembali 12 juta ton kedelai AS hingga Januari 2026.

Kesepakatan lain mencakup penundaan pembatasan ekspor rare earth oleh China selama satu tahun, dan penurunan tarif fentanyl AS dari 20% ke 10%.

Sementara itu dari sisi pasar keuangan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi bergerak dinamis mengikuti sentimen dari rilis data ekonomi domestik.

Secara teknikal, level 8.354 menjadi batas atas untuk skenario optimistis, dengan asumsi bahwa rilis data pertumbuhan ekonomi dan inflasi mampu menunjukkan stabilitas fundamental yang cukup baik serta menjaga persepsi positif investor terhadap daya tahan ekonomi nasional,” pungkas dia.

 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment