- Aspek Hukum Clear, KPK Dukung KemenPKP Optimalkan Lahan Meikarta untuk Rusun Bersubsidi
- BRIN - OceanX Identifikasi 14 Spesies Megafauna dan Petakan Gunung Bawah Laut Sulawesi Utara
- Bantuan Bencana Sumatera Didominasi Makanan Instan, Kesehatan Anak Jadi Taruhan
- Krisis Makna di Balik Identitas Starbucks di Era Digital
- Mengapa Komunikasi PAM Jaya Perlu Berubah
- Krisis BBM Pertamina, Ketika Reputasi, Identitas, dan Kepercayaan Publik Bertabrakan
- Greenpeace-WALHI: Pencabutan 28 Izin Perusahaan Pasca Banjir Sumatera Harus Transparan dan Tuntas
- KemenPU Susun Rencana Rehabilitasi 23 Muara Sungai Terdampak Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar
- Dari London, Presiden Prabowo Pimpin Rapat Terbatas Bahas Penertiban Kawasan Hutan
- Masa Depan Muhammadiyah di Era Kecerdasan Buatan
Menyibak Wajah Arsitektur Pesantren Tradisional Indonesia Timur
.jpg)
JAKARTA - Arsitektur pesantren
tradisional di Indonesia Timur menyimpan wajah khas yang berbeda dengan
gambaran umum pesantren di Jawa atau Sumatra. Di balik kesederhanaannya,
bangunan pesantren di kawasan ini merekam jejak panjang interaksi antara Islam,
budaya lokal, dan lingkungan alam.
Sebagian besar pesantren dibangun dengan memanfaatkan
material yang tersedia di sekitar, seperti kayu, bambu, dan atap rumbia.
Kesederhanaan itu bukan sekadar keterbatasan, melainkan wujud kearifan dalam
membaca situasi geografis sekaligus menjaga harmoni dengan alam.
Hal tersebut menjadi bahan diskusi dalam webinar tentang arsitektur pesantren tradisional Indonesia
Timur yang diselenggarakan Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan
Peradaban (PR KKP) BRIN, Rabu (17/9).
Baca Lainnya :
- Phantom Followers: Saat Angka Besar Tidak Menghasilkan Apa-Apa0
- Kecukupan Dalam Melihat Bukti 0
- Bedah Buku dan Film Merawat Harapan di Kampung Halaman0
- Masyarakat Adat Suka Menjaga Tradisi Menghadapi Perubahan Iklim0
- 6 Kontainer Keranjang Serat Alam Produk UMKM Kebumen Tembus Pasar New York 0
Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (OR
Arbastra) BRIN, Herry Yogaswara menyoroti bahwa selama ini pesantren
tradisional cenderung berfokus pada Jawa. Membahas Indonesia Timur, menurutnya,
berarti menyingkap sisi yang kerap berada di luar arus utama.
“Diskusi ini berbasis riset, yang tidak hanya memperkaya
pengetahuan, tetapi juga bisa menginspirasi kajian serupa di masa depan.
Penelitian semacam ini bahkan dapat meluas ke lembaga keagamaan lain, misalnya
arsitektur gereja dengan inkulturasi budaya lokal, atau sekolah adat berbasis
agama lokal seperti Marapu di Sumba Timur,” ujarnya.
Satu hal yang ia cermati, benarkah arus utama itu selalu di
Jawa? Atau justru persepsi yang terbentuk selama ini yang membuatnya demikian?
Maka, baginya, dengan riset, peluang untuk menemukan variasi dan temuan baru
yang lebih kaya terbuka lebar.
“Diskusi seperti hari ini penting sebagai bagian dari upaya
memperluas wawasan dan memperkaya pengetahuan sejarah. Selain itu, saya ingin
menekankan pentingnya ekspedisi. Dari ekspedisi, kita mendapatkan data baru
yang bisa diperdalam melalui riset etnografis. Karena itu, saya berharap
webinar ini tidak hanya berhenti pada diskusi, melainkan juga menginspirasi
penelitian yang lebih intens dan mendalam,” pungkasnya.
Menambahkan itu, Wuri Handoko, Kepala Pusat Riset Khazanah
Keagamaan dan Peradaban (PR KKP) BRIN menegaskan bahwa pusat risetnya
berkomitmen membangun ekosistem riset yang sistematis, berkerangka jelas, serta
menghasilkan narasi valid bagi masyarakat. Fokus lembaga ini bukan pada isu
konflik, melainkan pada nilai-nilai keagamaan sebagai warisan budaya, baik
kebendaan (tangible) maupun non-kebendaan (intangible).
“Arsitektur pesantren misalnya, bisa dilihat sebagai
bangunan fisik, namun yang kami gali adalah nilai simbolik di balik
kesederhanaannya: budaya, nilai sosial, sejarah, hingga filosofi lokal,”
jelasnya. (Sur/ed: And, mfs)
.jpg)
1.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)


.jpg)

.jpg)

