- Polda Kepri Dukung Kampanye 24 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di Batam
- Wanita ini Ubah Sampah Jadi Alat Tukar Bernilai Ekonomi, Contoh Nyata Warga Bantu Warga
- Sari Kreasi Boga Incar Cuan Bisnis Agrifood
- Dongkrak Kunjungan Wisatawan, Gold Coast Ferry Terminal Buka Rute Baru Batam-Singapura
- Pray Sumut dan Sumbar, SARMMI Galang Donasi Bencana Banjir
- Telkomsel Kembali Gelar Jaga Bumi, Tanam 12.731 Pohon Baru dan Serap 824 Ton Emisi Karbon
- Pengamat: Indonesia Swasembada Beras, Stok Dunia Tertinggi Sepanjang Sejarah, Harga Global Anjlok!
- Presiden Prabowo dan Ratu Maxima Bahas Transformasi Inklusi dan Kesehatan Keuangan
- Desa Wisata Sumberoto Kini Makin Menyala Dengan Tenaga Surya
- Abies Bakery, Toko Roti Dengan Standar Higienitas Produksi Buka di Bundaran Ocarina Batam Centre
Aktivis Nilai COP30 Belum Hasilkan Langkah Nyata Tekan Emisi

Keterangan Gambar : Ilustrasi COP- Istimewa
JAKARTA- Konferensi Perubahan Iklim COP30-UNFCCC di
Belem, Brazil, yang berlangsung 10-21 November 2025 dinilai kalangan aktivis lingkungan lemah terkait komitmen
pengurangan emisi.
Bahkan Direktur Eksekutif Madani Berkelanjutan Nadia Hadad,
menyayangkan COP30 tidak menghasilkan rencana konkret yang memadai untuk
menjawab urgensi krisis iklim. Ia menilai target pengurangan emisi masih
terlalu lemah, mekanisme pendanaan belum jelas, dan komitmen sejumlah negara
besar pun tidak menunjukkan kemajuan berarti. Meskipun ada klaim pendanaan
adaptasi akan ditingkatkan hingga tiga kali lipat, Nadia menegaskan bahwa
detail implementasinya tetap belum dipaparkan dengan transparan. “Belum ada
rencana yang konkret. siapa yang akan membayar juga belum jelas. Sehingga
seharusnya ada roadmap sesudah itu,” katanya dalam keterangan resmi, Rabu(26/11/2025).
Sementara itu, Country Director Greenpeace untuk Indonesia, Leonard
Simanjuntak menilai delegasi Indonesia bahkan mengingkari amanat
konstitusi. Karena dalam Pembukaan UUD 1945, disebutkan bahwa Indonesia harus
ikut serta melaksanakan ketertiban dunia. Krisis iklim yang saat ini terjadi
juga mempengaruhi kondisi dunia.
Baca Lainnya :
- Kisah Ujang Pustiawan dan Perjuangan Kelompok Tani Flora Mangrove0
- Direktur Belantara Foundation Dolly Priatna: Konservasi Mangrove Inti Dari Upaya Mitigasi Iklim0
- BEI Bimbing 169 Perusahaan Tekan Emisi Karbon 0
- Indonesia Belum Layak Jual Karbon, Jika Belum Cukup Berkomitmen Menurunkan Emisi0
- Negara Berkembang Butuh USD1,4 Triliun Tekan Karbon, Negara Maju Hanya Janjikan USD300 Miliar0
“Namun
di Belem, Indonesia yang seharusnya bisa menjadi pemain utama, sayangnya
memilih untuk menjadi penonton,” kata Leonard.
Secara
umum Leonard menyinggung COP30 yang tidak menghasilkan komitmen konkrit untuk
mencapai ambisi menekan pemanasan global tak lebih dari 1,5 derajat Celcius
dibandingkan periode pra-industri. Laporan Greenpeace terakhir justru
menunjukan, ada peningkatan emisi gas rumah kaca yang menjadi sumber pemanasan
global di beberapa negara, termasuk di Indonesia akibat deforestasi.
“COP30 tak membuahkan hasil yang diharapkan,”
katanya.
Menurut
Leonard, COP30 tidak menghasilkan peta jalan yang nyata untuk mengakhiri penggunaan
energi fosil (transitioning away from fossil fuel roadmap) dan
menghentikan deforestasi (halting and reverse deforestation roadmap),
serta peningkatan pendanaan untuk aksi iklim. Padahal COP30 diselenggarakan di
Brasil, negara dengan hutan hujan tropis terbesar di dunia.
“Hasil
tersebut lebih buruk dari COP28 yang berlangsung di Dubai, negara penghasil
minyak, paling tidak ada kalimat transition in away untuk mengakhiri
penggunaan energi fossil,” ujarnya.
Senada, Supervisor Divisi Advokasi Hukum Rakyat Perkumpulan HuMa Bimantara Adjie
Wardhana memandang COP hanya ajang para elit untuk
mempertahankan kepentingan mereka. Ia mengingatkan tentang isu biodiversitas
yang kurang dibahas dalam COP30. Padahal dalam Deklarasi Rio 92 tentang
Lingkungan dan Pembangunan, yang merupakan hasil dari COP15, telah menetapkan
27 prinsip pembangunan berkelanjutan, termasuk pengakuan pentingnya
perlindungan lingkungan sebagai bagian tak terpisahkan dari pembangunan
sosial-ekonomi.
Dalam
konteks biodiversitas, deklarasi ini menjadi landasan lahirnya Konvensi
Keanekaragaman Hayati (Convention on Biological Diversity/CBD) yang
menegaskan hak negara atas sumber daya hayati mereka sekaligus kewajiban untuk
melestarikannya, memanfaatkan secara berkelanjutan, dan membagi manfaatnya
secara adil. “Jangan sampai climate change punya framework sendiri tapi juga
menghancurkan biodiversitas, contohnya di Papua,” tuturnya. (abdul aziz)
.jpg)

.jpg)



.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)

