- Inovasi Hijau Terbaik Januari 2026, dari Rumput Laut hingga Drone Pemadam Kebakaran
- Membaca Ulang Sejarah Maritim Indonesia Lewat Pendekatan Artistik dan Kuratorial Lintas Negara
- Waspada! Polusi Plastik Bisa Menyebabkan Lingkungan Air Jadi Berbahaya
- Ekspresi Cat Air Merayakan Seni Membumi
- Mentan Tegaskan Pers Sebagai Pilar Demokrasi Sekaligus Mitra Swasembada Pangan
- Dua Hari Diet Sederhana Dapat Membantu Menurunkan Kadar Kolesterol Jahat
- Sejatinya Ketahanan Pangan Harus Dibangun, Bukan Tumbuh
- Perusahaan Tambang Pelat Merah Wajib Perkuat Operasional Bertanggung Jawab
- Alarm Keras Bencana Ekologis Batang Toru, Jantung Habitat Orangutan Tapanuli
- Ternyata Mandi di Hutan dapat Menjaga Kesehatan Paru-paru, Begini Penjelasannya
Ekspresi Cat Air Merayakan Seni Membumi

Keterangan Gambar : Konsep Smara Bhumi dengan karya ‘Infinity’, 110 x 200 cm dengan tiga panel kanvas menyatu dan saling berdialog warna, garis, cipratan air pun sabetan-sabetan kuas yang mempesona membentuk gugusan bentuk dan laburan warna eksotis.
SEBUAH pameran dihelat di Balai Budaya, Jakarta pada 1
sampai 8 Februari 2026 yang menggelorakan semangat lukisan cat air dari tiga
puluh satu partisipan perupa dari komunitas Agus Budiyanto Aquarelle Studio
(ABAS) dengan topik Smara Bhumi.
Pameran seni yang rencananya dibuka oleh pencinta seni
Sihaan Farnandes mengeksplorasi karakter istimewa dalam tiap diri pelukis yang
berpartisipasi dengan kekayaan tafsir tentang
konsep Smara-Bhumi yang dijumput dari filosofis Jawa kuno.
Ketua Komunitas ABAS, Agus Budiyanto menyebut bahwa Smara
Bhumi adalah untaian puitika frasa tentang bertemunya keberbedaan, kekuatan
ekspresi yang sangat personal untuk kemudian menyatu dalam kebersamaan
komunitas yang membumi.
Baca Lainnya :
- Garis yang Mencari Ibu0
- Fenomena Sosial Kontemporer dan Mengusik Ketidaksadaran Kolektif Masyarakat0
- Lakon Pandawa Nawasena: Tradisi Wayang Orang dalam Sentuhan Lintas Generasi 0
- HUT ke 24 PD, SBY Melukis Only The Strong Langsung di Hadapan Ratusan Kader Demokrat0
- Tari Topeng Indramayu Tampil Memukau di Osaka Expo 2025 0
“Sebagai pelukis dan ketua komunitas ABAS, saya selalu
memberikan pernyataan bahwa seni adalah menyoal rasa dan kebersamaan. Melukis
sejatinya bukan merekam apa yang kita lihat tapi menuangkan yang dirasakan.
Smara Bhumi diartikan bebas sebagai menangkap bunyi tidak dengan telinga tapi
lebih kepada rasa” ujar Agus menambahkan.
Pengamat seni Bambang Asrini di katalog pameran menyatakan
frasa lengkap Smara Bhumi ada penambahan, yakni Adimanggala. Yakni memberi
makna keindahan dari pertemuan antara kata Smara, yang berarti Cinta dan kata
Bhumi yang artinya selalu merendah, sedekat Tanah atau Bumi yang seolah
manunggal dalam kesatuan.
“Frasa tambahan ini acapkali dirujuk untuk semangat
membangun sosok pemimpin bagi diri sendiri, yang memberikan kasih nan
Agung—Adimanggala-- serta mengayomi sang liyan yang berarti perayaan seni, yang
dimaknai sebagai ketulusan para seniman untuk mendekat pada alam, sesuatu yang
secara kodrati ada dalam diri tiap manusia’’ ungkap Bambang di katalog pameran
tersebut.
Sementara lukisan Agus Budiyanto menuangkan kosep Smara
Bhumi dengan karya ‘Infinity’, 110 x 200 cm dengan tiga panel kanvas menyatu
dan saling berdialog warna, garis, cipratan air pun sabetan-sabetan kuas yang
mempesona membentuk gugusan-gusan bentuk dan laburan warna eksotis.
Pelukis lain yang berpartisipasi, yakni Dumasi Marisina Magdalena Samosir menuturkan topik Smara Bhumi lewat visualisasi semesta samudera luas yang menjadi semboyannya “Saya memahami seni dengan topik yang semata seperti memanjatkan doa. Ungkapan rasa syukur; lautan adalah ruang menemukan damai batin’’ ujarnya.

Dumasi membawa dan mengajak penikmat seni untuk berhenti
sejenak, merasakan keheningan misteri dan keelokan dalam memaknai konsep
tentang lautan dalam jiwa pelukis. Dari tiga karyanya di pameran ini, Dumasi
mempersemahkan karyanya yang apik di ‘Riding the Unseen Currents’, ukuran 56 x
142 cm, yang mana ia mendemonstrasikan kemampuan menyesuaikan judul dengan
gambaran di lukisan saling menyapa dengan berbagai kemungkinan tafsir surreal
dan indah.
Pelukis Erika Enda Ginting membuat lukisan unik berjuluk
‘Owlish Presence’, berukuran mungil 38 x56 cm, yang katanya ia mengaku’, “saya
menekankan keseimbangan antara kendali dan ketidakterdugaan selain membiarkan
medium berbicara melalui aliran, waktu, dan kebetulan-kebetulan dengan teknik
cat air kering dan basah” katanya.
Partisipan seniman lain, kita berjumpa Syiska Diranti
Ventia. Ia mengakui bahwa pengalaman melukisnya dengan cat air memberikan kesan
mendalam dalam mengekspresikan diri dengan menciptakan momen. Sebagai apa yang
ia yakini juga mengontrol karakter air dan mengamati indahnya pigmen warna yang
bertaburan bercampur di atas kertas bersifat adiktif sekaligus menenangkan.
Karya Syiska itu, dalam ‘Whisper in Bloom’, 75x56cm,
mengingat satu konsep fundamen yang ia pegang bahwa ia berbicara melalui warna
dan bentuk disaat kata tidak bisa terucap. Sepertinya sesuai dengan hati
perempuan yang berbicara layaknya bunga tatkala dua perempuan sejiwa saling
menyapa.
Partisipan lain, Umi Haksami, pelukis senior sekaligus Ketua
Indonesian Water Color Society (IWS) pada 2014 dengan lukisan ‘Light of The
Day’, ukuran 110 x 80 cm adalah karya satu-satunya, yang memanjakan sensifitas
skill, pengalaman-pengalaman inderawi menyoal cat air dan hidup, serta
kompleksitas visualisasi sebab jam terbang yang tinggi sebagai seniman.
Umi mendemostrasikan, tak banyak cakap, secara visual ia
berceloteh, seakan bercengkerama bagaimana sebuah hari memendarkan cahaya
warna, bidang-bidang yang bertemu, sebuah hari yang penuh semangat seolah
menyongsong Tahun Baru 2026.
Pelukis Yulian Sodri, karyanya menyerupai pilihan seorang
fotografer, yang merekam peristiwa, dan ini bisa kita rasakan pun saksikan
secara langsung pada karya Yulian Sodri.
Dalam pameran ini, Yulian mempersentasikan satu-satunya
karyanya yakni ‘Never Look Away’ dengan ukuran 76 x 56 cm yang baginya membuat
lansekap alam, seperti diyakini bahwa tiap ia menuntaskan sebuah karya lukis
terutama untuk objek alam, ia sedang berada dalam lukisan tersebut, yang
membuat kedamaian merebak di hatinya.
Pameran kali ini juga memunculkan kehadiran bankir yang
melukis, dan dalam beberapa tahun ini bertransformasi menjadi pelukis yang
cukup handal, yakni Vera Eve Lim, yang dalam karya sesuai dengan yang dilakoni
yakni ‘Unstoppable’, ukuran 112 x 76 cm ia memilih menyesuaikan dengan karakter
mentornya, Agus Budiyanto di ABAS.
Vera memilih sentuhan dua karya yang cukup peka dan elok di
pameran dengan mengaku, ”saya melakoni ‘menyelam dalam-dalam, meraup cukup
feeling menuaikan apa dan bagaimana karakter cat’ serta tak lupa: mengaduk
emosi tentang jedah ruang, minimalisir sabetan, ritme goresan tertentu pada
kertas yang membentuk apa yang dsebut harmoni” ujarnya.
Selengkapnya partisipan pameran adalah Agus Budiyanto,
Chesna Anwar, Dumasi Marisina Magdalena Samosir, Niken Vijayanti, Diit Maya
Paksi, Dyah Prasetyorini, Ernani Hastuti, Baskoro Sardadi, Syiska Diranti
Ventia, Tianty Trisna Dewi, Umi Haksami, Ratu Iqlima, Erika Enda Ginting, Dian
Fitrasari, Susy Liestiowaty, Hedy Lapian, Yulian Sodri, Aviliani, Michelina Tri
Wardhany, Venny Jokowidjaja, Devayanti A Wulaningtyas, Basrie Kamba, Regina
Busono, Helena Virginia gunario, Sri Wahyuni, Vasundara Sur, Vera Eve Liem,
Cindy A Budiono, Indrawati Halim, Shanti Surya dan Lita Husain.
Sebuah pameran bersama dengan partisipan yang banyak, memang
sejatinya memberi pesan tentang keberbedaan karakter dalam tiap diri pelukis
yang berpartisipasi, saat sama membangun pesona saling dukung dalam
kebersamaan.
Topik pameran bersama berjuluk Smara-Bhumi yang dijumput
dari filosofis Jawa kuno itu semoga membuka gerbang keelokan tahun 2026. Tahun
anyar saling berbagi semangat untuk para perupa di komunitas seni Agus
Budiyanto Aquarelle Studio (ABAS) dan seluruh warga seni di Tanah Air, bahwa
keindahan mengusung kebhinekaan adalah keniscayaan yang menyatu dalam merayakan
seni membumi.
.jpg)
1.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)


.jpg)

.jpg)

